EKONOMI

“Sinetron Ala Dua Menteri, Saat Transmigrasi Bertemu Ekonomi Kreatif”

Pertemuan dua menteri beda kementerian tapi satu frekuensi yakni Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya dan Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara baru-baru ini berlangsung di Gedung Autograph Tower, Thamrin Nine, Jakarta. Mereka duduk manis bukan untuk pamer jas atau ngopi cantik, tapi untuk ngebahas sesuatu yang kalau berhasil, bisa jadi titik balik menyuntikkan semangat ekonomi kreatif ke urat nadi kawasan transmigrasi.

Isi pembahasannya nggak main-main penciptaan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Ibarat sinetron lintas genre satu bicara ide-ide segar, satunya bicara tanah dan penduduk baru, eh.. dua-duanya malah menyatu dalam satu visi.

Visi besar yang kalau diracik dengan bumbu tepat, bisa menyulap daerah transmigrasi yang selama ini dianggap sepi jadi ladang subur ekonomi kreatif.

Nah, di sinilah pentingnya satu prinsip hidup baru. Kata pepatah modern.”Dimana bumi dipijak, di situ kreatif harus dijemput”.

Cocok banget buat menggambarkan semangat dua kementerian ini yang bukan cuma ingin mindahin orang, tapi juga menyuntikkan ide segar dan semangat baru agar warga transmigrasi bisa hidup lebih mandiri dan berdaya saing.

Menteri Ekraf Teuku Riefky pun paham betul soal tren dunia kerja yang berubah total. Katanya”Tren struktural lapangan kerja terus mengalami pergeseran. Dari ekonomi agrikultural yang padat karya, ke ekonomi industrial yang padat modal, dan kini menuju ekonomi kreatif yang padat cipta”.

Zaman dulu orang bekerja dengan modal cangkul dan keringat, lalu pindah ke pabrik dengan mesin dan modal besar, sekarang?. Cukup modal ide, Wi-Fi, dan filter aesthetic. Kreativitas, inovasi, dan teknologi jadi senjata utama.

Bahkan, lahan transmigrasi yang dulunya identik dengan karung raskin dan tanah kering, kini dicita-citakan jadi pusat kamera, konten, dan komunitas kreatif.

Teuku Riefky sadar, kerja keras doang nggak cukup. Kerja harus pakai otak dan sentuhan seni. Soalnya, kalau cuma mindahin manusia dari Jawa ke Kalimantan tanpa bekal mindset kreatif, ya itu kayak mindahin warung pecel dari Jogja ke Papua tapi lupa bawa sambelnya. Nggak akan ngegigit.

Baca Juga  Pesan Ketua Dekranas Silvi Gibran: Produk Pengrajin UMKM perlu Terus Mendunia

Menteri Iftitah pun nggak mau kalah keren. “Kalau kita bangun kawasan ekonomi, tentu tujuannya bukan memindahkan kehidupan, tetapi membangun peradaban.”

Mantap, Pak! Ini bukan proyek pindah-pindahan kayak sinetron keluarga besar, tapi proyek membangun masa depan.

Tapi ingat, membangun ekonomi kreatif bukan cuma soal bangun coworking space atau sebar Wi-Fi. SDM-nya juga harus disulap dari kerja, karena suruhan menjadi berkarya karena tujuan.

Harus ada pelatihan, mentoring, inkubator ide yang sesuai potensi lokal. Jangan sampai program ini berakhir kayak martabak manis yang ditaburi keju tapi adonannya basi.

Kata Sir Ken Robinson, tokoh pendidikan kreatif dari Inggris.”Creativity is as important now in education as literacy, and we should treat it with the same status.” (TED Talk, 2006)

Artinya, kreativitas itu sekarang sejajar pentingnya dengan baca tulis. Dan iya, ini berlaku juga buat warga transmigrasi, karena kreativitas bukan hak eksklusif orang kota doang.

