Maju Kena Mundur Kena

Penulis: Albar Sentosa Subari – Dewan Pakar Bakti Persada Masyarakat Sumatera Selatan.
Judul artikel kita sekali ini seperti selogan pepatah lama. Yang menggambarkan situasi sulit di dalam sebuah keputusan. Namun harus diputuskan tapi tetap berisiko.
Situasi seperti ini bukanlah merupakan suatu cerita fiksi, tapi nyata adanya.
Tulisan ini terinspirasi dari peristiwa penganiayaan yang berakibat matinya seorang sebagai korban kejahatan.
Seorang supir truk yang berasal dari provinsi Lampung menjadi korban pemalakan di persimpangan jalan lampu merah macan lindungan.
Peristiwa tersebut terjadi pada Senin malam 24 November 25.
Peristiwa seperti tersebut bukanlah tindak Kejahatan yang pertama kali, namun sudah berulang kali, dan sasaran nya adalah supir truk yang sedang stop menunggu pengaturan lalu lintas. Saat lampu merah mereka melakukan tindak pidana.
Kenapa judul tulisan ini berbunyi ” Maju Kena Mundur Kena.
Penulis maksud kan adalah kalau seorang supir tetap menjalankan kenderaan nya ( melanggar lalu lintas) selain merupakan pelanggaran tetapi juga mungkin menimbulkan kecelakaan.
Kalau berhenti patuh dengan peraturan lalu lintas akibatnya kena menjadi sasaran tindak pidana para pelaku begal ( pemerasan).
Solusinya tidak lain di kawasan tersebut sudah saat dibangun jembatan layang, mengingatkan arus di sana cukup ramai ( lima persimpangan), dan sekarang sudah berdiri sebuah rumah sakit. Tentu ini menambah persoalan persoalan hukum dan sosial.
[25/11, 05.33] Albar Sentosa Subari Unsri: Selain itu juga tingkat kemacetan cukup tinggi. Mobilitas masyarakat di lokasi sangat ramai contoh ada para penjaja makanan dan minuman membaur menjadi satu sehingga sulit mendeteksi nya.
Di samping itu pula jalan sudah dirasakan tidak mampu lagi menampung lalu lintas kenderaan.
Kondisi budaya kita di Indonesia berbeda dengan kondisi di negara tetangga. Di Malaysia dan Singapura walaupun tengah malam kondisi tetap aman. Tidak takut ada kejahatan. Sehingga mereka tertib dalam kehidupan sehari-hari nya.(*)



