NASIONALOPINIPENDIDIKAN

Komunikasi Media dan Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Dari Peringatan Seremonial Menuju Kesadaran Kritis Pendidikan

OLEH : Muhamad Afdoli Ramadoni, S.Sos.,M.Sos.,CPS (Pengamat Pendidikan Sumatera Selatan dan Dosen Universitas Muhammadiyah Palembang)

SETIAP tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, sekaligus sebagai momentum reflektif terhadap arah dan kualitas pendidikan nasional. Penetapan tanggal ini secara resmi melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi strategis dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, dalam praktiknya, peringatan Hardiknas sering kali terjebak pada rutinitas seremonial upacara, slogan, dan unggahan simbolik tanpa diikuti refleksi kritis yang mendalam terhadap tantangan pendidikan kontemporer.

Di era media digital saat ini, komunikasi pendidikan tidak lagi terbatas pada ruang kelas dan institusi formal. Media massa, media sosial, dan platform digital telah menjadi arena utama pembentukan wacana publik mengenai pendidikan. Oleh karena itu, komunikasi media memiliki peran sentral dalam menentukan apakah Hardiknas sekadar menjadi agenda simbolik tahunan atau justru menjadi ruang dialog kritis untuk membangun kesadaran kolektif tentang kualitas, keadilan, dan masa depan pendidikan Indonesia. Sebagai akademisi di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), saya memandang Hardiknas bukan hanya sebagai peringatan historis, tetapi sebagai momentum dakwah intelektual menghidupkan kembali spirit emansipatoris pendidikan melalui komunikasi media yang edukatif, inklusif, dan mencerahkan.

Hari Pendidikan Nasional berakar pada perjuangan Ki Hadjar Dewantara yang menentang sistem pendidikan kolonial yang diskriminatif dan elitis. Ia memandang pendidikan sebagai proses pemerdekaan manusia, bukan sekadar transfer pengetahuan. Filosofi pendidikannya yang terkenal “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” menekankan peran pendidik sebagai teladan, penggerak, sekaligus pendamping peserta didik.Dalam konteks komunikasi, filosofi ini mengandung makna dialogis. Pendidikan tidak bersifat satu arah, melainkan proses komunikasi timbal balik yang membangun kesadaran, karakter, dan daya kritis. Oleh sebab itu, peringatan Hardiknas sejatinya merupakan peristiwa komunikasi publik yang sarat nilai, di mana media berperan sebagai penyampai sekaligus pembentuk makna pendidikan di tengah masyarakat.

Komunikasi Media sebagai Ruang Publik Pendidikan

Teori public sphere yang dikemukakan oleh Jurgen Habermas menempatkan media sebagai ruang publik tempat warga berdialog secara rasional mengenai kepentingan bersama. Dalam konteks pendidikan, media dapat menjadi sarana diskursus publik tentang mutu, akses, kebijakan, dan masa depan pendidikan nasional. Habermas menekankan bahwa komunikasi ideal harus bebas dari dominasi, manipulasi, dan kepentingan sempit, serta berorientasi pada mutual understanding (saling pengertian).

Peringatan Hardiknas yang disiarkan melalui media sejatinya berpotensi menjadi arena diskursif tersebut. Namun tantangannya, media pendidikan sering kali tereduksi menjadi narasi formalistik dan seremonial, tanpa menghadirkan dialog kritis mengenai problem struktural seperti ketimpangan akses pendidikan, literasi digital, kualitas guru, dan relevansi kurikulum dengan kebutuhan zaman.
Marshall McLuhan melalui tesis terkenalnya the medium is the message menegaskan bahwa media bukan sekadar alat penyampai pesan, melainkan turut membentuk cara berpikir, berperilaku, dan memahami realitas. Dalam konteks pendidikan, penggunaan media digital media sosial, video pendek, platform daring secara inheren mengubah pola belajar masyarakat, terutama generasi muda.
Pada peringatan Hardiknas, pesan-pesan pendidikan yang dikemas melalui media digital sering kali bersifat singkat, visual, dan viral. Kondisi ini menciptakan paradoks: di satu sisi meningkatkan jangkauan, tetapi di sisi lain berpotensi menyederhanakan makna pendidikan menjadi sekadar slogan motivasional. Tanpa kedalaman narasi, media justru dapat menjauhkan masyarakat dari refleksi substansial tentang pendidikan itu sendiri.

