LIFESTYLE

Walikota Palembang Cepat Tanggap, Jaga Citra Wisata Sungai Musi

Walikota Palembang Cepat Tanggap, Jaga Citra Wisata Sungai Musi yabg Elok nan Indah

Oleh: Albar Sentosa Subari Unsri – Pengamat Sosial dan Budaya, Kolumnis, dan Penggiat Literasi Media Sosial

Langkah cepat yang dilakukan Walikota Palembang, Drs. H. Ratu Dewa, layak diapresiasi. Sebagai kepala daerah, beliau menunjukkan sikap tanggap terhadap keluhan wisatawan yang sempat viral di media sosial terkait dugaan pemalakan oleh seorang serang ketek saat dua wisatawan hendak menyeberang menuju Pulau Kemaro.

Video yang beredar luas itu sontak memunculkan kesan negatif terhadap citra wisata Sungai Musi dan keramahan masyarakat Palembang. Namun, dalam waktu singkat, Pemerintah Kota Palembang bergerak cepat. Melalui Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Palembang, Walikota meminta dilakukan klarifikasi langsung kepada pihak terkait, baik pengemudi perahu ketek maupun wisatawan yang menjadi korban.

Kita sudah minta Dishub mengklarifikasi hal itu kepada pengemudi ketek dan korban serta pihak terkait lainnya,” ujar Walikota Ratu Dewa, Sabtu, 8 November 2025.

Menindaklanjuti arahan tersebut, Dishub segera berkoordinasi dengan Ketua Paguyuban Ketek dan memanggil serang yang bersangkutan untuk dimintai keterangan. Pada Kamis, 6 November 2025, pihak keluarga hadir di UPTD Pelabuhan 16 Ilir untuk memberikan penjelasan. Keesokan harinya, Jumat, 7 November 2025, serang ketek bersama orang tuanya juga mendatangi Poltabes Palembang, menyampaikan permohonan maaf, dan mengembalikan uang sebesar Rp100.000 kepada wisatawan yang dirugikan.

Langkah ini memperlihatkan bahwa Pemkot Palembang serius menjaga nama baik kota dan berkomitmen terhadap pelayanan publik, khususnya dalam sektor pariwisata. Dishub juga telah mengimbau seluruh serang ketek agar tidak melakukan tindakan yang mencoreng citra wisata Sungai Musi. Kepala UPTD Pelabuhan pun diminta untuk terus memonitor aktivitas perahu ketek dan memastikan wisatawan mendapatkan pelayanan terbaik.

Sebagai pengamat sosial dan budaya, saya mengapresiasi tindakan cepat tersebut. Ini menunjukkan hadirnya pemerintah yang peka terhadap dinamika publik, serta memahami betapa pentingnya menjaga “Budaya Rasa Memiliki” terhadap kota Palembang.

Sebelumnya, saya juga telah menurunkan dua opini reflektif berkaitan dengan hal ini:

  1. “Budaya Rasa Memiliki Belum Terwujud, Palembang Kota Layak Huni bagi Wisatawan” (dimuat di BritaBrita.com, 8 November 2025), dan
  2. “Budaya Rasa Memiliki (Sense of Belonging) Belum Terwujud” (dimuat di JendelaKita.id, 8 November 2025).

Kedua tulisan tersebut merupakan seruan moral agar seluruh elemen masyarakat — mulai dari aparat, pelaku usaha, hingga warga biasa — memiliki rasa tanggung jawab kolektif terhadap nama baik kota ini.

Karena Palembang bukan hanya milik pemerintah, tapi milik kita semua. Dan menjaga citranya adalah bagian dari kecintaan kita terhadap warisan budaya, sejarah, dan kehormatan tanah Sriwijaya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button