KESEHATAN

Asal Usul Psikologi Kepribadian: Antara Ilmu Barat dan Pandangan Islam

Oleh: Bangun Lubis – Social Worker

Sejak zaman kuno, manusia selalu bertanya: “Mengapa aku berbeda dari orang lain?” Ada yang tenang, ada yang mudah marah; ada yang sabar, ada yang gelisah.

Pertanyaan inilah yang menjadi benih lahirnya psikologi kepribadian, sebuah cabang ilmu yang berusaha memahami siapa diri kita, bagaimana jiwa bekerja, dan bagaimana manusia dapat hidup lebih baik.

Psikologi kepribadian bukan sekadar teori akademik, tetapi juga alat untuk menganalisis masalah hidup, mencari jalan keluar, dan menemukan kedamaian batin. Di satu sisi, para ilmuwan Barat berusaha menjelaskannya melalui teori sifat, motivasi, atau konflik batin. Di sisi lain, ulama Islam sejak lama telah membicarakan tentang *nafs, qalb,* dan *ruh* sebagai inti kepribadian manusia.

Psikologi Kepribadian dalam Tradisi Ilmiah Barat

1. **Sigmund Freud (1856–1939)** – *Psikoanalisis*

Freud melihat manusia digerakkan oleh dorongan bawah sadar. Ia membagi kepribadian dalam tiga sistem:

* **Id** → naluri dan hasrat biologis.

* **Ego** → penengah dengan realitas.

* **Superego** → suara hati dan nilai moral.

Baginya, banyak masalah psikologis muncul dari konflik antara tiga unsur ini.

Kutipan Freud yang terkenal:

Man is not master of his own house.”(Manusia bukan penguasa penuh atas dirinya sendiri).

 

2. Carl Jung (1875–1961)** – Psikologi Analitik

Jung memperkenalkan konsep **introvert** dan **ekstrovert**, serta gagasan tentang *collective unconscious*—warisan psikologis yang dimiliki seluruh umat manusia.

3. Alfred Adler (1870–1937) – Psikologi Individual

Adler menekankan peran *perasaan inferior* dan perjuangan untuk meraih keunggulan. Menurutnya, kepribadian terbentuk dari usaha seseorang mengatasi kelemahan dirinya.

Baca Juga  Rahasia Menu Sehat untuk Usia Lanjut: Sederhana, Murah, dan Menyelamatkan

4. Humanistik: Abraham Maslow dan Carl Rogers

* Maslow terkenal dengan teori **hierarki kebutuhan**, dengan puncaknya adalah *aktualisasi diri*.

* Rogers menekankan pentingnya *penerimaan tanpa syarat* (unconditional positive regard) agar manusia tumbuh sehat secara psikologis.

5. Psikologi Sifat dan Big Five

Teori modern menyederhanakan kepribadian dalam lima dimensi besar (OCEAN):

* **Openness** (keterbukaan),

* **Conscientiousness** (ketaatan),

* **Extraversion** (keterbukaan sosial),

* **Agreeableness** (keramahan),

* **Neuroticism** (kestabilan emosi).

Model ini banyak dipakai dalam penelitian, konseling, hingga rekrutmen kerja.

Fungsi Psikologi Kepribadian

Psikologi kepribadian bukan hanya kajian teoritis, tetapi memberi manfaat nyata:

* **Mengenali diri sendiri**: memahami potensi dan kelemahan.

* **Menganalisis masalah**: mengapa seseorang cemas, depresi, atau mudah marah.

* **Memberikan solusi**: lewat konseling, terapi, atau pembinaan mental.

* **Meningkatkan kualitas hidup**: membantu orang menjadi lebih sehat mental, produktif, dan bahagia.

Psikologi Kepribadian dalam Pandangan Islam

Islam jauh lebih awal membicarakan tentang jiwa. Dalam Al-Qur’an dan hadis, ditemukan konsep yang amat dalam tentang nafs, qalb, akal, dan ruh sebagai inti kepribadian manusia.

1. Al-Qur’an tentang Jiwa

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan…”(QS. Yusuf: 53).

“Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu menyesali (diri).” (QS. Al-Qiyamah: 2).

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu…” (QS. Al-Fajr: 27–30).

Dari sini, para ulama menyimpulkan ada tiga tingkat jiwa:

Al-Nafs al-Ammarah* (jiwa rendah yang cenderung pada dosa).

Al-Nafs al-Lawwama* (jiwa yang menyesali kesalahan).

Al-Nafs al-Muthma’innah* (jiwa yang damai dan dekat dengan Allah).

Baca Juga  Kebiasaan Malam Sederhana yang Efektif Menjaga Gula Darah Tetap Stabil

2. Imam Al-Ghazali (1058–1111)

Dalam Ihya Ulumuddin, ia menulis bahwa hati (qalb) adalah pusat kepribadian. Jika hati baik, seluruh kepribadian akan baik. Jika hati rusak, maka rusaklah perilaku manusia.

3. Ibnu Sina (980–1037)

Selain dikenal sebagai dokter, ia juga menekankan bahwa kepribadian sehat lahir dari keseimbangan antara tubuh, akal, dan moral.

4. Psikologi Islam Modern

Malik Badri (1932–2021) menegaskan perlunya psikologi Islam yang tidak hanya meniru Barat, tetapi berlandaskan wahyu. Ia menyebut: “Sehat mental dalam Islam adalah sehat iman.”

Integrasi Barat dan Islam

Psikologi Barat banyak memberikan alat ukur, teori, dan metode konseling. Tetapi psikologi Islam menambahkan dimensi ruhani: dzikir, doa, taubat, sabar, syukur, serta muhasabah diri.

Gabungan keduanya menjadikan psikologi kepribadian tidak hanya membahas “mengapa saya cemas”, tetapi juga “bagaimana saya mendekat kepada Allah agar hati tenang.”

Psikologi kepribadian lahir dari kegelisahan manusia untuk memahami dirinya. Para ilmuwan Barat menjelaskannya lewat teori sifat, konflik batin, hingga aktualisasi diri. Para ulama Islam mengajarkannya melalui konsep nafs, qalb, dan ruh yang berorientasi pada Allah.

Keduanya sama-sama berusaha memberi jalan agar manusia hidup lebih baik. Namun, Islam menegaskan bahwa puncak kepribadian sejati adalah ketika jiwa kembali kepada Tuhannya dengan damai.

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”* (QS. Al-Fajr: 27–30).

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button