Oleh: Haikal Saputra (NPM: 2301110100).
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang.
TIGA detik. Hanya itulah waktu yang dimiliki sebuah konten untuk mencuri perhatian Anda sebelum jempol kita bergerak refleks ke atas.mencari stimulus berikutnya. Di tahun 2026 ini, kita hidup di era di mana rata-rata durasi perhatian (attention span) manusia telah menyusut menjadi lebih pendek dari ikan mas. Bukan lebay, bukan drama, ini temuan nyata yang kini mulai mengkhawatirkan para peneliti, pendidik, hingga psikolog di seluruh dunia.
Scroll. Scroll. Scroll. Inilah ritual baru anak muda Indonesia hari ini. TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, platform-platform raksasa ini berlomba-lomba menyajikan konten dalam format paling singkat, paling mengejutkan, dan paling adiktif. Dan kita, tanpa sadar, telah menjadi budak dari algoritma yang dirancang oleh orang-orang paling cerdas di Silicon Valley untuk membuat kita tidak bisa berhenti.
Bayangkan otak manusia seperti otot. Semakin sering ia dilatih membaca teks panjang, menganalisis argumen kompleks, atau menyelesaikan masalah berlapis, semakin kuat kemampuannya. Tapi apa yang terjadi jika ia hanya diberi makan konten 15 detik setiap hari, terus-menerus, selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun?
Sebuah studi dari Universitas California, Berkeley yang dirilis awal 2026 menemukan fakta mengejutkan mahasiswa yang mengonsumsi short-form content lebih dari 4 jam per hari mengalami penurunan kemampuan membaca teks panjang hingga 40 persen dibanding generasi sebelumnya. Mereka kesulitan menyelesaikan artikel di atas 500 kata, apalagi membaca buku. Otak mereka, secara harfiah, telah terbiasa dengan kepuasan instan dan mulai menolak proses berpikir yang lambat dan mendalam.
Di Indonesia, kondisinya tak jauh berbeda. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2025 menunjukkan bahwa pengguna internet aktif di Indonesia mencapai 221 juta jiwa, dengan lebih dari 60 persen di antaranya adalah generasi muda berusia 13–29 tahun. Dan platform yang paling banyak dikonsumsi? TikTok, dengan rata-rata penggunaan 3,8 jam per hari.
Dopamin, Si Penipu Manis
Mengapa kita tidak bisa berhenti scroll meskipun sudah tahu itu merugikan? Jawabannya ada di dalam kepala kita sendiri, dopamin. Setiap kali kita menemukan video lucu, konten mengejutkan, atau meme yang relatable, otak melepaskan dopamin neurotransmiter yang memicu rasa senang dan kepuasan. Platform media sosial tahu persis cara memicunya.
Algoritma TikTok, misalnya, dirancang dengan kecerdasan buatan yang mampu mempelajari preferensi pengguna hanya dalam hitungan menit. Ia tahu kapan kamu bosan, kapan kamu tertarik, bahkan kapan kamu hampir mau menaruh handphone dan tepat di momen itu, ia menyajikan video yang paling mungkin membuatmu bertahan. Ini bukan kebetulan. Ini adalah rekayasa perilaku yang sangat canggih.
Ironisnya, semakin sering kita mendapatkan lonjakan dopamin kecil dari konten pendek, semakin kita membutuhkan stimulasi lebih besar untuk merasakan kepuasan yang sama. Akibatnya, hal-hal yang dulu menarik membaca novel, menyelesaikan tugas kuliah, bahkan ngobrol dengan teman, terasa membosankan dan menyiksa. Ini persis pola yang sama dengan kecanduan.
Ruang Kelas vs Ruang FYP
Seorang dosen di Universitas Tridinanti bercerita kepada saya tentang fenomena yang kini marak di ruang kelas mahasiswa duduk di bangku kuliah, tapi pikirannya ada di FYP (For You Page). Mereka tidak bisa fokus mendengarkan kuliah lebih dari 10 menit tanpa memeriksa handphone. Tugas yang seharusnya dikerjakan dalam satu jam, terseret menjadi tiga jam karena terus-menerus teralihkan.
