OPINISEJARAH-BUDAYA

Ancaman Perenial: Menjaga Moralitas Bangsa dari Gerakan Hawa Nafsu

Oleh: Bangun Lubis Wartawan Muslim & Dosen

Ancaman Perenial: Menjaga Moralitas Bangsa dari Gerakan Hawa Nafsu

Dalam perspektif syariat Islam dan sosiologi hukum, sejarah perjalanan bangsa-bangsa memperlihatkan satu kenyataan yang terus berulang: moralitas selalu menjadi medan ujian utama peradaban.

Bangsa-bangsa tidak runtuh pertama-tama karena kekalahan militer, melainkan karena kerapuhan nilai yang merusak dari dalam.

Setiap zaman melahirkan tantangannya sendiri. Namun pola ujiannya nyaris serupa: ketika nilai, adab, dan batas etika mulai dianggap usang, sementara hawa nafsu dikemas dengan bahasa kemajuan, kebebasan, dan pembaruan.

Al-Qur’an telah mengingatkan fenomena ini dengan sangat tajam:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,’ mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.’ Ketahuilah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.”
(QS. Al-Baqarah: 11–12)

Ayat ini bukan sekadar peringatan teologis, melainkan analisis sosial lintas zaman—tentang bagaimana kerusakan sering tampil dengan wajah reformasi.

Pola Lama dalam Wajah Baru

Fenomena perusakan nilai bukanlah gejala modern. Ia telah berulang selama ratusan bahkan ribuan tahun.

Dalam sejarah Romawi akhir, misalnya, para sejarawan mencatat bagaimana dekadensi moral elite, normalisasi pesta pora, dan pelemahan institusi keluarga berjalan seiring dengan melemahnya hukum dan otoritas negara. Kebebasan pribadi diagungkan, sementara disiplin sosial dilemahkan—hingga akhirnya Romawi runtuh bukan oleh satu musuh, melainkan oleh kehancuran dari dalam.

Pada Abad Pertengahan, kita mengenal kelompok-kelompok yang awalnya tampil dengan simbol kesucian dan perlindungan umat. Dalam berbagai kajian sejarah, Knights Templar sering disebut sebagai contoh bagaimana simbol religius dapat mengalami pergeseran fungsi, dari misi moral menuju kekuatan politik dan ekonomi. Terlepas dari perdebatan detail sejarahnya, pola transformasinya relevan: ketika nilai dijadikan alat, bukan pedoman.

Baca Juga  Kesultanan Palembang: Kisah Kejayaan di Tepian Musi

Memasuki era modern, wajahnya kembali berubah. Tidak lagi dengan pedang atau baju zirah, melainkan melalui narasi, ideologi, dan rekayasa opini. Standar benar dan salah yang bersumber dari wahyu, akal sehat, dan kearifan budaya perlahan digeser oleh konsep kebebasan tanpa batas—yang sering kali tidak lain adalah legitimasi intelektual bagi pemuasan hawa nafsu.

Benturan Abadi: Syariat dan Hawa Nafsu

Dalam pandangan Islam, moralitas publik bukan urusan privat semata, melainkan amanah kolektif. Karena itu, syariat menempatkan prinsip amar ma’ruf nahi munkar sebagai benteng sosial agar masyarakat tidak larut dalam arus pembenaran diri.

Sejarah menunjukkan bahwa gerakan perusakan nilai hampir selalu bekerja secara sistematis:

  1. Mengaburkan standar moral, sehingga yang jelas munkar dipoles sebagai modern, progresif, atau hak individu.
  2. Memaksakan agenda tertentu dengan memanfaatkan kekuatan modal, tekanan politik, dan dominasi media.
  3. Melemahkan institusi keluarga dan agama, agar manusia tercerabut dari fitrah dan kehilangan kompas etik.

Allah SWT mengingatkan dengan tegas:

“Allah hendak menerima taubatmu, sedangkan orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud agar kamu berpaling sejauh-jauhnya dari kebenaran.”
(QS. An-Nisa: 27)

Ayat ini menegaskan bahwa pertarungan terbesar manusia bukan semata ekonomi atau politik, melainkan pertarungan antara hidayah dan hawa nafsu.

Strategi Klasik: Melenakan Sebelum Merusak

Dalam banyak peradaban, kerusakan moral jarang dilakukan secara frontal. Ia lebih sering hadir melalui penaklukan pikiran (ghazwul fikr).

Masyarakat dibuat sibuk dengan hiburan massal, sensasi instan, dan konflik semu. Di Romawi, ia hadir dalam arena dan pesta; di masa kolonial, melalui budaya hedonisme; di era digital, lewat banjir distraksi tanpa henti. Tujuannya sama: melemahkan daya kritis dan kepekaan nurani.

Baca Juga  Kapolri Bentuk Satgassus Penerimaan Negara, Novel Baswedan Jadi Wakil Kepala

Akibatnya, nasihat dianggap ancaman, kritik dicap kebencian, dan kebenaran dipersepsikan sebagai penghalang kebebasan. Inilah bentuk penjajahan paling halus, namun paling efektif.

Ketika Aturan Runtuh dan Alam Dieksploitasi

Sejarah juga mencatat bahwa ketika hawa nafsu dilegalkan, kerusakan tidak berhenti pada moral, tetapi menjalar ke eksploitasi alam dan ketidakadilan struktural.

Dari Revolusi Industri awal hingga era kapitalisme ekstrem hari ini, pola yang sama terulang: hukum dilemahkan demi keuntungan segelintir pihak, alam dikorbankan, rakyat disisihkan, dan generasi mendatang mewarisi krisis.

Setiap upaya koreksi sering dituduh menghambat kemajuan, padahal yang dipertahankan sejatinya adalah keserakahan yang dibungkus rasionalisasi.

Kepemimpinan, Hukum, dan Tanggung Jawab Bersama

Islam menempatkan kepemimpinan sebagai amanah besar: hirasatud din wa siyasatud dunya—menjaga agama dan mengatur urusan dunia. Ketegasan hukum bukanlah kekerasan, melainkan perlindungan terhadap kemaslahatan umum.

Kaidah fiqih menegaskan:

“Tasharruful imam ‘alar ra’iyyah manuthun bil mashlahah.”
(Kebijakan pemimpin harus berorientasi pada kemaslahatan rakyat)

Namun tanggung jawab tidak berhenti pada pemimpin. Masyarakat wajib memperkuat pendidikan berbasis adab, agar kecerdasan tidak tercerabut dari akhlak, dan kebebasan tidak terlepas dari tanggung jawab.

Musuh Perenial Peradaban

Gangguan terhadap moralitas bangsa bukanlah peristiwa kebetulan. Ia adalah pola perenial dalam sejarah manusia, dengan satu musuh utama: hawa nafsu yang diberi legitimasi zaman.

Kesadaran inilah yang harus terus dijaga. Dengan berpijak pada syariat, akal sehat, dan fitrah kemanusiaan, bangsa ini dapat tetap berdiri tegak—tidak hanyut oleh arus, tidak silau oleh jargon, dan tidak goyah oleh tekanan.

Sebab sejarah telah berulang kali membuktikan:
bangsa yang kehilangan moralitas, sejatinya sedang menggali lubang kehancurannya sendiri.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button