Rumah Limas Terluas dan Tertua di Jalan Temon Palembang, Jejak Kemegahan Wong Kayo Lamo

Oleh: Aspani Yasland – Wartawan Muslim
Di tengah hiruk-pikuk kawasan Palembang lamo, berdiri sebuah rumah kayu berwarna putih yang seolah menolak tunduk pada laju zaman.
Rumah Limas yang berlokasi di tepi Jalan Temon ini kerap disebut sebagai salah satu rumah limas terluas dan tertua yang masih bertahan di jantung Kota Palembang.
Rumah Limas tersebut diyakini telah berusia puluhan tahun. Namun, bukan semata usia yang membuatnya istimewa, melainkan kemegahannya yang masih terasa hingga kini.

Panjang bangunan ini setara dengan sekitar lima rumah biasa yang berdiri di sekitarnya. Sementara lebarnya membentang hampir mencapai tepian Sungai Sekanak di sisi timur, berseberangan langsung dengan kawasan Kantor Wali Kota Palembang.
Letaknya yang strategis memperlihatkan bahwa rumah ini dahulu berada di pusat denyut kehidupan kota. Rumah Limas dengan atap khas berhias manik-manik tanduk ini menjadi penanda kuat status sosial pemiliknya di masa silam.
Ornamen tersebut lazimnya hanya dimiliki oleh keluarga besar *Wong Kayo Lamo*, kelompok masyarakat Palembang yang dikenal memiliki kekayaan, pengaruh, dan kedudukan terhormat.
Membayangkan suasana puluhan tahun silam, rumah ini tentu tampil sebagai simbol kemakmuran dan keindahan. Pada masa itu, rumah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga cerminan martabat, identitas, serta kekuatan budaya lokal.
Rumah Limas Jalan Temon berdiri sebagai saksi bisu kejayaan arsitektur tradisional Palembang yang sarat makna.
Di kalangan wong kampung, ada anekdot lama yang kerap dilontarkan untuk menggambarkan betapa luasnya sebuah rumah besar. Dikisahkan, seseorang membawa nasi dari pintu depan rumah, dan ketika tiba di dapur belakang, nasi tersebut sudah keburu basi.
Kelakar ini memang bernada humor, namun justru menjadi ilustrasi hidup tentang betapa lapang dan panjangnya ruang-ruang dalam rumah tradisional Palembang tempo dulu. Rumah Limas di Jalan Temon ini pun kerap diasosiasikan dengan cerita tersebut.
Kini, rumah kayu tua itu menjadi bagian penting dari jejak sejarah kota. Ia bukan hanya bangunan fisik, melainkan arsip hidup tentang peradaban, selera estetika, dan tatanan sosial Palembang di masa lalu. Keberadaannya memperkaya khazanah arsitektur tradisional sekaligus menjadi pengingat bahwa Palembang pernah tumbuh dengan identitas budaya yang kuat dan berakar.
Publikasi kisah Rumah Limas ini dimaksudkan semata-mata untuk kepentingan dokumentasi dan pelestarian nilai sejarah. Harapannya, bangunan bersejarah seperti ini tetap dijaga, dirawat, dan dihargai sebagai warisan budaya, agar generasi mendatang masih dapat membaca dan merasakan denyut Palembang di zaman baheula. (*)



