LINGKUNGAN HIDUP

Antroposentrisme Telah Gagal: Green Mistica sebagai Jalan Pulang Ekologis Nusantara

Ketika Bencana Menjadi Cermin Keserakahan

 

Antroposentrisme Telah Gagal: Green Mistica sebagai Jalan Pulang Ekologis Nusantara

Oleh: Ade Indriani ZuchriKetua Umum Sarekat Hijau Indonesia*

Pada mulanya, hutan adalah ibu. Ia memberi tanpa meminta, melindungi tanpa bersyarat, dan menyimpan denyut hidup di setiap batang, akar, sungai, dan hembusan angin. Namun dalam perjalanan sejarah pembangunan modern, manusia perlahan memalingkan wajah dari kesadaran itu. Hutan tak lagi dipandang sebagai ruang kehidupan, melainkan direduksi menjadi sekadar komoditas.

Beginilah antroposentrisme bekerja: sebuah cara pandang yang menempatkan manusia sebagai pusat semesta, sebagai ukuran kebenaran, sebagai tujuan akhir segala sesuatu. Dari sinilah lahir keyakinan bahwa alam ada untuk ditaklukkan, dikeruk, diperas, dan dikorbankan demi pertumbuhan ekonomi. Dalam bahasa kebijakan negara, antroposentrisme menjelma menjadi legitimasi politik untuk membuka jutaan hektare hutan atas nama “pembangunan”.

Dan Indonesia adalah salah satu panggung terbesarnya.

Hutan yang dahulu menjadi rumah bagi manusia, satwa, tumbuhan, air, dan seluruh makhluk dalam jaringan harmoni panjang, kini dipersempit maknanya menjadi angka statistik produksi: berapa ton kayu, berapa juta barel batu bara, berapa hektare sawit. Dalam imajinasi pembangunan, semakin besar volume yang dikeruk, semakin besar pula janji kesejahteraan yang dijual kepada rakyat.

Namun sejarah ekologis Indonesia justru menyingkap ironi yang getir.

Ketika Bencana Menjadi Cermin Keserakahan

Bencana hidrometeorologi besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada 2025 adalah cermin yang memantulkan wajah asli antroposentrisme. Banjir, longsor, dan kehancuran ekosistem bukanlah peristiwa alam yang berdiri sendiri. Ia adalah akumulasi keputusan politik, ekonomi, dan perizinan yang sejak lama menggerogoti daya dukung alam.

Hutan yang hilang menjadikan tanah rapuh. Akar-akar yang dahulu mengikat bumi tercerabut. Sungai kehilangan penyangga. Air hujan yang semestinya diserap dengan lembut oleh tanah, kini meluncur deras membawa lumpur, batu, dan kehancuran.

Maka sesungguhnya, apa yang kita sebut sebagai bencana alam, lebih jujur disebut sebagai bencana sosial-ekologis—bencana yang lahir dari tangan manusia sendiri.

Baca Juga  Penegakan Hukum Lingkungan Hidup Masih dalam Tataran Normatif

Antroposentrisme: Kesalahan yang Menyamar sebagai Kemajuan

Dalam filsafat lingkungan, antroposentrisme telah lama dikritik sebagai paradigma yang timpang. Ia meminggirkan nilai intrinsik makhluk non-manusia dan mereduksi alam menjadi objek pasif yang boleh diatur sesuka kehendak. Dalam kerangka kapitalisme ekstraktif, bumi diperas seperti mesin produksi raksasa tanpa jiwa.

Tak heran jika kebijakan negara kemudian tumbuh sebagai mesin perizinan: pertambangan diperluas, sawit diekspansi, hutan tanaman industri dibentangkan, dan infrastruktur dibangun tanpa pertimbangan regenerasi ekologis.

Antroposentrisme menjanjikan kesejahteraan. Tetapi yang hadir justru ketimpangan, kerentanan, dan kemiskinan ekologis.

Ia menjanjikan kemakmuran. Tetapi yang tiba adalah banjir, longsor, krisis pangan, dan migrasi paksa.

Inilah paradoksnya:

manusia ingin menyelamatkan dirinya sendiri dengan menghancurkan rumahnya sendiri.

