Universitas Kader Bangsa Gelar Wisuda XXIII, Pesan Rektor kepada Alumni: Harus Ada Tuhan di Hatimu Kemana dan Dimanapun Berada
BritaBrita.com,Palembang — Universitas Kader Bangsa (UKB) Palembang kembali menorehkan sejarah penting dalam perjalanan akademiknya dengan menyelenggarakan Wisuda XXIII pada Kamis, 11 Desember 2025, bertempat di Ballroom Hotel Wyndham Opi Mall Jakabaring Palembang. Suasana penuh kebanggaan, haru, dan optimisme menyelimuti seluruh rangkaian acara yang dihadiri oleh ratusan wisudawan beserta keluarga, para pimpinan universitas, serta tamu kehormatan dari berbagai lembaga.
Acara wisuda tahun ini menjadi momentum istimewa, bukan hanya karena jumlah lulusan yang mencapai 555 wisudawan dan wisudawati, tetapi juga karena pesan-pesan mendalam yang disampaikan oleh para tokoh, terutama Rektor Universitas Kader Bangsa, Dr. dr. Fika Minata Wathan, M.Kes., yang menekankan pentingnya karakter, adab, dan spiritualitas dalam menghadapi dunia kerja dan kehidupan yang semakin kompleks.
Hadir dalam acara tersebut, Kepala LLDIKTI Wilayah II , Prof. Dr. Iskhaq Iskandar, M.Sc, Ketua Yayasan Pendidikan dan Kesehatan Kader Bangsa, Dr. Hj. Irzanita, SH, SE, SKM, MM, M.Kes, Wakil Rektor III, Dr. Ilham Jaya, MH, Direktur Pascasarjana UKB, Dr. M. Nasir, SH, MH, para dekan, ketua program studi, dosen, serta civitas akademika lainnya.
Kehadiran para tokoh tersebut menegaskan komitmen UKB dalam menjaga kualitas pendidikan dan memastikan bahwa setiap lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat sebagai kader bangsa.
Dalam pidatonya, Rektor UKB, Dr. dr. Fika Minata Wathan, menyampaikan pesan yang sangat menyentuh dan sarat makna. Ia menitipkan pesan agar semuanya terkhusus kepada alumni agar selalu ada Tuhan di hati, kemana dan dimanapun berada. Ia menjelaskan bahwa kehidupan tidak pernah lepas dari cobaan. Jika seseorang mampu melewati cobaan dan menjadi pribadi yang lebih baik, maka itu adalah tanda seseorang itu naik kelas. Namun jika cobaan membuat seseorang semakin buruk, maka itu bisa menjadi bentuk istidraj, yaitu kelalaian yang dibiarkan semakin jauh dari kebaikan.
“Jaga terus, agar Tuhan selalu ada di hati kita semua,” ujarnya kepada para alumni.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan akademik bukanlah satu-satunya ukuran kesuksesan seseorang. Dia menegaskan bahwa ada adab sebagai fondasi ilmu. Rektor menekankan bahwa adab selalu lebih tinggi daripada ilmu.Menurutnya, seseorang yang berilmu tetapi tidak memiliki etika, sopan santun, dan kerendahan hati, tidak akan mampu menjadi pribadi yang bermanfaat.
“Ada adab sebelum ilmu. Adab itu terlihat dari perilaku yang baik, etika, sopan santun, dan sikap rendah hati,” ujarnya.
Ia mengingatkan para wisudawan agar tidak cepat berpuas diri dengan pencapaian yang telah diraih. Dunia terus berubah, dan setiap individu harus terus meng-upgrade diri, namun tetap menjaga kerendahan hati termasuk untuk selalu menjaga pikiran.“Pikiran itu adalah doa. Maka berpikirlah tentang hal-hal yang baik. Jangan suka berpikiran buruk.”ujarnya.
Menurutnya, energi positif akan membawa seseorang pada jalan yang lebih baik, sementara pikiran negatif hanya akan menghambat langkah.
Lebih lanjut Rektor menjelaskan, bahwa ada tiga kunci dalam menghadapi masalah yakni berdoa kepada Allah SWT, curhat kepada orang yang dipercaya dan bersedekah. Ia menegaskan bahwa ketiga cara ini bukan hanya solusi emosional, tetapi juga bentuk penyucian hati dan penguatan mental. Pesan utama yang tidak kalah pentingnya, jelas Rektor agar para alumni senantiasa menjaga nama baik almamater Universitas Kader Bangsa (UKB)
“Jejak langkah dan karya para alumni adalah sangat penting. UKB bukan hanya mencetak lulusan, tetapi membentuk kader bangsa dengan karakter unggul, mampu memimpin, menginspirasi, dan menggerakkan perubahan positif di masyarakat.
Tantangan Global
Sementara itu, dalam sambutannya, Kepala LLDIKTI Wilayah II, Prof Dr Iskhaq Iskandar memberikan sambutan yang sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini. Pasalnya, dunia sedang berubah dengan cepat. Ia menyoroti perkembangan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), Big Data, Automasi, Creative Economy, Circular Economy, Green Economy, Blue Economy, Digital Economy dan lain sebagainya.
Menurutnya, semua perkembangan ini membuka peluang besar, tetapi juga menghadirkan tantangan baru.Ia mencontohkan penggunaan QRIS yang kini menjadi standar pembayaran digital nasional.“Itu menunjukkan bahwa Indonesia punya kemampuan menciptakan teknologi kelas internasional.”
Disamping itu, Ia menyinggung konflik internasional seperti Rusia–Ukraina yang meski jauh dari Indonesia, tetap berdampak pada energi dan ekonomi global.“Ekonomi global berada dalam ketidakpastian. Dan Anda tidak lagi bersaing hanya dengan sesama alumni UKB atau universitas lain di Indonesia, tetapi sudah masuk ke persaingan global.” Imbuhnya.
Prof. Iskhaq menegaskan bahwa ijazah bukan jaminan kesuksesan.“Yang dibutuhkan adalah kompetensi spesifik, terutama literasi digital dan literasi data.” Jelasnya. Ia mengajak para wisudawan untuk terus membangun kompetensi agar mampu bersaing di era modern.Menurutnya, mentalitas dan pola pikir adalah faktor penentu keberhasilan. Dimana mindset akan menentukan apakah kita menjadi juara atau sebaliknya.
Di tempat yang sama, Ketua Yayasan Pendidikan dan Kesehatan Kader Bangsa, Dr. Hj. Irzanita, juga memberikan pesan penuh motivasi. Ia menegaskan bahwa perjalanan para wisudawan tidak akan mudah, tetapi penuh peluang.Ia menekankan bahwa kecerdasan saja tidak cukup.“Tidak cukup hanya pintar. dunia membutuhkan orang yang kreatif dan inovatif.” Katanya. Orang kreatif, menurutnya, bukan hanya mencoba, tetapi menciptakan kesempatan.
Ia mendorong para lulusan untuk menjadi pribadi yang berani menghadapi tantangan dan menjadi pencetus ide baru.Kepemimpinan adalah tentang pengaruh, sikap, integritas, dan empati.“Pemimpin bukan soal jabatan, tetapi tentang bagaimana Anda memberi pengaruh positif.” tutupnya.
Setelah kata sambutan yang sangat baik itu, kegiatan wisuda yang penuh khidmat itu dilanjutkan dengan prosesi pemindahan kuncir toga. Para wisudawan satu per satu dipanggil ke panggung, disambut tepuk tangan keluarga dan tamu undangan. Banyak yang meneteskan air mata haru, mengingat perjalanan panjang yang telah dilalui.(len)



