NASIONAL

“Khotbah di Ujung Jempol”

Zaman dulu, naskah khotbah ditulis tangan, digulung kayak naskah kuno, disimpan di dalam kitab yang cuma dibuka pas Jumat. Isinya kadang sudah kusam, ada bekas kopi, bahkan beberapa tulisan sulit dibaca karena digigit tikus, namun khatib tetap semangat “Yang penting niat,” katanya.

Nah,seandainya, kamu adalah seorang pejabat yang pagi-pagi disuruh bacakan doa di upacara Hari Kemerdekaan. Kamu pasti gugup, tangan gemetar, dan ketika mikrofon dinyalakan, kamu  malah baca doa buka puasa “Allahumma laka shumtu…”. Padahal hari itu 17 Agustus, bukan 1 Ramadan.

Sekarang, kita hidup di era digital, tapi kadang masyarakat masih digital otaknya, analog kelakuannya. Dikasih platform Elipski, tetap saja minta dikirimin via grup WA RT dengan caption, “Tolong share yg sudah punya teks khotbah minggu ini ya!.

Inilah alasan kenapa Kementerian Agama meluncurkan inovasi yang bukan cuma canggih, tapi juga nyelametke marwah kita sebagai bangsa. Namanya Elipski, dan sistem notifikasinya diberi nama akrab dan genit Notiski, keren bukan !!.

Ini bukan notifikasi dari e-commerce tengah malam, bukan juga mantan kamu yang tanya, “Kamu masih bangun?” Ini notifikasi surgawi yang berisi naskah khotbah Jumat, doa untuk upacara resmi, sampai buku keagamaan versi digital. Isinya bikin adem, bukan bikin dompet tipis.

Dengan daftar Notiski, para khatib tak lagi perlu merenung di pinggir mimbar sambil ngelus dada cari inspirasi. Para ASN pun tak perlu panik waktu disuruh baca doa mendadak oleh MC. Semua tersedia tinggal klik dan baca. Kata orang bijak warung kopi “Yang siap secara spiritual, tak goyah oleh mic yang mendadak hidup”.

Banyak yang menganggap doa hanya formalitas, padahal kalau salah teks bisa bikin situasi jadi rumit. Salah doa di momen resmi itu kayak masak nasi, tapi keliru pencet tombol harapan jadi bubur.

Elipski dan Notiski ini seperti alarm nasional, bukan buat bangunin tidur, tapi buat nyadarin umat  supaya gak sembarangan baca teks agama.

Apalagi kalau teks itu dibaca di depan presiden dan disiarkan langsung ke seluruh Indonesia. Gawat… kalau sampai doa malah jadi stand-up comedy dadakan.

Tengok Turki, sudah lama punya sistem digital bernama Diyanet, tempat para imam ambil khotbah mingguan resmi. Rapi, terstruktur, dan terintegrasi.

Balik ke Asean tetangganya Pulau Sumater, tepatnya Negeri Jiran Malaysia, punya portal e-Jawi, semua bisa diakses guru agama sampai tokoh masyarakat, dan isinya tematik dan kontekstual.

Baca Juga  Kesultanan Palembang: Kisah Kejayaan di Tepian Musi

Indonesia?. kita punya Elipski dan Notiski, memang belum segemerlap Turki, tapi sudah jauh lebih modern dari tukang ngetik naskah doa pakai mesin ketik jaman Orde Baru. Ini adalah tanda bahwa negara ikut bantu umat bukan cuma ngurus bansos dan jalan rusak, tapi juga urusan teks-teks sakral nan penting.

Kalau anda ASN atau penyuluh, tapi belum daftar Notiski, itu ibarat punya PayLater tapi gak pernah bayar. Jangan sampai nanti waktu ditugasi baca doa, anda malah panik nanya.“Ada versi PDF-nya gak?” atau “Bisa pakai AI gak buat nulis doanya?”.

Daftar itu gratis, dan pahalanya bisa beranak pinak, karena menurut petuah leluhur
“Satu doa yang baik bisa menumbuhkan seribu harapan, tapi satu doa yang ngawur bisa menumbuhkan ribuan meme,” bener gak!?.

Literasi keagamaan jangan seperti obat masuk angin dicari hanya saat darurat. Harusnya seperti sabun dipakai tiap hari, bikin bersih, dan menenangkan sekitar.