Bukan salah mahasiswanya sepenuhnya. Sistem pendidikan kita memang belum cukup adaptif. Di satu sisi, kita meminta siswa duduk diam mendengarkan ceramah 90 menit, sementara di sisi lain, dunia digital menawarkan hiburan tanpa batas yang dipersonalisasi untuk setiap individu. Siapa yang mau bersaing dengan itu?
Namun bukan berarti kita menyerah. Justru di sinilah letak tantangan terbesar kita sebagai generasi yang hidup di persimpangan antara dunia analog dan digital: bagaimana kita memanfaatkan teknologi tanpa menjadi budaknya?
Bukan Anti Teknologi, Tapi Pro Kesadaran
Penulis tidak bermaksud menghakimi siapa pun yang suka scroll. Saya sendiri tidak bebas dari kebiasaan ini. Tapi ada perbedaan besar antara menggunakan media sosial secara sadar dan terjebak dalam lingkaran scroll tanpa tujuan hingga lupa waktu, lupa belajar, lupa berinteraksi secara nyata.
Di negara-negara maju, gerakan “digital detox” dan “slow media” tengah populer. Orang-orang mulai menyadari bahwa kecepatan bukan segalanya—ada nilai dalam membaca lambat, berpikir dalam, dan benar-benar hadir di momen saat ini. Di Finlandia, sekolah-sekolah bahkan mulai mengajarkan “literasi digital emosional” sejak usia dini: mengajarkan anak-anak bukan hanya cara menggunakan gadget, tapi bagaimana mengelola hubungan mereka dengan teknologi secara sehat.
Indonesia perlu menempuh langkah serupa. Literasi digital yang kita ajarkan selama ini baru sebatas cara pakai.cara buat konten, cara hindari hoaks. Padahal yang lebih mendesak adalah mengajarkan generasi muda bagaimana memilih secara sadar apa yang mereka konsumsi, kapan mereka berhenti, dan mengapa mereka melakukannya.
Solusi Bukan di Tangan Platform, Tapi di Tangan Kita
Jangan berharap TikTok atau Meta akan membatasi diri sendiri demi kesehatan mental penggunanya—bisnis mereka justru bergantung pada lamanya waktu yang kita habiskan di platform mereka. Maka tanggung jawab ada pada kita: individu, keluarga, institusi pendidikan, dan pemerintah.
Beberapa langkah konkret yang bisa dimulai hari ini:
1. Tetapkan “jam bebas layar” minimal 1 jam sebelum tidur. Ini bukan sekadar saran kesehatan—ini adalah latihan untuk mengembalikan kendali atas perhatian kita sendiri.
2. Biasakan membaca satu artikel atau bab buku per hari, secara penuh dan tanpa distraksi. Ini seperti olahraga bagi kemampuan fokus otak.
3. Aktifkan fitur Screen Time di HP dan beri diri sendiri batas penggunaan media sosial bukan karena terpaksa, tapi karena kita menghargai waktu kita.
4. Para pendidik perlu berinovasi: bukan berarti semua kuliah harus jadi konten TikTok, tapi metode pembelajaran harus lebih interaktif, dialogis, dan relevan dengan realita anak muda.
5. Pemerintah perlu mendorong regulasi platform digital yang lebih bertanggung jawab, seperti pembatasan konten adiktif untuk pengguna di bawah 18 tahun kebijakan yang sudah mulai diterapkan di Australia dan Inggris sejak 2025.
Penutup: Scroll atau Tumbuh?
Kita adalah generasi yang paling terhubung sepanjang sejarah manusia namun paradoksnya, juga paling mudah kehilangan fokus. Kita bisa mengakses informasi apapun dalam hitungan detik, tapi semakin sulit duduk diam dan benar-benar memikirkan sesuatu secara mendalam.
Generasi Scroll bukan kutukan. Ini adalah panggilan untuk sadar. Teknologi adalah alat secanggih apapun pisau, yang menentukan apakah ia menjadi senjata atau instrumen memasak adalah tangan yang memegangnya. Kita masih punya pilihan membiarkan algoritma. yang menentukan siapa kita, atau kita yang memutuskan bagaimana kita tumbuh.
Mulailah dengan hal kecil. Besok pagi, sebelum membuka TikTok, coba tanyakan. *