Manfaatkan kreativitas

Tapi pertanyaannya, apakah SDM di daerah transmigrasi udah siap jadi konten kreator, animator, desainer, atau barista kopi lokal rasa Seoul?. Kalau belum, ya percuma bikin creative hub. Nanti ujung-ujungnya jadi tempat nongkrong ayam kampung sambil main Mobile Legends.

Lihat deh, contoh desa-desa dunia yang sukses memanfaatkan kreativitas Hallstatt, Austria, desa kecil yang hidup dari lanskap indah dan kerajinan tangan. Saking hits-nya, sampai diduplikasi di China!.

Inakadate, Jepang, mereka nggak cuma nanem padi, tapi juga bikin lukisan sawah (rice paddy art) yang mendatangkan ribuan turis tiap musim.

Cheongdo, Korea Selatan, terkenal karena festival banteng lucu dan produk anggur lokal dengan kemasan super kreatif.

Kata Richard Florida, penggagas teori Creative Class. “Creative people are the key driving force for economic development.” (The Rise of the Creative Class, 2002).

Maksudnya, yang ngangkat ekonomi sekarang itu bukan lagi tambang, pabrik, atau sawah, tapi ide segar dan orang-orang kreatif.

Program dua menteri ini menarik, tapi jangan sampai narasinya membosankan. Ini era konten, Bung!. Cerita lebih penting dari sekadar data. Kalau bisa, tiap program transmigrasi punya akun Instagram dan TikTok. “Beginilah hidup mandiri di Ujung Mentaya” atau “Translok tetap kece!”.

Baca Juga  Ekonomi Sumatera: Potensi Besar, Tantangan Struktural, dan Jalan Menuju Pertumbuhan Berkelanjutan

Jadi memang ekonomi kreatif itu bisa mengubah hal remeh jadi berfaedah, yang biasa jadi luar biasa. Transmigrasi masa kini butuh Transide, transisi gagasan, bukan sekadar lokasi.

Pramoedya Ananta Toer pernah berkata “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang dari sejarah”. (Rumah Kaca, 1988)

Tapi ya jangan tanggung. Jangan kayak masak rendang tapi cuma pakai santan encer. Harus ada roadmap, pelatihan, insentif, dan pendampingan sabar. Sebab kreativitas bukan muncul tanpa difikirkan atau dari atas. Tapi dari proses, kegagalan, dan keberanian bermimpi.

Oleh karena itu, kalau mau transmigrasi sukses, jangan cuma mindahin orangnya. Pindahin juga budaya berpikir kreatifnya. Biar transmigrasi bukan sekadar jejak sepatu di tanah baru, tapi jejak ide yang meninggalkan makna.

Dan jangan takut bermimpi besar di tempat kecil, karena kadang dari pojok kampunglah lahir inovasi yang mengguncang dunia.

Siapa tahu, suatu hari nanti, Indonesia punya kampung animator lokal, desa content creator, bahkan trans-influencer yang ngevlog panen padi sambil endorse sandal jepit buatan tetangga.

Disamping itu, jangan remehkan desa, jangan anggap desa itu sepi dan sunyi, karena bisa jadi, dari balik rumah-rumah papan, gubuk serta ladang luas itu, lahir karya besar yang menginspirasi dunia.

Karena yang kita butuhkan bukan hanya program, tapi perubahan pola pikir. Bukan cuma infrastruktur, tapi juga inspirasi. Dan yang paling penting, jangan biarkan kreativitas hanya tinggal di kota. Ayo jemput dia, ajak menetap di desa-desa transmigrasi.

Biar Indonesia tumbuh bukan hanya dari beton dan gedung tinggi, tapi juga dari sawah, kebun, dan studio kecil di ujung kampung.

Itu bukan mimpi. Itu visi. Tinggal dieksekusi. Selamat berkreasi, warga transmigrasi. Mari kita pindah, tapi jangan lupa bawa mimpi.[***]/ Irwan Wahyudi/foto : dok.ekraf

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button