Dengan Elipski dan Notiski, umat gak cuma makin cerdas, tapi juga makin damai. Karena di zaman yang serba cepat ini, bahkan doa pun butuh kecepatan dan keakuratan, bukan cuma niat baik. Di sinilah letak pentingnya inovasi digital berbasis nilai-nilai agama.

Zaman sekarang, salah doa bukan cuma bikin salah makna, tapi juga bisa bikin salah viral. Bisa-bisa anda niat mendoakan bangsa, tapi netizen justru lebih fokus ke diksi yang kedengarannya seperti “doa ulang tahun anak TK”.

Oleh sebab itu, jangan main-main dengan teks keagamaan, apalagi kalau sudah bicara soal khutbah, doa kenegaraan, dan literasi umat.

Menurut Arsad Hidayat, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Elipski bukan hanya alat bantu, tapi senjata spiritual umat modern.

Tiga program utama

Ia membawa tiga program utama yang jadi tulang punggung penyediaan buku keagamaan dalam format cetak dan digital, penjaminan mutu buku agama, serta pengembangan perpustakaan digital berbasis aplikasi.

“Ini salah satu cara kita untuk mempermudah para pengguna Elipski, khususnya mereka yang sudah register dalam Notiski,” ujar Arsad mengutip laman resmi kemenag.go.id.

Jadi sebenarnya, pemerintah sudah kasih kita peta menuju oase pengetahuan rohani. Tinggal mau atau tidak umat ini buka peta itu. Jangan seperti orang yang sudah dikasih Google Maps, tapi tetap nyasar karena sok yakin “saya hafal jalan kok, dulu pernah lewat sini waktu masih kecil”.

Baca Juga  Pemerintah Tegas! Mulai Haji 2026, Petugas Tak Boleh Lagi “Nebeng Ibadah”

Karena pada akhirnya…”Di era digital ini, yang selamat bukan yang paling keras suaranya, tapi yang paling akurat sumbernya”.

Dan juga…”Umat yang paham naskah khutbah lebih dulu, akan lebih damai saat mikrofon tiba-tiba disodorkan oleh protokol”.

Sebelum  jadi korban mic mendadak, daftarlah ke Notiski, sebelum salah baca doa peresmian jembatan jadi seperti doa pembukaan warung pecel lele, gunakan Elipski.
dan sebelum umat ini terjebak pada teks-teks lawas yang kadaluarsa makna, ayo kita sama-sama go digital, tapi tetap spiritual.

Karena agama dan teknologi itu ibarat teh manis dan gelas kaca satu sama lain harus seimbang, supaya tidak tumpah, tidak pahit, dan tetap nikmat disruput dalam setiap zaman.

Dulu, orang ngaji pakai petromaks, sekarang bisa pakai tablet, dulu, teks khutbah ditulis tangan pakai bolpen sumbangan, sekarang tinggal klik link. Tapi satu hal yang gak boleh berubah niat untuk belajar dan menyampaikan yang benar.

Dengan Elipski dan Notiski, negara sudah kasih kita kendaraan spiritual berbasis digital. Sekarang tinggal kita mau naik atau tetap duduk di halte sambil nyalahin zaman.

Jangan sampai kita rajin update status WA tapi lupa update isi khutbah. Jangan sampai kita cepat baca broadcast arisan, tapi lambat baca teks doa resmi,  jangan pula kita hafal kode voucher gratis ongkir, tapi gak tahu teks doa pembukaan acara kenegaraan.

Kata pepatah kontemporer “Yang sering klik Elipski akan lebih tenang saat mic disodorkan protokol, dibanding yang cuma modal nekat dan doa sambil merem”.

Dan satu lagi…”Mimbar boleh kayu, tapi isi khutbah harus mutakhir, doa boleh pendek, tapi maknanya harus tepat sasaran”. Jadi sebelum khatib makin stres karena naskah nyasar, sebelum Pak Camat salah baca doa akad nikah dengan nada upacara pemakaman, dan sebelum ASN salah kirim file khutbah ke grup keluarga, maka jadi umat yang siap spiritual, digital, dan penuh akurasi.

Bismillah, dari WhatsApp, kita menuju literasi yang lebih berkah, karena iman di era digital, perlu klik yang benar, bukan cuma niat yang ngambang.[***]/irwan wahyudi/foto : kemenag

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button