PENDIDIKAN

Tidaklah Salah Jika Sumsel Belajar dari Banjir Bandang di Sumbar, Sumut, dan Aceh

Cari Akanya, Tidak Sekadar Mengobati Luka

Tak Salahnya Sumsel Belajar dari Banjir Bandang di Sumbar, Sumut, dan Aceh

 

Oleh : Iklim Cahya – Wartawan BritaBrita.com dan Relawan “Arus Perubahan Iklim” Era Baru

Sesungguhnya Allah SWT telah menganugerahkan kepada bangsa Indonesia sebuah negeri yang nyaris sempurna dalam ukuran keseimbangan alam. Negeri tropis ini disinari matahari sepanjang tahun, namun tidak berlebihan. Musim panas tidak terlalu menyengat, musim hujan pun tidak terlalu membekukan. Keseimbangan antara panas dan hujan menjadi rahmat tersendiri yang jarang dimiliki banyak negara lain.

Bentang alamnya pun demikian memukau. Gunung-gunung menjulang, lembah terbentang, sungai mengalir panjang, rawa-rawa menjadi penyangga kehidupan, dan lautan luas menyimpan kekayaan tak terhingga. Semua itu bukan hanya pemandangan indah, tetapi juga sistem kehidupan yang saling terhubung. Di dalamnya hidup beragam makhluk yang mendukung keberlangsungan manusia.

Dalam perspektif keimanan, semua itu adalah amanah. Allah SWT berfirman:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”(QS. Ar-Rum 30:41)

Ayat ini seolah menjadi cermin bagi kondisi hari ini.

Karena di tengah keindahan yang dianugerahkan, kita justru menyaksikan kenyataan yang berbanding terbalik. Alam Indonesia kian hari kian rapuh. Eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam dilakukan tanpa batas. Hutan ditebang tanpa kendali, lahan dibuka tanpa perhitungan, dan keseimbangan ekosistem diabaikan.

Padahal alam memiliki batas kemampuan. Ia bukan objek mati yang bisa terus diperas tanpa akibat. Ketika hutan ditebang, bukan hanya pohon yang hilang, tetapi juga sistem penyangga air, udara, dan tanah yang ikut runtuh. Akibatnya mulai terasa nyata dan berulang.

Ketika musim kemarau datang, kebakaran hutan meluas. Asap pekat menutup langit, mengganggu kesehatan, bahkan menyeberang ke negara tetangga. Sementara saat musim hujan tiba, banjir dan tanah longsor menjadi pemandangan yang nyaris rutin. Ini bukan lagi sekadar fenomena alam, tetapi tanda ketidakseimbangan yang diciptakan manusia sendiri.

Berbeda dengan gempa bumi atau tsunami yang memang berada di luar kendali manusia, banjir dan longsor dalam banyak kasus adalah akibat langsung dari kerusakan lingkungan.

Peristiwa terbaru di wilayah Sumatera bagian utara menjadi bukti yang tak terbantahkan. Banjir bandang dan tanah longsor melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Kawasan yang selama ini dikenal indah dan subur, mendadak berubah menjadi wilayah bencana.

Baca Juga  Ketika Sekolah Melupakan Jiwa: Menemukan Kembali Ruh Pendidikan Islami

Air bah turun dengan kekuatan yang sulit dibayangkan. Ia tidak hanya menggenangi, tetapi menghancurkan. Rumah-rumah porak-poranda, jalan raya terputus, sawah-sawah rusak, dan fasilitas umum lumpuh total. Listrik padam, air bersih sulit diakses, jaringan komunikasi terputus.

Yang paling memilukan tentu saja adalah korban jiwa. Ratusan orang meninggal dunia, dan banyak lainnya masih belum ditemukan. Duka yang mendalam tidak hanya dirasakan oleh keluarga korban, tetapi oleh seluruh bangsa.

Cari Akanya, Tidak Sekadar Mengobati Luka

Dalam setiap bencana, sering kali kita terjebak pada upaya penanganan darurat semata. Bantuan dikirim, korban diungsikan, dan kerusakan diperbaiki. Semua itu memang penting. Namun ada satu hal yang sering terlewat: mencari akar masalah.

Tanpa memahami akar masalah, maka bencana hanya akan menjadi siklus berulang. Dalam kasus banjir bandang dan longsor di Sumatera bagian utara, salah satu penyebab utama yang tak bisa diabaikan adalah kerusakan hutan di kawasan hulu, terutama di wilayah Bukit Barisan.

