KALAM

Jangan Suka Mengecilkan Arti Sebuah Penghargaan dan Cinta

Jangan Suka Mengecilkan Arti Sebuah Penghargaan dan Cinta

Oleh: Bangun Lubis – Wartawan Muslim

Dalam kehidupan ini, sering kali kita tanpa sadar mengecilkan arti sebuah penghargaan dan cinta. Kita menganggapnya sekadar basa-basi, formalitas, atau ungkapan ringan yang tak berdampak besar. Padahal dalam pandangan Islam, penghargaan dan cinta adalah bagian dari akhlak mulia yang memiliki nilai ibadah.

Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an “Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (QS. Az-Zalzalah: 7)

 

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia. Senyum tulus, ucapan terima kasih, perhatian kecil, atau ungkapan cinta yang jujur—semuanya tercatat di sisi Allah. Jika kebaikan sekecil zarrah saja diperhitungkan, bagaimana mungkin kita berani meremehkan arti penghargaan dan kasih sayang?

 

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan dalam hadisnya:“Janganlah engkau meremehkan sedikit pun dari kebaikan, walaupun hanya dengan wajah yang berseri ketika bertemu saudaramu.” (HR. Muslim)

Hadis ini begitu sederhana, namun sarat makna. Wajah yang berseri adalah bentuk penghargaan. Ia adalah bahasa cinta yang paling mudah, namun sering diabaikan. Betapa banyak hati yang lelah menjadi segar hanya karena disambut dengan keramahan.

Baca Juga  Kafilah STQH Sumsel Disambut Hangat

Islam adalah agama yang membangun peradaban di atas fondasi kasih sayang. Rasulullah ﷺ bukan hanya seorang pemimpin, tetapi juga teladan dalam menghargai orang lain. Beliau memanggil sahabat dengan panggilan yang baik, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan menunjukkan cinta kepada keluarganya tanpa rasa gengsi.

Ulama besar seperti Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan bahwa hati manusia diciptakan untuk mencintai orang yang berbuat baik kepadanya. Jiwa akan cenderung kepada kelembutan dan menjauh dari kekerasan. Dalam pandangannya, akhlak yang baik adalah cahaya yang menerangi hubungan antar manusia. Ketika seseorang pelit dalam memberi penghargaan, sesungguhnya ia sedang mematikan cahaya dalam dirinya sendiri.

Ibnu Qayyim juga menekankan bahwa cinta karena Allah adalah ikatan yang paling kuat. Cinta yang didasari iman tidak mudah retak oleh kesalahan kecil. Sebaliknya, jika penghargaan dan cinta diremehkan, hubungan akan mudah retak hanya karena ego dan prasangka.

Para pakar psikologi modern pun sepakat bahwa penghargaan adalah kebutuhan emosional mendasar. Seseorang yang merasa dihargai akan tumbuh percaya diri, produktif, dan stabil secara mental. Sebaliknya, kekurangan apresiasi dapat melahirkan luka batin yang panjang. Islam telah lebih dahulu mengajarkan pentingnya menghormati dan memuliakan sesama, jauh sebelum teori-teori psikologi berkembang.

Baca Juga  Demi Cintaku Pada-Mu, Ke Mana Pun Engkau Kubawa: Makna Cinta Sejati dalam Islam

Maka, janganlah kita menjadi pribadi yang kikir dalam penghargaan dan kaku dalam cinta. Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya seseorang. Ucapkan terima kasih selagi masih bisa. Tunjukkan perhatian sebelum terlambat. Sampaikan cinta dengan cara yang diridhai Allah.

Karena pada akhirnya, hidup ini bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi tentang seberapa dalam kita menghargai dan mencintai. Allah menghargai kebaikan sekecil apa pun. Rasulullah ﷺ memuliakan setiap manusia dengan akhlak yang lembut. Lalu mengapa kita masih suka meremehkan arti sebuah penghargaan dan cinta?

Semoga Allah melembutkan hati kita, menjadikan kita hamba yang mudah menghargai dan lapang dalam mencintai. Sebab dari sanalah lahir kedamaian, persaudaraan, dan keberkahan hidup. Aamiin.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button