KALAM

Menanam Pohon, Menanam Pahala yang Tak Pernah Layu

 

Oleh: Bangun Lubis

Rasulullah ﷺ bersabda,

*“Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan lainnya, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis singkat ini menyimpan pelajaran mendalam tentang makna amal jariyah yang begitu luas. Islam tidak hanya mengajarkan ibadah yang berorientasi pada masjid atau sajadah, tetapi juga pada bumi yang kita pijak. Menanam pohon ternyata bisa menjadi ibadah, bahkan menjadi sedekah yang pahalanya terus mengalir tanpa putus.

Bayangkan, setiap kali seekor burung mematuk buah dari pohon yang kita tanam, setiap kali seseorang berteduh di bawah rindangnya daun yang kita rawat, atau setiap kali tanah menjadi subur karena akar pohon itu menahan air — semuanya dicatat sebagai pahala. Sungguh, betapa pemurahnya Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang mau berbuat kebaikan walau tampak sederhana.

Baca Juga  Mal An Abdullah,Tokoh dan Ulama NU Sumsel Berpulang

Dalam pandangan Islam, alam bukan sekadar fasilitas hidup, melainkan amanah. Rasulullah ﷺ adalah sosok yang penuh kasih terhadap lingkungan. Beliau melarang menebang pohon secara sembarangan, bahkan ketika dalam keadaan perang. Dalam sejarah, beliau pernah memuji seseorang yang menyingkirkan ranting di jalan karena dianggap telah melakukan amal saleh kecil yang bisa menyelamatkan orang lain dari bahaya.

Menanam pohon bukan hanya urusan ekologi, tetapi juga teologi. Ia adalah bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta. Ia menjadi simbol bahwa manusia sadar akan perannya sebagai khalifah di muka bumi, bukan sebagai perusak atau pengambil manfaat semata.

Apalagi di zaman sekarang, ketika udara semakin panas dan hutan semakin gundul, menanam pohon menjadi ibadah sosial yang amat mendesak. Satu pohon mungkin tampak kecil, tetapi di sisi Allah, bisa menjadi pohon surga bagi penanamnya.

Baca Juga  Menemukan Jati Diri Sejati dalam Perjalanan Ruhaniah

Sungguh indah bila kita menjadikan aktivitas menanam sebagai bagian dari amal hidup. Tak harus memiliki kebun luas; cukup halaman kecil, sepetak tanah kosong, atau bahkan menanam dalam pot. Karena yang Allah nilai bukan luas tanahnya, melainkan ketulusan niatnya.

Maka, setiap kali tangan kita menabur benih, bayangkan kita sedang menanam pahala yang akan terus tumbuh — mungkin menjadi naungan di dunia, dan menjadi cahaya di akhirat.

Dan kelak, saat kita telah tiada, ketika burung masih bersarang di ranting pohon itu, ketika manusia masih menikmati oksigen dari daunnya, pahala itu tetap mengalir deras, seperti air yang tak pernah kering.

Sungguh benar sabda Rasulullah ﷺ:

“Setiap manfaat dari pohon yang engkau tanam adalah sedekah bagimu.”

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button