Baca Juga  Indonesia: Negeri yang Kian Carut-Marut, Siapa yang Peduli pada Rakyat?

Untuk menjadikan komunikasi media dalam Hardiknas bermakna, literasi media menjadi prasyarat utama. Literasi media tidak hanya berarti kemampuan mengakses informasi, tetapi juga kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan memproduksi pesan secara etis dan bertanggung jawab. Berbagai kajian menegaskan bahwa rendahnya literasi media dapat menyebabkan distorsi komunikasi, misinformasi, dan reduksi makna pendidikan di ruang publik digital.Dalam konteks pendidikan Indonesia, literasi media harus menjadi bagian integral dari ekosistem belajar, baik di sekolah maupun perguruan tinggi. Peringatan Hardiknas seharusnya tidak hanya diwarnai oleh unggahan simbolik, tetapi juga oleh konten edukatif yang mengajak masyarakat berpikir kritis tentang pendidikan tentang relevansi kurikulum, tantangan global, dan peran teknologi dalam pembelajaran.

Potret Pendidikan Indonesia: Antara Cita dan Realita

Pendidikan Indonesia hari ini menghadapi tantangan multidimensional. Ketimpangan akses dan kualitas pendidikan antarwilayah masih menjadi persoalan serius. Literasi membaca, literasi digital, dan kemampuan berpikir kritis peserta didik belum merata. Di sisi lain, guru dan dosen dihadapkan pada tuntutan administratif yang tinggi, sementara dukungan pengembangan kapasitas pedagogis dan digital belum optimal.
Media seharusnya berperan sebagai cermin kritis kondisi ini. Namun yang sering muncul justru narasi optimistik tanpa evaluasi mendalam. Hardiknas diperingati tanpa keberanian kolektif untuk mengakui bahwa pendidikan Indonesia masih menghadapi krisis kualitas dan relevansi. Dalam konteks inilah fungsi komunikasi akademik dan peran dosen menjadi sangat strategis.

Salah satu kunci membangun peradaban pendidikan adalah literasi media. Literasi media tidak hanya berarti kemampuan mengakses informasi, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, mengevaluasi, dan memproduksi pesan secara kritis dan etis. Rendahnya literasi media berpotensi melahirkan distorsi komunikasi, termasuk dalam narasi pendidikan di ruang publik digital.
Pendidikan Indonesia perlu menggeser paradigma dari sekadar penguasaan konten menuju penguatan literasi kritis. Pada momentum Hardiknas, media seharusnya tidak hanya menyampaikan pesan motivasi, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran publik tentang isu-isu pendidikan: ketimpangan, etika digital, kecerdasan buatan, dan masa depan pembelajaran.

Peran Strategis Perguruan Tinggi dan Dosen
Sebagai dosen Perguruan Tinggi Universitas Muhammadiyah Palembang, saya memandang perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan intelektual dalam membangun komunikasi pendidikan yang mencerahkan. Dalam tradisi Muhammadiyah, pendidikan adalah sarana dakwah pencerahan (da’wah bil-ilmi). Oleh karena itu, komunikasi media dalam Hardiknas harus diarahkan pada upaya membangun kesadaran kolektif, bukan sekadar citra institusional. Akademisi perlu hadir sebagai public intellectual yang berani menyuarakan kritik konstruktif terhadap kebijakan dan praktik pendidikan nasional.
Perguruan tinggi bukan hanya institusi penghasil lulusan, tetapi juga pusat produksi pengetahuan dan wacana publik. Melalui opini media, riset terapan, dan dakwah intelektual, dosen dapat mengisi ruang publik dengan narasi pendidikan yang kritis sekaligus solutif. Perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam membangun komunikasi media yang edukatif pada momentum Hardiknas. Perguruan tinggi tidak hanya bertugas mencetak sarjana, tetapi juga menjadi pusat produksi wacana keilmuan yang mencerahkan publik.

