KALAMLIFESTYLE

Potret Anak Manusia: Di Antara Rumput dan Doa

 

Oleh: Bangun Lubis

SENIN pagi, 13 Oktober 2025. Mentari baru saja terbit dari ufuk timur, memandikan kota Palembang dengan cahaya keemasan yang lembut. Di sebuah jalan kecil yang membelah permukiman sederhana, sepasang suami istri berjalan perlahan.

Karung lusuh tergantung di punggung mereka, sabit sederhana berada di tangan, dan semangat hidup terpancar dari wajah yang mungkin telah lama bersahabat dengan teriknya matahari dan hujan yang deras.

Mereka bukan siapa-siapa dalam panggung besar kota ini. Mereka hanyalah dua anak manusia biasa yang setiap hari mencari rumput untuk dijual kepada peternak sekitar. Hasilnya tidak besar, tapi cukup untuk menghidupi keluarga kecil mereka, menyekolahkan anak-anak, dan menjaga kehormatan dengan mencari nafkah halal.

“Ya beginilah hidup kami,” ujar sang suami dengan senyum tenang saat disapa. “Rezeki ini kecil, tapi kami tidak ingin menggantungkan hidup pada belas kasihan orang. Apa yang kami dapatkan adalah hasil dari tangan kami sendiri. Alhamdulillah.”

Langkah mereka menyusuri jalan setapak menuju padang rumput menjadi saksi bisu bagaimana perjuangan kecil berlangsung setiap hari. Suasana pagi begitu tenang. Hanya terdengar suara gesekan sabit yang mengerat rumput, angin sepoi yang melewati daun, dan suara burung kecil yang seakan ikut menyemangati perjuangan sederhana itu. Di tempat sunyi seperti ini, hidup berjalan tanpa hiruk pikuk media sosial atau hingar bingar kota besar.

Baca Juga  Palembang, Kota Wisata Kuliner: Cita Rasa Tradisi yang Tetap Lestari di Tengah Modernitas

Setiap helai rumput yang dikumpulkan adalah bagian dari ikhtiar panjang. Bukan sekadar rumput — tetapi simbol perjuangan, cinta pada keluarga, dan tekad untuk hidup dengan cara terhormat. Dalam kehidupan yang kerap diukur dengan materi dan penampilan luar, pasangan sederhana ini justru mengajarkan makna kemuliaan dalam kesunyian.

Menjelang siang, ketika matahari mulai meninggi, suara adzan dzuhur menggema dari masjid terdekat. Sang suami berhenti bekerja. Ia menurunkan sabit dan karung dari punggungnya, lalu berwudhu dengan air seadanya di pinggir ladang. Dengan langkah tenang, ia melangkah menuju masjid. Istrinya menyusul pelan, kadang ikut berjamaah, kadang kembali ke rumah untuk menyiapkan makan siang. Dalam kesederhanaan hidup, mereka tidak pernah melupakan kewajiban kepada Allah. Shalat tetap menjadi tiang, bahkan di tengah keringat dan debu.

Ketua Forum Umat Islam Sumatera Selatan, Ustadz Umar Said, menilai kehidupan pasangan seperti ini adalah potret nyata keteguhan iman umat.

“Mereka tidak meminta-minta, tidak mengeluh, tapi bekerja dengan tangan sendiri. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa sebaik-baik rezeki adalah hasil kerja tangan sendiri. Ini adalah pelajaran besar bagi kita semua: kemuliaan bukan pada banyaknya harta, tetapi pada keberkahan usaha yang halal,” ujarnya.

Sementara itu, Pengamat Sosial Albar Santosa Subari menambahkan bahwa kehidupan masyarakat lapisan bawah sering kali justru menjadi cermin ketangguhan sejati.

“Mereka tidak banyak bicara, tidak tampil di televisi, tapi merekalah yang menjaga denyut kehidupan kota ini. Ketahanan sosial mereka luar biasa. Dalam kondisi sulit sekalipun, mereka tetap berjuang dan bertahan. Pemerintah dan masyarakat harus memberi perhatian agar kelompok seperti ini tidak semakin terpinggirkan,” jelasnya.

Baca Juga  Hindari Berpikir Negatif: Belajar dari Kebingungan Mulla

Dalam hiruk pikuk kota yang terus berkembang, kisah pasangan pencari rumput ini mengingatkan kita bahwa hidup tidak hanya tentang karier tinggi atau kemewahan. Hidup juga tentang keberanian untuk melangkah dalam keterbatasan, tentang ketulusan dalam memberi yang terbaik untuk keluarga, dan tentang kesetiaan pada nilai-nilai iman di tengah cobaan.

Potret dua anak manusia ini bukan sekadar cerita kecil. Ini adalah gambaran besar tentang wajah kehidupan rakyat biasa: mereka yang bangun lebih pagi, bekerja dengan peluh, dan pulang dengan hati lapang. Dalam kehidupan yang terasa getir sekalipun, mereka tetap menjaga harapan agar esok hari lebih baik.

Sebagaimana firman Allah:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah: 286).

Kita sering lupa, kebahagiaan tidak selalu lahir dari kemewahan. Kadang ia tumbuh dari keikhlasan — dari langkah kaki yang terus berjalan, dari doa yang tak henti dipanjatkan, dan dari kesederhanaan yang penuh makna.

Mereka bukan selebriti, bukan pejabat. Tapi mereka adalah bagian dari wajah sejati bangsa ini. Potret anak manusia yang sederhana, tabah, dan penuh ketulusan.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button