ARTIKELOPINI

Pasar 16 Ilir dan Tantangan Modernisasi Perdagangan di Palembang

​"Pasar tradisional bukan hanya tempat transaksi ekonomi, tetapi juga ruang interaksi sosial masyarakat.”

Oleh: Nadira Dwita Anggraini (NPM: 230110083).

(Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Tridinanti Palembang)

PERNYATAAN ekonom Mubyarto ini menegaskan bahwa pasar tradisional adalah fondasi ekonomi rakyat. Ia bukan sekadar tempat berputarnya uang, melainkan ruang hidup bagi masyarakat kelas bawah untuk bertahan dan bertumbuh.

​Di Kota Palembang, denyut nadi perekonomian itu berpusat di Pasar 16 Ilir. Sebagai ikon perdagangan legendaris, kawasan ini hampir tak pernah tidur. Setiap hari, ribuan orang berjejal mencari kebutuhan rumah tangga, pakaian, hingga kuliner. Bagi masyarakat Palembang, Pasar 16 Ilir bukan sekadar tempat jual-beli biasa. Ia adalah identitas sosiologis dan ekonomi yang telah hidup selama puluhan tahun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palembang pun mengonfirmasi hal ini, di mana sektor perdagangan tetap menjadi salah satu penopang utama aktivitas ekonomi perkotaan.

​Bagi wong cilik, Pasar 16 Ilir adalah gantungan hidup. Ribuan keluarga mulai dari pedagang pakaian, penjual sembako, pedagang kaki lima (PKL), jasa angkut (buruh panggul), hingga sopir angkutan umum, menyambung napas dapur mereka dari sini. Dari lapak-lapak sederhana inilah, banyak orang tua mampu menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke perguruan tinggi.

Sebagian masyarakat juga masih menganggap pasar tradisional memiliki keunggulan yang sulit digantikan oleh pusat perbelanjaan modern. Interaksi sosial antara penjual dan pembeli terasa lebih dekat dan akrab. Sistem tawar menawar yang menjadi ciri khas pasar tradisional menciptakan hubungan sosial yang lebih hangat dibanding transaksi di pusat perbelanjaan modern yang cenderung formal dan individual.

Baca Juga  QRIS Mendunia: Manifestasi Kedaulatan Ekonomi Digital Indonesia di Panggung Global

Penelitian dalam Jurnal Ekonomi dan Bisnis Universitas Sriwijaya menjelaskan bahwa pasar tradisional tetap memiliki daya tarik sosial dan budaya yang kuat karena menciptakan hubungan langsung antara pedagang dan pembeli. Pasar tradisional bukan hanya ruang ekonomi, tetapi juga ruang sosial masyarakat perkotaan.

Namun demikian, dari sudut pandang masyarakat lain, modernisasi pasar tradisional menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Banyak pengunjung berharap Pasar 16 Ilir memiliki fasilitas yang lebih bersih, aman, nyaman, dan tertata seperti pusat perbelanjaan modern. Kondisi pasar yang terlalu padat, becek ketika hujan, dan kurang tertata membuat sebagian masyarakat mulai beralih ke minimarket dan pusat perbelanjaan modern.

Pemberitaan Sumatera Ekspres dan Tribun Sumsel menyoroti bahwa persoalan kebersihan, kemacetan, penataan pedagang, dan parkir liar masih menjadi tantangan utama di kawasan Pasar 16 Ilir. Persoalan tersebut sering menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengunjung, terutama pada jam sibuk.

Sebagian masyarakat menilai kondisi pasar yang semrawut perlahan mulai mengurangi minat masyarakat untuk berbelanja langsung di pasar tradisional. Kehadiran platform belanja online juga membuat pola konsumsi masyarakat berubah menjadi lebih praktis dan cepat.

Dari sisi pedagang, perubahan tersebut sering dianggap sebagai ancaman serius. Banyak pedagang kecil mulai merasa kesulitan bersaing dengan toko modern dan platform digital yang menawarkan fasilitas lebih nyaman, promosi besar, dan sistem pembayaran yang lebih praktis. Tidak sedikit pedagang yang mengeluhkan menurunnya jumlah pembeli dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Baca Juga  Dilema Inflasi di Indonesia: Ketika Kenaikan Harga Menggerus Daya Beli Rakyat

Akan tetapi, sebagian masyarakat lain justru melihat modernisasi pasar tradisional sebagai peluang agar pasar rakyat tetap mampu bertahan mengikuti perkembangan zaman. Penataan area parkir, sistem kebersihan, digitalisasi pembayaran, serta pengelolaan pasar yang lebih tertib dianggap dapat meningkatkan daya saing pasar tradisional tanpa harus menghilangkan identitas lokalnya.

Penelitian dalam Jurnal Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian UGM menjelaskan bahwa modernisasi pasar tradisional dapat meningkatkan kenyamanan masyarakat tanpa harus menghilangkan karakter utama pasar rakyat sebagai ruang ekonomi lokal.

Selain itu, digitalisasi juga dapat menjadi solusi bagi pedagang tradisional agar mampu mengikuti perkembangan zaman. Pelatihan penggunaan media sosial, pemasaran digital, dan pembayaran non tunai dapat membantu pedagang memperluas pasar mereka tanpa harus kehilangan pelanggan lama.

Pemerintah Kota Palembang sebenarnya memiliki peluang besar menjadikan Pasar 16 Ilir sebagai pasar tradisional modern yang tetap mempertahankan nilai budaya lokal. Penataan kawasan, peningkatan fasilitas umum, pengelolaan sampah, dan pembinaan UMKM dapat membantu menciptakan pasar yang lebih nyaman bagi masyarakat.

Pada akhirnya, Pasar 16 Ilir bukan sekadar tempat jual beli, tetapi bagian penting dari kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Palembang. Modernisasi yang tepat dapat membuat pasar tradisional tetap hidup dan berkembang tanpa kehilangan nilai budaya dan identitas lokal yang dimilikinya. *

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button