Baca Juga  Bupati OI Lantik 122 CPNS, Arya Komandan Upacara

Melalui opini media, webinar, podcast, dan konten digital berbasis riset, dosen dan akademisi dapat mengisi ruang publik dengan narasi pendidikan yang kritis sekaligus solutif. Pendekatan ini sejalan dengan fungsi perguruan tinggi Muhammadiyah sebagai pusat dakwah amar ma’ruf nahi munkar dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk dalam membangun kesadaran media yang beretika.Transformasi digital telah menghadirkan peluang besar bagi pendidikan, tetapi juga tantangan serius. Media digital memungkinkan partisipasi luas, namun juga membuka ruang komodifikasi pendidikan dan dominasi algoritma dalam menentukan wacana. Tanpa kendali literasi dan etika, pendidikan berisiko tereduksi menjadi konten bukan proses memanusiakan manusia. Oleh sebab itu, komunikasi media dalam peringatan Hardiknas harus diarahkan pada: pencerdasan publik, bukan sekadar perayaan simbolik, dialog kritis, bukan monolog institusional, dan penguatan nilai bukan komersialisasi pesan pendidikan.

Solusi Membangun Peradaban Pendidikan Indonesia

Untuk menjadikan Hardiknas sebagai momentum peradaban, beberapa langkah strategis perlu dikedepankan: Pertama, menjadikan media sebagai ruang dialog pendidikan yang rasional dan inklusif. Media harus membuka ruang bagi akademisi, guru, dan pelajar untuk berdiskusi tentang pendidikan secara jujur dan kritis, sebagaimana prinsip komunikasi emansipatoris Habermas. Kedua, memperkuat literasi media dan literasi digital sebagai kompetensi inti pendidikan. Pendidikan tidak boleh tertinggal dari perkembangan teknologi, tetapi juga tidak boleh kehilangan nilai-nilai kemanusiaan. Ketiga, mendorong keterlibatan aktif perguruan tinggi dalam komunikasi publik pendidikan. Opini akademik, riset berbasis masalah, dan inovasi pembelajaran harus disebarluaskan melalui media agar menjadi referensi publik. Keempat, mengembalikan pendidikan sebagai proyek peradaban, bukan sekadar indikator administratif. Pendidikan harus membentuk manusia berkarakter, kritis, dan berdaya saing global tanpa kehilangan akar kultural dan nilai moral.

Hari Pendidikan Nasional sejatinya adalah momentum komunikasi nasional tentang masa depan bangsa. Media memiliki kuasa besar untuk membingkai makna pendidikan apakah sebagai proyek seremonial atau sebagai gerakan kesadaran kolektif. Melalui pendekatan komunikasi media yang kritis, literatif, dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan, Hardiknas dapat menjadi ruang refleksi bersama tentang pendidikan yang memerdekakan, mencerdaskan, dan berkeadilan. Saya meyakini bahwa pendidikan tidak akan bergerak maju hanya dengan slogan dan seremoni. Ia membutuhkan komunikasi publik yang jujur, kritis, dan berorientasi masa depan agar pendidikan benar-benar menjadi jalan peradaban, bukan sekadar agenda tahunan.

Referensi
Liputan6. Mengapa Hari Pendidikan Nasional 2 Mei Penting?
Muttaqien & Ramdan. Konsep Komunikasi Jürgen Habermas. Linimasa Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 4, N0.1 Januari, 2023.
Purwastuti. Relevansi Teori Komunikasi Habermas dalam Pendidikan. FOUNDASIA. Vol1, No6 Maret 2005.
UPI News. Literasi Media untuk Masyarakat Digital yang Madani.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button