SBC : Survei SMRC Tidak Mencerminkan Kekuatan Politik Prabowo Sesungguhnya

BRITABRITA.COM, PALEMBANG — Sumsel Budget Centre (SBC) menilai hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menunjukkan elektabilitas Prabowo Subianto berada di angka 9,8 persen dalam simulasi semi terbuka 24 nama, tidak perlu disikapi secara berlebihan. Hasil tersebut justru dapat menjadi bahan evaluasi bagi Presiden Prabowo untuk membaca arah opini publik dan memperbaiki kinerja pemerintahannya.
Koordinator Analis Utama Sumsel Budget Centre (SBC), Riza Toni Siahaan, menilai survei merupakan salah satu indikator untuk memahami persepsi masyarakat terhadap kepemimpinan dan kebijakan pemerintah. Karena itu, angka elektabilitas yang menurun semestinya tidak hanya dipandang sebagai ancaman politik, tetapi juga sebagai masukan untuk melakukan pembenahan secara mendasar.
Menurutnya, masih terdapat waktu yang cukup panjang menuju Pemilihan Presiden 2029. Rentang waktu tersebut dapat dimanfaatkan Prabowo untuk mengevaluasi program prioritas, memperbaiki kualitas pelayanan publik, serta memastikan kebijakan pemerintah benar-benar memberikan manfaat yang dirasakan masyarakat.
“Survei SMRC ini merupakan salah satu indikator opini publik yang tidak perlu ditakuti. Justru ini bisa menjadi input bagi Pak Prabowo untuk memosisikan diri, membaca aspirasi masyarakat, dan mendengarkan apa yang menjadi harapan publik,” ujarnya, Sabtu (17/10/2026).
Ia menilai, angka elektabilitas tidak dapat dilepaskan dari penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi, penegakan hukum, serta efektivitas program pemerintah. Dalam konteks ini, evaluasi terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih menjadi penting, terutama apabila tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelaksanaannya turut memengaruhi dukungan politik.
SBC berpandangan, pemerintah perlu membedakan antara keberhasilan sebuah program dalam perencanaan dan keberhasilan dalam pelaksanaan. Program yang memiliki tujuan baik belum tentu otomatis memperoleh dukungan politik apabila masyarakat belum merasakan hasilnya secara nyata.
“Yang perlu dibaca bukan sekadar berapa persen elektabilitasnya, tetapi apa yang membuat masyarakat puas atau tidak puas. Kalau ada program yang belum berjalan optimal, itu harus menjadi ruang untuk memperbaiki kebijakan, bukan justru menutup diri terhadap kritik,” katanya.
Prabowo Dinilai Masih Memiliki Keunggulan Politik
Meski demikian, SBC menilai hasil survei tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Prabowo akan menghadapi persaingan berat dalam Pilpres 2029. Dalam pandangan SBC, peta politik nasional masih sangat dinamis, sementara kekuatan elektoral seorang kandidat tidak hanya ditentukan oleh angka popularitas atau tingkat keterpilihan pada satu periode survei.
Menurut Toni, Prabowo masih memiliki keunggulan dari sisi sumber daya politik, jaringan pendukung, serta struktur kekuatan yang telah terbentuk. Faktor-faktor tersebut menjadi modal penting dalam kompetisi elektoral, meskipun tetap harus diimbangi dengan kinerja pemerintahan dan kemampuan menjaga kepercayaan masyarakat.
“Menurut penilaian kami, hari ini Prabowo belum memiliki lawan yang benar-benar setara dalam perebutan Pilpres 2029, jika dilihat dari kombinasi kekuatan politik, logistik, dan jaringan massa. Namun, keunggulan itu bukan jaminan mutlak. Semuanya tetap bergantung pada bagaimana pemerintah bekerja dan bagaimana kepercayaan publik dikelola,” ujarnya.