Bukit Barisan bukan sekadar rangkaian pegunungan. Ia adalah benteng alami yang menjaga keseimbangan ekosistem di Sumatera. Di sanalah sumber-sumber air berasal, di sanalah hutan berfungsi sebagai penyerap air hujan dan penahan erosi.

Ketika kawasan ini rusak—baik karena pembalakan liar, penebangan berlebihan, maupun alih fungsi lahan menjadi perkebunan tanpa kendali—maka fungsi alamiah itu hilang.

Air hujan yang seharusnya meresap ke dalam tanah, justru mengalir deras di permukaan. Tanpa akar pohon yang menahan, tanah menjadi labil. Ketika hujan deras turun, tanah longsor pun tak terhindarkan, dan air berubah menjadi banjir bandang. Inilah yang kemudian meluluhlantakkan wilayah hilir.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka tidak ada jaminan bahwa bencana serupa tidak akan terulang—bahkan dengan skala yang lebih besar.

Karena itu, langkah tegas pemerintah untuk menindak pihak-pihak yang merusak hutan harus didukung sepenuhnya. Tidak boleh ada kompromi terhadap perusakan lingkungan. Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu.

Selain itu, rehabilitasi hutan harus menjadi prioritas. Penanaman kembali tidak boleh hanya menjadi program seremonial, tetapi harus dilakukan secara serius, terencana, dan berkelanjutan.

Sumsel Harus Belajar Sebelum Terlambat

Musibah yang terjadi di wilayah utara Sumatera seharusnya menjadi alarm bagi Sumatera Selatan. Jangan menunggu bencana datang baru kita tersadar.

Sumatera Selatan memiliki karakter geografis yang tidak jauh berbeda. Ada kawasan perbukitan yang menjadi hulu bagi banyak sungai besar. Sungai-sungai seperti Ogan, Komering, Lematang, Lakitan, hingga Kelingi menjadi nadi kehidupan masyarakat. Jika kawasan hulu ini rusak, maka dampaknya akan dirasakan hingga ke hilir.

Baca Juga  Hari Pers Sedunia: Ketika Kebenaran Sering Terhenti di Tengah Jalan

Wilayah seperti OKU Selatan, Lahat, Pagar Alam, Musi Rawas, hingga Muratara harus menjadi perhatian serius. Kawasan ini bukan hanya penting secara geografis, tetapi juga strategis dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Pengawasan terhadap hutan tidak boleh setengah hati. Tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah daerah tertentu. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah kabupaten/kota, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat.

Lebih dari itu, masyarakat juga harus dilibatkan. Kesadaran kolektif menjadi kunci utama. Karena sejatinya, menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama.

Menjaga Bumi itu Amanah

Dalam Islam, manusia disebut sebagai khalifah di muka bumi. Artinya, manusia diberi amanah untuk menjaga, bukan merusak.

Rasulullah SAW bersabda:”Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, kecuali menjadi sedekah baginya.(HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga dan menumbuhkan kehidupan adalah bagian dari ibadah. Sebaliknya, merusak lingkungan adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah tersebut.

Hari ini, bumi seperti sedang berbicara kepada kita—melalui banjir, longsor, kebakaran hutan, dan berbagai bencana lainnya. Ia mengingatkan bahwa ada yang salah dalam cara kita memperlakukannya. Namun pertanyaannya: apakah kita mau mendengar? Atau kita akan terus menunggu hingga bencana berikutnya datang?

Janganlah Mewariskan Kerusakan

Bumi tidak pernah meminta banyak. Ia hanya ingin dijaga agar tetap mampu memberi kehidupan. Namun jika kita terus mengambil tanpa memberi, merusak tanpa memperbaiki, maka yang akan kita wariskan bukanlah kemakmuran, melainkan krisis.

Anak cucu kita kelak mungkin tidak akan menyalahkan alam. Mereka akan bertanya kepada kita: apa yang telah kita lakukan saat masih ada waktu untuk memperbaiki?

Karena itu, tidak ada kata terlambat untuk berubah.

Belajar dari bencana di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh, sudah saatnya Sumatera Selatan berbenah. Mulai dari menjaga hutan, mengelola lingkungan dengan bijak, hingga membangun kesadaran bersama.

Sebab pada akhirnya, menjaga bumi bukan hanya soal lingkungan.

Ia adalah soal kehidupan.

Ia adalah soal masa depan.

Dan lebih dari itu, ia adalah soal amanah dari Allah SWT.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button