Sampah dan Pemberdayaan Masyarakat: Kunci Lingkungan Sehat di Palembang
Jumlah tersebut setara dengan muatan sekitar seratus truk besar yang harus diangkut

Sampah dan Pemberdayaan Masyarakat: Kunci Lingkungan Sehat di Palembang
Oleh: Dr. Yunita Theresiana, SE, SKM,M.Kes, Dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Dehansen Bengkulu dan Prof. Isnawijayani MSi, Ph.D Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Bina Darma, Keduanya Dewan Pakar Bakti Persada Masyarakat Sumsel
Persoalan sampah masih menjadi tantangan besar bagi Kota Palembang. Setiap hari, kota ini menghasilkan sekitar 1.000 hingga 1.260 ton sampah.
Jumlah tersebut setara dengan muatan sekitar seratus truk besar yang harus diangkut dan dikelola setiap harinya. Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya pola konsumsi masyarakat, volume sampah diperkirakan akan terus meningkat.
Berdasarkan data Hutan Kita Institute (2025), komposisi sampah di Palembang terdiri atas 56 persen sampah organik, 24 persen sampah anorganik, 10 persen sampah berbahaya, dan 10 persen lainnya berupa residu. Namun sesungguhnya, persoalan utama bukan terletak pada banyaknya sampah yang dihasilkan, melainkan pada cara masyarakat memperlakukan dan mengelolanya.
Masih banyak ditemukan kebiasaan membuang sampah ke selokan, lahan kosong, atau sungai. Akibatnya, saluran air tersumbat, banjir mudah terjadi, kualitas lingkungan menurun, dan berbagai penyakit berbasis lingkungan mengancam kesehatan masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya membutuhkan sarana dan teknologi, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat.
Untungnya, masyarakat Palembang memiliki modal sosial yang sangat kuat untuk menghadapi persoalan tersebut. Budaya gotong royong, kebersamaan, dan kekeluargaan masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Ketika ada kegiatan kerja bakti atau pembersihan lingkungan, warga umumnya mudah diajak berpartisipasi. Semangat inilah yang dapat menjadi fondasi utama dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Namun demikian, kegiatan kebersihan sering kali masih bersifat sesaat. Kerja bakti biasanya dilakukan menjelang hari besar atau ketika lingkungan sudah terlihat kotor. Tantangan yang dihadapi saat ini adalah bagaimana menjadikan kepedulian terhadap kebersihan sebagai kebiasaan sehari-hari, bukan hanya kegiatan insidental.
Selain itu, tingkat pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan sampah masih beragam. Sebagian besar warga memahami bahwa sampah harus dibuang, tetapi belum semuanya mengetahui pentingnya memilah sampah sejak dari rumah. Tidak sedikit pula yang belum menyadari bahwa sampah sebenarnya memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan baik.
Karena itu, edukasi menjadi bagian yang sangat penting. Penyuluhan harus dilakukan secara sederhana, mudah dipahami, dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Peran tokoh agama, tokoh masyarakat, ketua RT/RW, serta pemuka adat menjadi sangat strategis dalam menyampaikan pesan-pesan lingkungan. Dalam banyak kasus, masyarakat lebih mudah menerima ajakan dari figur yang mereka hormati dibandingkan sekadar membaca aturan atau imbauan tertulis.
Faktor ekonomi juga tidak dapat diabaikan. Masyarakat umumnya lebih cepat merespons program yang memberikan manfaat nyata bagi kehidupan mereka. Konsep bank sampah menjadi contoh yang cukup berhasil. Melalui program ini, warga diajak memilah sampah sejak dari rumah, kemudian menyetorkannya untuk ditukar dengan uang atau kebutuhan pokok. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna berubah menjadi sumber manfaat ekonomi.
Tidak hanya itu, berbagai jenis sampah juga dapat diolah menjadi produk bernilai jual. Sampah organik dapat dijadikan kompos, sementara sampah plastik dapat diubah menjadi kerajinan atau bahan baku daur ulang. Ketika masyarakat merasakan manfaat ekonomi secara langsung, kepedulian terhadap kebersihan lingkungan akan tumbuh dengan sendirinya.
Dalam konteks inilah pemberdayaan masyarakat menjadi sangat penting. Pemberdayaan bukan sekadar memberikan bantuan, melainkan membangun kemampuan, kesadaran, dan kemandirian warga agar mampu mengelola lingkungannya sendiri secara berkelanjutan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membentuk kelompok kerja atau kader lingkungan di tingkat RT dan RW. Kelompok ini dapat berfungsi mengoordinasikan kegiatan kebersihan, mengawasi kondisi lingkungan, serta menjadi teladan bagi masyarakat sekitar.
Pemberdayaan juga perlu dilakukan melalui dunia pendidikan. Anak-anak sekolah dapat diajarkan pentingnya memilah sampah, menjaga kebersihan, dan mencintai lingkungan sejak dini. Melalui program seperti Adiwiyata, sekolah dapat menjadi pusat pembentukan budaya peduli lingkungan. Bahkan, anak-anak sering kali menjadi agen perubahan yang mampu mengingatkan orang tua mereka untuk menjaga kebersihan rumah dan lingkungan.
Sebagai kota yang identik dengan sungai, Palembang juga memerlukan pendekatan khusus dalam pengelolaan sampah. Masyarakat yang tinggal di kawasan bantaran sungai perlu dilibatkan secara aktif dalam menjaga kebersihan dan kelestarian sungai. Kebiasaan membuang sampah ke sungai harus perlahan diubah melalui edukasi, keteladanan, dan pemberian alternatif pengelolaan sampah yang mudah dijangkau.
Pada akhirnya, pengelolaan sampah yang baik harus dimulai dari rumah melalui prinsip mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang. Pemilahan sampah sejak dari sumber menjadi kunci keberhasilan seluruh sistem pengelolaan sampah. Jika langkah sederhana ini dilakukan secara konsisten, jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir dapat berkurang secara signifikan.
Pengelolaan sampah sesungguhnya bukan hanya urusan pemerintah. Ini adalah tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. Ketika warga memiliki kesadaran, pengetahuan, dan kesempatan untuk terlibat, persoalan sampah dapat diubah menjadi peluang yang memberikan manfaat bagi lingkungan, kesehatan, dan ekonomi.
Palembang memiliki modal sosial yang kuat untuk mewujudkan hal tersebut. Dengan semangat gotong royong, pemberdayaan masyarakat, dan pengelolaan sampah yang tepat, kota ini dapat menjadi lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan nyaman untuk generasi sekarang maupun masa depan.
Kekuatan terbesar dalam menjaga lingkungan bukanlah teknologi atau aturan, melainkan masyarakat yang sadar, peduli, dan mau bergerak bersama.