Dalam survei SMRC, Dedi Mulyadi memperoleh elektabilitas 35,5 persen, disusul Anies Baswedan 10,3 persen, Prabowo 9,8 persen, dan Gibran Rakabuming Raka 8,4 persen dalam simulasi semi terbuka dengan 24 nama. Sebanyak 13,9 persen responden belum menentukan pilihan.
Bagi SBC, hasil tersebut perlu dibaca sesuai konteks metode dan skenario pertanyaan survei. Simulasi semi terbuka dengan banyak nama memiliki karakter berbeda dari simulasi tertutup yang hanya menghadirkan beberapa kandidat. Karena itu, angka-angka tersebut tidak serta-merta dapat diterjemahkan sebagai gambaran final persaingan Pilpres 2029.
SBC juga menekankan bahwa elektabilitas merupakan potret opini publik pada saat survei dilakukan, bukan hasil pemilihan yang sudah pasti. Perubahan kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, dinamika koalisi, hingga munculnya figur baru masih dapat memengaruhi peta dukungan politik dalam beberapa tahun ke depan.
Jokowi Dinilai Memiliki Posisi Strategis
Dalam membaca peta politik menuju 2029, SBC menempatkan Joko Widodo sebagai figur yang memiliki posisi tersendiri. Menurut Toni, apabila ukuran yang digunakan adalah kombinasi pengalaman memimpin pemerintahan, jaringan politik, dan daya tarik di kalangan pemilih, Jokowi merupakan salah satu figur yang patut diperhitungkan.
Bahkan, dalam penilaian politik SBC, Jokowi menjadi figur yang paling mendekati Prabowo dari sisi kapasitas membangun kekuatan elektoral. Penilaian ini bukan berarti Jokowi telah dipastikan akan menjadi pesaing Prabowo, melainkan menunjukkan bahwa pengaruh politik mantan presiden tersebut masih menjadi variabel penting dalam perhitungan menuju 2029.
“Kalau ditanya siapa yang relatif seimbang dengan Prabowo, menurut penilaian kami, Jokowi adalah figur yang paling layak diperhitungkan. Jokowi memiliki posisi tersendiri di hati sebagian masyarakat dan masih mempunyai pengaruh dalam dinamika politik nasional,” katanya.
Atas dasar itu, SBC menilai komunikasi dan kompromi politik antara Prabowo dan Jokowi dapat menjadi pilihan strategis bagi kedua pihak, sepanjang terdapat kesamaan kepentingan dan kesediaan politik dari masing-masing pihak.
Namun, Toni menegaskan bahwa kemungkinan tersebut tetap bergantung pada sikap Jokowi dan perkembangan politik ke depan. Kompromi politik tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang otomatis terjadi, melainkan sebagai pilihan yang harus dibangun melalui komunikasi dan perhitungan kepentingan bersama.
“Jika kedua pihak sama-sama siap, kompromi politik antara Prabowo dan Jokowi bisa menjadi pilihan yang rasional. Bagaimanapun, Jokowi memiliki basis pengaruh tersendiri. Tetapi, apakah itu akan terwujud atau tidak, tentu bergantung pada dinamika dan keputusan politik masing-masing,” ujarnya.
SBC menilai, pelajaran utama dari survei SMRC bukan semata-mata mengenai siapa yang unggul dan siapa yang tertinggal, melainkan bagaimana hasil tersebut menjadi evaluasi politik dan kebijakan. Prabowo masih memiliki waktu untuk memperkuat kepercayaan publik, tetapi modal politik yang besar tidak boleh membuat pemerintah mengabaikan sinyal ketidakpuasan masyarakat.
Pada akhirnya, persaingan menuju Pilpres 2029 tidak hanya akan ditentukan oleh popularitas tokoh, tetapi juga oleh kondisi ekonomi, kualitas tata kelola pemerintahan, penegakan hukum, serta kemampuan para kandidat membangun kepercayaan masyarakat secara berkelanjutan.
(Taufiq)



