LIFESTYLE

Bangun Lubis: Jejak Panjang Ilmu, Jurnalistik, dan Dakwah Melalui Kata

 

Bangun Lubis lahir di Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara, pada 30 Agustus 1960, sebuah daerah yang dikenal kuat dengan nilai adat, keislaman, dan keteguhan karakter masyarakatnya.

Dari tanah Mandailing inilah Bangun Lubis memulai perjalanan hidupnya—perjalanan yang kelak ditempa oleh ilmu, pengalaman jurnalistik, dan perenungan panjang tentang manusia, masyarakat, dan iman.

Sejak usia muda, Bangun Lubis telah menunjukkan ketertarikan yang kuat pada dunia membaca dan menulis. Buku, surat kabar, serta diskusi-diskusi sosial menjadi bagian penting dalam proses pembentukan cara berpikirnya. Ia tumbuh dengan kesadaran bahwa kata-kata memiliki daya pengaruh yang besar—dapat mencerahkan, namun juga bisa menyesatkan jika tidak dijaga dengan etika dan tanggung jawab.

Perjalanan hidup membawanya menekuni dunia akademik dan jurnalistik secara bersamaan. Sebagai dosen, Bangun Lubis memandang pendidikan bukan semata aktivitas transfer pengetahuan, melainkan proses pembentukan watak dan kejernihan berpikir. Ia percaya bahwa ilmu harus membumi, relevan dengan realitas sosial, dan memiliki nilai kemanusiaan. Di ruang kelas, ia dikenal lebih menekankan pemahaman, dialog, dan kesadaran kritis dibandingkan hafalan semata.

Sementara itu, dunia jurnalistik mengasah kepekaan sosial dan keberanian intelektualnya. Sebagai wartawan, Bangun Lubis berhadapan langsung dengan realitas masyarakat, dinamika politik, dan berbagai persoalan publik. Pengalaman panjang ini membentuk sikapnya yang hati-hati dalam menulis, tidak tergesa-gesa dalam menyimpulkan, dan selalu berusaha adil dalam memandang persoalan. Baginya, jurnalistik adalah amanah untuk menyampaikan kebenaran, bukan sekadar mengejar sensasi.

Pada tahun 2006, Bangun Lubis menerbitkan buku Batang Waktu (Dwi Windu Menjadi Wartawan), sebuah karya reflektif yang merekam perjalanan 20 tahun pengabdiannya di dunia jurnalistik. Buku ini bukan hanya catatan profesi, tetapi juga perenungan tentang etika, tanggung jawab moral, dan pergulatan batin seorang wartawan dalam menghadapi realitas sosial dan kekuasaan.

Selain itu, ia juga menulis buku 50 Tokoh Sumsel, yang merekam kiprah dan kontribusi sejumlah figur penting di Sumatera Selatan. Dalam karya ini, Bangun Lubis menempatkan tokoh bukan sekadar sebagai figur kekuasaan, melainkan sebagai bagian dari sejarah sosial yang patut dicatat dan dikaji secara kritis.

Ketertarikannya pada dinamika politik daerah melahirkan karya Jejak Politik Syahrial Oesman, yang mengulas perjalanan politik Gubernur Sumatera Selatan, serta buku tentang Rosihan Arsyad, juga Gubernur Sumatera Selatan. Karya-karya ini menunjukkan kemampuan Bangun Lubis dalam menggabungkan pendekatan jurnalistik, historis, dan analitis secara berimbang, tanpa kehilangan sikap kritis dan objektivitas.

Di dunia akademik, Bangun Lubis dikenal produktif menulis buku-buku rujukan untuk mahasiswa. Ia telah menghasilkan sejumlah buku akademik, antara lain Pengantar Ilmu Jurnalistik, Pengantar Sosiologi, dan Manajemen Ilmu Administrasi, serta berbagai buku pelajaran lainnya yang digunakan mahasiswa sebagai bahan ajar. Buku-buku ini ditulis dengan bahasa yang sistematis dan mudah dipahami, mencerminkan pengalamannya sebagai pendidik yang memahami kebutuhan mahasiswa.

Seiring perjalanan waktu, orientasi kepenulisan Bangun Lubis semakin menguat pada jalur dakwah Islam melalui literasi. Pada tahun 2019, ia menerbitkan buku Al-Qur’an Pedoman Umat Islam, sebuah karya dakwah yang menegaskan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup yang relevan sepanjang zaman. Buku ini disusul dengan karya-karya bernuansa spiritual dan reflektif seperti Mutiara Al-Qur’an, Menebar Ilmu Meraih Hikmah, serta buku-buku dakwah Islam lainnya yang menekankan pentingnya ilmu, akhlak, dan ketenangan batin.

Baca Juga  Buku "Politik Akar Rumput Herman Deru" Diluncurkan: Menyibak Strategi Sang Gubernur dari Balik Panggung Politik

Selain itu, Bangun Lubis juga menulis buku Manasik Haji dan Umroh, sebagai panduan praktis dan spiritual bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah ke Tanah Suci. Buku ini menunjukkan kepeduliannya pada aspek praktik keagamaan yang mudah dipahami, namun tetap berlandaskan dalil dan nilai keikhlasan.

Di ranah media digital, Bangun Lubis aktif menulis dan mengelola sejumlah situs, antara lain BritaBrita.com, matapublik.co, assajidin.com, dan suarapembaruan.news, serta situs dakwah satujalan.com. Tulisan-tulisannya dikenal bernuansa reflektif islami, kritik sosial yang beradab, serta ajakan untuk kembali pada nilai kemanusiaan dan iman di tengah perubahan zaman yang cepat.

Memasuki usia matang, Bangun Lubis tidak berhenti berkarya. Ia justru semakin selektif dan jernih dalam menulis. Baginya, usia bukan alasan untuk mengakhiri kontribusi, melainkan fase pendewasaan makna. Ia tengah dan terus menggarap karya-karya buku, termasuk proyek besar ***Women Are Pearls — Islam Membantah Barat***, yang mengangkat martabat perempuan dalam perspektif Islam secara naratif dan argumentatif.

Dalam keseharian, Bangun Lubis dikenal sebagai pribadi yang sederhana, tenang, dan reflektif. Ia tidak mengejar popularitas, melainkan kebermanfaatan. Ia meyakini bahwa tulisan yang baik tidak selalu ramai dibaca, tetapi jujur, mencerahkan, dan meninggalkan jejak kebaikan.

Bagi Bangun Lubis, menulis adalah bentuk ibadah. Setiap kata adalah amanah, setiap buku adalah pertanggungjawaban. Dari Kotanopan hingga ruang-ruang akademik dan digital, ia terus menapaki jalannya sebagai pendidik, wartawan, penulis, dan pendakwah—menjaga agar ilmu, kata, dan iman tetap berjalan seiring dalam pengabdian kepada umat dan Tuhan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button