NEWSPENDIDIKAN

Begini Cara Maksimalkan ChatGPT untuk Mengajar dan Riset Akademik

BritaBrita.com-Pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan tinggi terus mengalami perkembangan pesat. Namun, penggunaan AI seperti ChatGPT tidak cukup hanya dengan memberikan perintah sederhana. Diperlukan teknik prompting yang tepat agar hasil yang diperoleh benar-benar relevan, akurat, dan bermanfaat bagi kebutuhan akademik. Hal tersebut menjadi fokus utama dalam webinar demo ChatGPT yang menghadirkan Hadi Muttaqin, praktisi AI dan pendiri Potensia Akademi dari sesi webinar baru-baru ini.

Dalam kegiatan tersebut, Hadi Muttaqin menjelaskan bahwa banyak dosen telah memanfaatkan ChatGPT untuk membantu penyusunan bahan ajar, penelitian, hingga publikasi ilmiah. Namun, tidak sedikit pengguna yang masih belum memahami cara memberikan instruksi yang efektif kepada AI sehingga hasil yang diperoleh sering kali kurang maksimal.

Menurutnya, kunci utama penggunaan ChatGPT terletak pada teknik prompting. Ia menjelaskan bahwa terdapat lima komponen penting yang harus dimasukkan dalam sebuah prompt. Komponen pertama adalah peran (role), yaitu menentukan ChatGPT harus bertindak sebagai apa. Misalnya sebagai desainer instruksional saat menyusun bahan ajar, sebagai desainer presentasi ketika membuat slide pembelajaran, atau sebagai asisten peneliti saat membantu proses riset.

Komponen kedua adalah tugas (task) yang menjelaskan secara spesifik pekerjaan yang harus dikerjakan AI. Selanjutnya adalah konteks (context) yang berfungsi memberikan latar belakang agar AI memahami situasi dan kebutuhan pengguna. Sebagai contoh, ketika menyusun Rencana Pembelajaran Semester (RPS), pengguna perlu menjelaskan program studi, semester, mata kuliah, hingga mata kuliah prasyarat yang berkaitan.

Komponen berikutnya adalah format output, yaitu bentuk hasil yang diinginkan. Jika pengguna memerlukan tabel RPS, maka format tersebut harus dijelaskan secara rinci, termasuk kolom-kolom yang dibutuhkan. Sementara komponen terakhir adalah batasan (constraint) yang berfungsi mengurangi risiko munculnya informasi keliru atau halusinasi AI, misalnya dengan meminta sumber yang dapat diverifikasi atau artikel yang terindeks pada basis data tertentu.

Baca Juga  Jalan Tol Prabumulih-Muaraenim Jadi Prioritas Nasional 2026. Akan Segera Dilanjutkan !

Selain lima komponen tersebut, pemateri juga memperkenalkan empat teknik prompting yang dinilai efektif dalam pekerjaan akademik. Teknik pertama adalah role prompting, yaitu memberikan peran tertentu kepada AI agar menghasilkan jawaban lebih mendalam dan spesifik. Teknik kedua adalah step-by-step prompting, yaitu membagi pekerjaan besar menjadi tahapan yang lebih rinci dan sistematis. Teknik ketiga adalah few-shot prompting, yaitu memberikan contoh agar AI mengikuti pola yang diinginkan. Sedangkan teknik keempat adalah constraint prompting, yaitu menetapkan batasan tertentu pada hasil yang dihasilkan AI.

Dalam sesi praktik, Hadi Muttaqin menunjukkan bagaimana ChatGPT dapat digunakan untuk menyusun RPS berbasis Outcome Based Education (OBE). Ia menekankan bahwa dosen tidak seharusnya langsung meminta AI membuat RPS lengkap dalam satu perintah. Proses yang benar adalah dilakukan secara bertahap, dimulai dari identifikasi mata kuliah, penyusunan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), penurunan menjadi Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), penyusunan sub-CPMK, hingga perancangan asesmen dan rubrik penilaian.

Ia juga menyarankan agar setiap hasil yang dihasilkan AI selalu ditinjau kembali secara kritis. Menurutnya, ChatGPT dirancang untuk membantu dan menyenangkan pengguna sehingga terkadang menghasilkan jawaban yang tampak meyakinkan namun belum tentu akurat. Oleh sebab itu, pengguna perlu membiasakan memberikan instruksi seperti “lakukan review secara kritis”, “analisis secara komprehensif”, atau “berikan revisi berdasarkan standar tertentu”.

Baca Juga  Ini 25 Merek Beras Fortifikasi yang Ditarik!

Tidak hanya untuk pembelajaran, webinar tersebut juga membahas pemanfaatan AI dalam penelitian akademik. Dalam konteks riset, pemateri menegaskan bahwa peneliti tidak boleh bergantung hanya pada satu platform AI. Sebaliknya, diperlukan pendekatan multi-platform dengan mengombinasikan ChatGPT bersama alat lain seperti Elicit, Consensus, dan Research Rabbit untuk memperoleh hasil yang lebih valid dan dapat diverifikasi.

Salah satu strategi yang diperkenalkan adalah penggunaan fitur Project pada ChatGPT. Fitur ini memungkinkan dosen mengelompokkan pekerjaan berdasarkan topik tertentu, seperti proyek penelitian atau pengembangan mata kuliah. Dengan demikian, seluruh percakapan, dokumen, dan instruksi yang terkait akan tersimpan dalam satu ruang kerja yang terorganisasi.

Dalam proses penelitian, ChatGPT digunakan sebagai asisten untuk membantu eksplorasi topik, menemukan fenomena penelitian, mengidentifikasi research gap, menyusun pertanyaan penelitian, serta memetakan literatur. Namun, seluruh hasil tetap harus diverifikasi oleh peneliti. Bahkan pemateri menyarankan adanya Standard Operating Procedure (SOP) penggunaan AI dalam riset agar peran manusia tetap dominan dalam proses ilmiah.

Menutup webinar, moderator menegaskan bahwa ChatGPT bukanlah pengganti dosen atau peneliti. Teknologi tersebut hanya berfungsi sebagai alat pendukung yang dapat mempercepat pekerjaan akademik. Keputusan akhir, evaluasi, serta tanggung jawab ilmiah tetap berada di tangan manusia. Dengan memahami teknik prompting yang tepat, dosen dapat memanfaatkan AI secara lebih efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, penelitian, dan publikasi ilmiah.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button