Oleh: Nadia Liza Adelia (NPM: 2401110010)
Mahasiswi Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, (FEB) Universitas Tridinanti Palembang.
NILAI tukar rupiah bukan sekadar angka di papan pergerakan saham, melainkan indikator krusial yang mencerminkan kesehatan fundamental ekonomi Indonesia. Belakangan ini, publik dikejutkan oleh pelemahan rupiah yang sangat signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus level psikologis baru, yakni Rp17.845 per dolar AS. Angka ini memicu alarm kewaspadaan karena efek dominonya langsung menghantam hajat hidup orang banyak: mulai dari lonjakan harga barang impor, pembengkakan biaya produksi, ancaman inflasi, hingga merosotnya daya beli masyarakat.
Dalam kacamata ilmu ekonomi, dampak dari depresiasi mata uang ini tidak mengenal sekat wilayah. Warga kota maupun warga desa sama-sama terjepit oleh biaya hidup yang kian melambung. Fenomena ini membawa risiko nyata bagi penurunan kelas menengah (middle-class squeeze). Contoh paling sederhana adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dan pangan. Komoditas yang terus merangkak naik ini perlahan tapi pasti menggerus tabungan dan dompet kelas menengah, kelompok yang selama ini menjadi motor utama konsumsi domestik.
Secara garis besar, pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal (global) dan internal (domestik). Di ranah global, kebijakan suku bunga tinggi Bank Sentral AS (The Fed) yang bertahan di level 5,25%–5,50% memicu fenomena capital outflow (aliran modal keluar). Investor global cenderung memindahkan aset mereka kembali ke AS yang dinilai sebagai safe haven. Tekanan ini diperparah oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang melambungkan harga minyak mentah dunia hingga sempat melewati 85 dolar AS per barel, sebuah pukulan telak bagi Indonesia yang berstatus sebagai negara importir minyak (net oil importer).
Sementara dari dalam negeri, kondisi ini diperberat oleh defisit neraca transaksi berjalan akibat tingginya ketergantungan pada bahan baku impor, serta beban pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo.
Pelemahan rupiah sepanjang Mei 2026 dinilai tidak terjadi secara terpisah. Tekanan serupa dialami sejumlah mata uang negara berkembang dan kawasan Asia akibat meningkatnya tekanan global. Salah satu faktor utama berasal dari penguatan dolar AS global. Permintaan terhadap aset berbasis dolar meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi dunia sehingga investor cenderung memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Selain itu, kenaikan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah ikut memberi tekanan tambahan terhadap negara importir energi, termasuk melalui kebutuhan devisa yang meningkat. Faktor lainnya berasal dari ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat yang mendorong arus modal asing keluar dari pasar berkembang menuju aset dolar.
Kombinasi faktor tersebut membuat tekanan tidak hanya terjadi terhadap rupiah, tetapi juga sejumlah mata uang Asia lainnya. Kondisi ini dinilai lebih mencerminkan gejolak eksternal global dibanding persoalan domestik semata.
Dampak signifikan yang akan dihadapi
Kenaikan nilai dollar Amerika Serikat memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian masyarakat Indonesia, salah satunya adalah peningkatan harga impor. Setidaknya ada dua barang impor yang menjadi komoditas utama bagi masyarakat Indonesia, yaitu minyak mentah (petroleum) untuk bahan baku bahan bakar minyak dan beras.
Pelemahan rupiah juga dapat berdampak negatif pada kinerja pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor. Misalnya industri farmasi petrokimia, makanan dan minuman, hingga tekstil.Selain itu, kenaikan nilai dollar juga dapat mempengaruhi sektor ekspor Indonesia. Meskipun pada dasarnya bisa meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia, karena harganya menjadi lebih kompetitif di pasar internasional, tetapi hal itu dapat mengurangi margin keuntungan para produsen dalam negeri.
Jika dolar terus menguat dan rupiah terus melemah hingga di atas Rp17.845 per dolar AS, risiko utama yang perlu diwaspadai adalah kenaikan harga barang, inflasi, melemahnya daya beli masyarakat, serta meningkatnya beban utang luar negeri. Namun sektor ekspor dan pelaku usaha yang menerima pendapatan dalam dolar dapat memperoleh keuntungan dari kondisi tersebut.
Salah satu strategi jangka menengah yang krusial adalah penguatan sektor ekspor. Pemerintah harus mendorong proses hilirisasi industri, meningkatkan nilai tambah dari komoditas lokal, serta memperluas akses ke pasar internasional yang baru. Di samping itu, upaya substitusi impor juga memainkan peran penting. Indonesia perlu membangun kapasitas industri nasional guna menggantikan ketergantungan pada produk impor, terutama di bidang pangan, energi, dan manufaktur Bank Indonesia (BI) memegang peran penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Saat rupiah mengalami pelemahan, BI dapat merespons dengan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) guna menarik masuknya investasi portofolio dari luar negeri. Kendati kebijakan ini bisa memberikan tekanan pada sektor riil, upaya menstabilkan nilai rupiah tetap menjadi fokus utama, terutama di tengah kondisi krisis.
Melewati angka Rp17.845 per dolar AS adalah sebuah ujian berat bagi ketahanan ekonomi nasional. Pertanyaan “Merdeka atau Mati?” dalam konteks hari ini adalah pilihan apakah kita mampu berdikari secara ekonomi dengan memperkuat struktur industri dalam negeri, atau membiarkan daya beli masyarakat mati perlahan akibat ketergantungan global yang tidak berkesudahan. Sinergi antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter Bank Indonesia adalah kunci utama untuk membawa rupiah kembali ke zona aman. *



