LIFESTYLE

Ngidang, Tradisi Makan Bersama yang Menjaga Denyut Silaturahmi Warga Palembang

Penulis: Bangun Lubis, Wartaŵan dan Dosen

Palembang, britabrita.com — Di tengah derasnya arus modernisasi dan gaya hidup serba cepat, masyarakat Palembang masih menyimpan satu warisan budaya yang mengajarkan arti kebersamaan, kesederhanaan, dan persaudaraan. Tradisi itu bernama ngidang.

Ngidang adalah tradisi makan bersama dalam satu dulang yang biasa dilakukan dalam berbagai hajatan, seperti pernikahan, khitanan, selamatan rumah, hingga acara adat keluarga. Dalam satu dulang, biasanya duduk empat hingga lima orang, makan bersama dari hidangan yang sama tanpa sekat status sosial.

Bagi masyarakat Palembang, ngidang bukan sekadar jamuan makan. Ia adalah simbol kesetaraan, kebersamaan, dan silaturahmi yang telah diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi.

“Ngidang itu bukan hanya soal makan. Tapi bagaimana kita diajarkan untuk saling menghormati, menahan diri, dan berbagi rezeki dalam satu hidangan,” ujar Hasan (63), tokoh masyarakat di kawasan Seberang Ulu, Palembang.

Jejak Tradisi yang Mengakar Kuat

Secara historis, ngidang tumbuh dari budaya masyarakat Melayu Palembang yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan. Dulang — talam besar tempat hidangan disajikan — menjadi lambang kebersamaan. Semua orang duduk sejajar, tanpa kursi kehormatan.

Tak ada perbedaan antara tamu terpandang dengan warga biasa. Semua makan bersama, dari lauk yang sama, dalam suasana yang akrab dan hangat.

Menu yang disajikan umumnya adalah masakan khas Palembang, seperti pindang patin, pindang tulang, malbi, ayam kecap, sambal nanas, nasi minyak, buras, serta kerupuk kemplang. Seluruhnya dimasak secara gotong royong oleh para ibu yang dalam istilah adat dikenal sebagai bidan dapur.

“Sejak subuh kami sudah masak bersama. Capeknya hilang karena kami tahu ini bukan sekadar memasak, tapi melayani tamu dengan hati,” kata Siti Aminah (55), salah satu bidan dapur.

Ada Etika dan Aturan Tak Tertulis

Ngidang memiliki tata krama yang masih dijaga hingga kini. Para tamu tidak diperkenankan makan sebelum semua yang satu dulang duduk bersama. Suapan tidak boleh berlebihan, lauk tidak dihabiskan sendiri, dan pembicaraan dijaga tetap santun.

“Di sinilah anak-anak belajar adab. Mereka diajarkan sabar menunggu, menghargai orang lain, dan tidak serakah,” ujar Hasan.

Urutan tamu yang makan pun biasanya diatur: mulai dari keluarga dekat, tetangga, hingga tamu umum. Pemuda kampung sering mendapat giliran di sesi akhir, sekaligus menjadi penutup suasana kebersamaan.

Diterpa Zaman, Tapi Belum Hilang

Meski kini banyak hajatan beralih ke konsep prasmanan modern, ngidang belum sepenuhnya ditinggalkan. Di sejumlah wilayah Palembang, terutama di kawasan Ulu dan perkampungan lama, tradisi ini masih tetap lestari.

Baca Juga  Palembang Kota Surganya Makan: Wisata Kuliner dari Sungai Musi

Bahkan, sejumlah keluarga sengaja mempertahankan ngidang sebagai bentuk penghormatan pada leluhur dan identitas budaya.

“Kalau tidak ngidang, rasanya bukan orang Palembang,” kata Rudi (38), warga Kertapati.

Makna Sosial dan Spiritualitas

Lebih dari sekadar tradisi makan, ngidang mengandung pesan moral yang dalam: bahwa rezeki akan terasa lebih berkah jika dinikmati bersama. Dalam satu dulang, semua orang setara sebagai hamba Tuhan yang sama-sama membutuhkan.

Nilai ini sejalan dengan ajaran Islam tentang pentingnya silaturahmi, berbagi, dan tidak berlebih-lebihan dalam makan. Tak heran, ngidang sering disebut sebagai tradisi lokal yang sarat dengan nilai ibadah sosial.

Di tengah individualisme yang kian menguat, ngidang menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kemewahan, melainkan dari kebersamaan yang tulus.

Warisan Budaya yang Perlu Dijaga

Budayawan Palembang menilai, tradisi ngidang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda, baik melalui pendidikan, dokumentasi, maupun kegiatan budaya.

“Kalau tidak dijaga, lama-lama ngidang tinggal cerita. Padahal ini identitas kita,” ujar seorang pemerhati budaya Sumsel.

Ngidang hari ini bukan hanya tentang makan bersama. Ia adalah jejak nilai, adab, dan jati diri masyarakat Palembang yang patut dipertahankan di tengah perubahan zaman.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button