NASIONAL

Bursa Zarnubi: Membangun Kabupaten Lahat Dengan Jiwa Yang Berakar

(Catatan Pemikiran Bursa Zarnubi – tentang Arah Pembangunan Daerah)

Bursa Membangun Kabupaten Lahat Yang Berkesesuaian dengan Tradisi, Budaya dan Kegiatan Masyarakat pada Umumnya.

Yaitu orieantasi pertanian, perkebunan maupun sektor yang dilakukan sebagian besar masyarakat Lahat . Membangun Lahat dengan Jiwa yang Berakar

Di banyak tempat, pembangunan sering dimulai dari sesuatu yang tampak: jalan yang dibangun, gedung yang didirikan, angka-angka pertumbuhan yang diumumkan. Namun di Lahat, saya percaya, pembangunan harus dimulai dari sesuatu yang tidak selalu terlihat—yakni memahami jiwa masyarakatnya.

Lahat bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah ruang hidup yang tumbuh dari tradisi panjang, dari kebiasaan yang diwariskan, dari cara masyarakat memaknai alam dan kehidupan. Maka membangun Lahat tidak bisa dilakukan dengan memutus masa lalu, melainkan dengan merangkulnya sebagai fondasi.

Mayoritas masyarakat kita hidup dari pertanian dan perkebunan. Sawah yang terbentang, kebun kopi di dataran tinggi, karet yang disadap setiap pagi—semua itu bukan sekadar aktivitas ekonomi. Ia adalah ritme kehidupan. Ada kesabaran di sana, ada ketekunan, ada pula nilai kebersamaan yang tidak tergantikan oleh sistem apa pun.

Karena itu, arah pembangunan yang ingin kita dorong bukanlah menggeser masyarakat dari akar kehidupannya, tetapi memperkuatnya. Pertanian tidak boleh dipandang sebagai sektor yang tertinggal. Ia justru harus menjadi basis kemajuan.

Modernisasi dalam pertanian adalah keniscayaan, tetapi ia tidak boleh datang dengan cara yang meminggirkan kearifan lokal. Teknologi harus hadir sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti nilai. Kita ingin petani Lahat tetap menjadi tuan di tanahnya sendiri—lebih produktif, lebih sejahtera, namun tetap berdaulat.

Dalam konteks ini, negara—melalui pemerintah daerah—harus hadir secara nyata. Akses terhadap pupuk, pembiayaan, irigasi, hingga pemasaran tidak boleh menjadi beban yang ditanggung sendiri oleh petani. Kita perlu membangun sistem yang adil, yang memungkinkan hasil kerja keras mereka dihargai dengan layak.

Baca Juga  Ngidang, Tradisi Makan Bersama yang Menjaga Denyut Silaturahmi Warga Palembang

Perkebunan juga demikian. Selama ini, sektor ini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat. Namun tantangannya tidak kecil: fluktuasi harga, ketergantungan pada pasar, hingga keterbatasan akses terhadap pengolahan hasil.

Di sinilah kita perlu berpikir lebih jauh. Lahat tidak boleh hanya menjadi penghasil bahan mentah. Kita harus mulai mendorong hilirisasi—mengolah hasil perkebunan menjadi produk bernilai tambah. Dengan begitu, kesejahteraan tidak berhenti di tingkat produksi, tetapi berlanjut hingga ke rantai ekonomi yang lebih luas.

Namun pembangunan tidak hanya berbicara tentang ekonomi. Ia juga tentang manusia sebagai makhluk sosial dan budaya.

Masyarakat Lahat memiliki kekayaan tradisi yang tidak ternilai. Kegiatan adat, nilai gotong royong, serta kehidupan sosial yang erat adalah kekuatan yang sering kali luput dari perencanaan pembangunan. Padahal di sanalah letak ketahanan sosial kita.

Pembangunan yang baik bukan yang menggantikan budaya, tetapi yang memberi ruang agar budaya tetap hidup. Kita tidak ingin modernitas datang sebagai sesuatu yang asing, yang perlahan mengikis identitas. Kita ingin kemajuan yang bersanding dengan tradisi, bukan bertentangan dengannya.

Di sisi lain, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap perubahan zaman. Generasi muda Lahat menghadapi dunia yang berbeda. Mereka membutuhkan akses pendidikan yang lebih baik, keterampilan yang relevan, serta peluang untuk berkembang tanpa harus meninggalkan daerahnya.

Di sinilah keseimbangan menjadi penting. Kita menjaga akar, tetapi juga membuka cabang. Kita mempertahankan identitas, tetapi tidak menutup diri dari inovasi.

Baca Juga  Banyuasin Maju Bila Produk Unggulan Masyarakat Dikelola dengan Strategi Ekonomi yang Tepat

Pembangunan harus mampu menjembatani dua dunia itu—dunia yang diwariskan dan dunia yang sedang tumbuh.

Saya juga meyakini bahwa pembangunan sejatinya adalah soal keadilan. Tidak boleh ada kelompok yang tertinggal. Tidak boleh ada wilayah yang merasa jauh dari perhatian. Setiap kebijakan harus diuji dengan satu pertanyaan sederhana: apakah ini membawa manfaat nyata bagi masyarakat?

Karena pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak diukur dari seberapa besar anggaran yang terserap, tetapi dari seberapa besar dampaknya dirasakan.

Apakah petani lebih tenang dalam bekerja?
Apakah harga hasil panen lebih adil?
Apakah anak-anak memiliki harapan yang lebih luas?
Apakah masyarakat merasa lebih dihargai?

Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu adalah “ya”, maka kita sedang berada di jalan yang benar.

Lahat yang kita cita-citakan bukanlah Lahat yang sekadar tumbuh secara ekonomi, tetapi Lahat yang hidup secara utuh. Daerah yang mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan dan nilai, antara produktivitas dan kemanusiaan.

Kita ingin melihat Lahat yang kuat karena masyarakatnya kuat. Lahat yang maju karena rakyatnya sejahtera. Dan Lahat yang dihormati bukan karena kemegahan fisiknya, tetapi karena keteguhan jiwanya.

Membangun daerah bukan pekerjaan satu orang. Ia adalah kerja bersama, yang membutuhkan kesadaran kolektif dan komitmen yang berkelanjutan.

Dan di atas semua itu, pembangunan harus selalu kembali pada satu tujuan: menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat, tanpa membuat mereka kehilangan jati dirinya.

Itulah arah yang ingin kita tempuh. Pelan, mungkin. Tetapi pasti. Dan yang terpenting—berakar. (*)

 

@bangbangunlubis

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button