Menemukan Jati Diri Sejati dalam Perjalanan Ruhaniah

Oleh: Albar Santosa Subari – Pemerhati Islam
AGAMA memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia mampu mengubah seorang budak menjadi pemimpin dunia, dan bahkan mengilhami lahirnya perubahan besar dalam peradaban manusia.
Kekuatan ruhaniah dari pengalaman keagamaan ini nyata terlihat dalam gerakan yang dipelopori oleh Nabi Muhammad SAW, yang membangkitkan semangat kehidupan baru dengan landasan yang berbeda sama sekali dari sebelumnya.
Sesungguhnya, perjalanan menuju Allah bersifat individual, baik dalam teori maupun praktik. Perangkat yang digunakan dalam perjalanan ini adalah pikiran, kesadaran, dan hati. Dengan pikiran, manusia dapat memahami siapa Allah dan bagaimana hubungan kita dengan-Nya. Dengan kesadaran, manusia menyadari keterhubungan serta ketergantungannya kepada Allah. Dengan hati, manusia merasakan kekuatan, petunjuk, bimbingan, pertolongan, dan perlindungan dari Allah.
Namun, kebanyakan manusia tidak memanfaatkan potensi ruhaniahnya secara maksimal. Mereka sibuk mengandalkan potensi jasmaniah, hingga hanyut dalam tumpukan fakta indrawi belaka. Akibatnya, mereka terlepas dari kedalaman wujud sejati yang sesungguhnya belum mereka sadari.
Hanya dengan memahami asal-usul, masa depan, dan nasib terakhirnya, manusia dapat mengatasi problem mendasar dalam hidup. Dengan memahami asal-usulnya, ia akan tahu hakikat jati dirinya. Dengan memahami masa depannya, ia menyadari arah kembalinya. Dan dengan memahami nasib terakhirnya, ia akan menemukan jati diri sejatinya.
Agama hadir sebagai usaha menemukan jati diri sejati sekaligus akar ontologis manusia, yaitu Allah. Inilah satu-satunya jalan yang benar-benar dapat membuahkan hasil. Yang dibutuhkan adalah pribadi yang mampu menghidupkan kembali semangat kehidupan beragama sebagai sarana menuju Realitas Tertinggi, Yang Mutlak, dan Yang Esa, yakni Allah.
Tiga Tahapan Beragama
Ada tiga tahapan dalam beragama: dogmatis, rasional, dan spiritual.
1. Tahap Dogmatis
Agama dipahami sebatas ajaran berupa perintah tanpa syarat dan tanpa penjelasan rasional. Tahap ini memang dapat mengubah sejarah sosial, kultural, dan politik suatu bangsa, tetapi belum menumbuhkan perkembangan ruhaniah secara mendalam pada individu.
2. Tahap Rasional
Pada tahap ini, manusia mulai berusaha memahami agama secara lebih dalam. Ia mencari penjelasan logis dan rasional tentang hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan.
3. Tahap Spiritual
Inilah tahapan tertinggi. Agama dipraktikkan sebagai usaha menemukan Sang Pencipta dan menjalin hubungan langsung dengan Allah, Realitas Tertinggi. Pengalaman keagamaan ini bersifat individual dan hanya dapat disampaikan dengan baik jika seseorang memiliki bekal ilmu seperti tasawuf atau filsafat.
Dalam uraian ini, fokus utama adalah pada tahapan ketiga. Sebab, dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering terjebak dalam dunia lahiriah semata, sibuk dengan persaingan, tanpa berusaha menyingkap individualitas yang hakiki. Padahal, puncak kehidupan beragama adalah **penemuan jati diri sejati** — yang hanya mungkin ditemukan melalui kontak langsung dengan Allah.
Pengalaman Keagamaan dan Jati Diri
Pengalaman keagamaan memiliki arti eksistensial yang sangat penting. Melaluinya, manusia dapat menjulang tinggi dengan cara menyatukan dirinya dengan Yang Mutlak. Tujuan akhir bukan sekadar melihat sesuatu, melainkan menjadi diri yang lebih fundamental, bukan hanya Aku yang berpikir, melainkan Aku yang berkarya kreatif.
Pencarian jati diri sejati bukanlah pelepasan dari keterbatasan, melainkan pemahaman yang lebih dalam tentang hakikat diri. Hasil akhirnya adalah pengukuhan eksistensi, peningkatan daya kreatif, serta ketajaman pandangan. Dengan begitu, dunia bukan sekadar untuk dilihat, tetapi untuk dibangun dengan kerja keras tanpa henti.
Lalu, apa itu mi‘raj?
*Mi‘raj* adalah berdiri di hadapan Allah tanpa goyah sedikit pun. Karena itu, kuatkanlah dirimu dan jangan sampai rapuh. Jika tidak, diri kita hanyalah sekadar kepulan adab belaka.
Semoga Allah memberi kita kekuatan, kesanggupan, serta memudahkan kita memperoleh karunia dan ridha-Nya.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.