Scientia Sacra: Ketika Alam Kembali Disucikan

Seyyed Hossein Nasr menyebut bahwa krisis ekologis adalah krisis spiritual. Dalam konsep scientia sacra, alam tidak lagi dipandang sebagai benda mati, tetapi sebagai tajalli—pantulan dari Yang Maha Hidup.

  • Pohon adalah ayat.
  • Sungai adalah tanda kasih.
  • Gunung adalah saksi kosmik.

Hutan adalah kitab terbuka yang mengajarkan keseimbangan.

Di dalam pandangan ini, eksploitasi berlebihan bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan kesalahan batin manusia yang lupa bahwa ia adalah bagian kecil dari jaringan ciptaan, bukan penguasanya.

Jika antroposentrisme memisahkan manusia dari alam, scientia sacra mengikat kembali keduanya dalam kesadaran ketauhidan kosmik.

Green Mistica: Jalan Pulang yang Telah Lama Dikenal Leluhur

Sesungguhnya, Nusantara tidak pernah benar-benar asing dengan pandangan ini.

Di Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, hingga Sulawesi Tengah, masyarakat adat telah lama hidup dengan etika ekologis yang sakral. Hutan tidak boleh ditebang sembarangan. Sungai tidak boleh dicemari. Gunung tidak boleh diperlakukan sebagai benda mati. Semua dijaga dalam relasi spiritual yang penuh hormat.

Dari akar inilah Green Mistica (Mistika Hijau) dirumuskan oleh Sarekat Hijau Indonesia—sebuah seruan untuk kembali kepada bioposentrisme dan ekosentrisme, bahwa kehidupan adalah milik seluruh makhluk, bukan monopoli manusia.

Baca Juga  Ungkapan Hati yang Tulus dari Korban Bencana Alam Sumatra

Mistika Hijau memuliakan alam bukan sebagai romantisme, melainkan sebagai fondasi etika baru pembangunan.

Sumatera Selatan: Di Antara Kekayaan dan Kehancuran

Sumatera Selatan adalah potret luka itu.

Ia kaya akan rawa gambut, hutan hujan, sungai besar, dan lanskap agraris. Namun kekayaan itu justru berubah menjadi sumber petaka ketika dikelola melalui paradigma ekstraktif. Sawit, tambang, dan alih fungsi lahan menekan ruang hidup rakyat.

Keanekaragaman hayati bukan sekadar flora dan fauna. Ia adalah:

  •  dapur pangan rakyat,
  • apotek alami masyarakat desa,
  •  sumber penghidupan perempuan,
  •  serta pengikat ekonomi lokal.

Saat hutan rusak, perempuanlah yang pertama menanggung beban: jarak air makin jauh, sumber pangan menyusut, kesehatan keluarga terganggu, dan beban sosial membengkak.

Inilah wajah paling sunyi dari krisis ekologis.

Kutukan Sumber Daya dan Harapan Mistika Hijau

Teori *resource curse* menjelaskan bagaimana wilayah kaya sumber daya justru terjebak dalam kemiskinan struktural dan kerusakan lingkungan. Indonesia, termasuk Sumatera Selatan, tengah berdiri di simpang itu.

Green Mistica menawarkan jalan keluar: mengembalikan spiritualitas ke jantung politik ekologis. Ia menempatkan masyarakat adat dan perempuan bukan sebagai korban, tetapi sebagai penjaga utama keseimbangan semesta.

Jika ini dijadikan pijakan kebijakan negara—dalam kehutanan, agraria, hingga mitigasi bencana—maka tragedi banjir besar seperti 2025 bukanlah takdir yang harus diulang.

Di Mana Kita Berdiri Hari Ini.

Antroposentrisme telah gagal.

Ia gagal membaca tanda-tanda alam.

Ia gagal menjaga martabat kehidupan.

Ia gagal menjanjikan masa depan yang layak diwariskan.

Green Mistica bukan sekadar konsep. Ia adalah jalan pulang—kembali ke kesadaran bahwa manusia bukan pusat semesta, melainkan satu simpul kecil dalam jaring besar kehidupan.

Jika kita terus memaksakan diri menjadi penguasa bumi, maka bumi akan mengajari kita dengan cara yang paling keras: melalui banjir, longsor, krisis pangan, dan kehancuran yang tak memilih korban.

Tetapi jika kita memilih menjadi penjaga, maka alam akan kembali menjadi ibu.

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button