SEJARAH-BUDAYA

Palembang Darussalam — Bagian VII: Wajah Peradaban Islam di Tepian Musi

Oleh: Bangun Lubis – Wartawan Muslim**

 

Kesultanan Palembang Darussalam bukan sekadar kerajaan Melayu di Sumatera Selatan. Ia adalah satu di antara pusat peradaban Islam terpenting di Nusantara pada abad ke-17 hingga awal abad ke-19.

Dari sini, cahaya Islam menyebar ke berbagai wilayah pesisir timur Sumatera, Jambi, Bengkulu, hingga Kalimantan bagian barat.

1. Struktur Pemerintahan yang Islami

Sistem pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam dibangun berlandaskan nilai-nilai Islam. Sultan berperan sebagai *Zillullah fil Ardhi* — bayangan Allah di bumi, pemimpin yang wajib menegakkan keadilan dan menjaga syariat. Pemerintahan dijalankan dengan struktur hierarkis: Sultan sebagai pemegang otoritas tertinggi, dibantu oleh pejabat seperti *Ratu Anom*, Ratu Penghulu*, *Pangeran Cinde Balang*, *Pangeran Prabu Anom*, dan para *mufti* sebagai penasehat agama.

Mufti Kesultanan memiliki peran sentral, bukan sekadar simbol agama, tetapi juga pengarah kebijakan hukum. Kitab Sabilul Muhtadin karya ulama besar dari Banjarmasin, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, menjadi salah satu rujukan hukum fiqih di lingkungan kesultanan. Dari catatan sejarah, diketahui bahwa **Syekh Abdul Samad al-Palimbani** — ulama besar kelahiran Palembang yang kemudian belajar di Haramain — turut memberi warna pemikiran keislaman di masa itu melalui karya-karyanya seperti *Hidayatus Salikin* dan *Siyarus Salikin*.

2. Pusat Pendidikan Islam dan Perkaderan Ulama**

Pada abad ke-18, Palembang dikenal memiliki banyak pesantren tradisional (dikenal dengan sebutan *pondok atau langgar besar) yang tersebar di wilayah 2 Ilir, 5 Ulu, 13 Ulu, dan daerah sekitar Sungai Ogan. Para santri datang dari berbagai wilayah, bahkan dari Semenanjung Melayu.

Baca Juga  Ratusan Massa Tolak Pembangunan RS AK Gani di BKB Karena Dianggap Kawasan Cagar Budaya

Di sekitar Masjid Agung Palembang, yang dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I pada tahun 1748, berkembang tradisi keilmuan Islam yang kuat. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, tempat diskusi tafsir, hadis, dan fiqih. Di sinilah ulama-ulama seperti **Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi** dan murid-muridnya kerap berdialog dengan ulama Palembang, membentuk jaringan keilmuan yang melintasi batas wilayah.

Sultan Mahmud Badaruddin II (1804–1821) dikenal pula sebagai sosok yang mencintai ilmu dan menjadikan ulama sebagai mitra pemerintahan. Dalam catatan Belanda, disebutkan bahwa Sultan ini kerap memimpin pengajian di istana, dan keputusan politiknya selalu didahului musyawarah dengan para mufti dan penghulu.

3. Ekonomi Islam dan Jaringan Perdagangan

Sebagai kota pelabuhan di jalur perdagangan internasional, Palembang Darussalam memiliki hubungan erat dengan negeri-negeri Muslim di Asia Tenggara seperti Aceh, Johor, dan Patani, serta pedagang Arab dan Gujarat.

Sistem ekonomi yang dijalankan berlandaskan prinsip syariah. Para pedagang menerapkan akad *mudharabah* dan *musyarakah* dalam perdagangan rempah, lada, dan timah. Zakat perdagangan dan hasil bumi diatur langsung oleh aparat kesultanan. Pendapatan negara tidak hanya berasal dari pajak, tetapi juga dari *wakaf* dan *amal jariah* para saudagar Muslim yang makmur.

4. Kehidupan Sosial dan Budaya Islam

Budaya masyarakat Palembang Darussalam mencerminkan perpaduan antara nilai Islam dan adat Melayu. Pakaian sopan, tutur kata lembut, dan adat saling menghormati adalah ciri khas masyarakat kala itu. Seni ukir pada rumah limas, motif songket, dan syair-syair Melayu banyak memuat simbol tauhid dan nilai ketuhanan.

Baca Juga  Napak Tilas I-Tsing: Dari Sriwijaya ke Melayu Kuno Jambi

Dalam rumah tangga, pendidikan agama menjadi kewajiban. Anak-anak diajarkan membaca Al-Qur’an sebelum mengenal huruf latin. Di surau, setiap malam terdengar lantunan ayat-ayat suci dan zikir. Tradisi ini menjadi pondasi moral masyarakat Palembang hingga kini.

5. Tantangan Kolonial dan Warisan Spirit Darussalam

Masuknya kekuasaan kolonial Belanda pada awal abad ke-19 mengguncang sistem pemerintahan Islam ini. Setelah perang tahun 1821, Kesultanan Palembang Darussalam dihapuskan secara resmi. Namun semangat *Darussalam* — negeri damai berlandaskan iman — tetap hidup dalam hati rakyat.

Ulama dan keturunan sultan berpindah ke kampung-kampung, melanjutkan dakwah dengan cara sederhana. Dari mereka lahirlah tradisi keagamaan yang masih terasa hingga hari ini: majelis taklim, pengajian kampung, dan kecintaan pada ilmu agama.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Akan selalu ada segolongan dari umatku yang menegakkan kebenaran, tidak akan dapat dirusak oleh orang yang menentang mereka, hingga datang ketetapan Allah.”* (HR. Muslim)

Dan Palembang adalah salah satu saksi nyata dari sabda itu — bahwa iman bisa dikalahkan secara politik, tapi tidak bisa dipadamkan dalam hati umat.

Bagian VIII** *“Kebangkitan Kembali Ruh Palembang Darussalam di Era Modern”* — menyorot madrasah, pesantren, dan tokoh-tokoh Islam Palembang pascakolonial?

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button