ARTIKELPENDIDIKAN

Cerita Sukses Matchakitou, Pelopor Matcha Bar Pertama di Palembang

Meski baru beroperasi selama 8 bulan, Matchakitou sukses menerapkan sistem kerja mandiri yang terstruktur dan terintegrasi dengan ekosistem digital.

Brita-Brita, Palembang

Saat jejak kaki melangkah ke sebuah bangunan di Jalan Perwari Nomor 6, Kelurahan 9 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, pandangan mata akan langsung tertuju pada satu sudut tempat yang langsung terasa menyejukkan pandangan.

Di sana, sebuah bangunan minimalis dengan dominasi warna hijau lembut berdiri tenang. Tata ruang bersih tanpa ornamen berlebihan, pencahayaan pas di mata, serta semerbak wangi teh hijau yang berbaur lembut di udara.

Tempat itu bernama Matchakitou. Meski usianya belum genap satu tahun, baru sekitar delapan bulan meramaikan belantika kuliner Palembang, matcha bar pertama di Kota Pempek ini telah menjelma menjadi ruang pelarian yang nyaman bagi banyak orang. Di balik dindingnya yang bersahaja, ada cerita tentang mimpi, perencanaan yang matang, dan ketulusan kerja sebuah tim kecil yang patut ditelisik.

Keberhasilan manajemen Matchakitou ini memantik perhatian dunia akademis. Pada Selasa (14/5/2026), sekelompok mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas IBA Palembang melakukan observasi mendalam selama tiga jam di kafe bernuansa minimalis hijau tersebut. Kunjungan ini merupakan bagian dari praktik lapangan Mata Kuliah Kewirausahaan di bawah bimbingan dosen Ria Astri Yani, SE, MSi.

Keempat mahasiswa itu adalah M Ridwan, Alya Sanda, Dinie Dewantari, dan Nuzully Ramadani. Mereka meluangkan waktu bukan untuk sekadar duduk menghitung angka di atas kertas teori, melainkan merasakan langsung detak jantung usaha ini berjalan.

Sore itu, sang pemilik, Evan Veda, kebetulan sedang berada di Jakarta untuk urusan pengembangan usaha. Namun, ketidakhadirannya justru membuka tabir sebuah ruang cerita yang jujur. Wawancara mendalam dan canda tawa mengalir langsung dari tiga karyawan Rakin, Steven dan Dhea, yang setiap hari memegang cangkir, menyapa pelanggan, dan memastikan setiap takaran rasa terjaga sempurna.

Membangun usaha rintisan sering kali diwarnai hiruk-pikuk yang melelahkan. Namun, Matchakitou tampil berbeda. Dengan lima orang karyawan yang memiliki pembagian tugas yang jelas, suasana di dalam kafe tetap tenang dan teratur meski pengunjung datang silih berganti.

Kemandirian ini tercipta berkat pembagian tugas (job description) yang jelas sejak awal. Mulai dari peracikan menu, kasir, pengelolaan bahan baku, hingga kebersihan memiliki penanggung jawabnya masing-masing. Hasilnya, tidak ada ruang bagi kegaduhan, setiap pesanan datang dan disajikan dengan ritme yang teratur serta ramah, bahkan di jam-jam sibuk (rush hour).

Sebagai pelopor, Matchakitou berani mengeksplorasi bahan baku teh hijau Jepang ini menjadi belasan varian olahan. Mulai dari cita rasa klasik yang pekat dan murni, varian berbasis susu segar yang lembut, hingga kreasi modern yang ramah di lidah generasi muda Palembang. Konsistensi rasa ini dijaga lewat takaran baku yang ketat pada setiap gelasnya.

Baca Juga  Wamendag Dyah Roro Esti Siapkan ‘Karpet Merah’ Bagi UMKM Lokal untuk Kuasai Pasar Global

Uniknya, kenyamanan ruang dan kualitas rasa premium tersebut tetap ditawarkan dengan harga yang ramah di kantong, mulai dari Rp25.000 hingga Rp30.000.

Tak hanya kuat di pasar luring (offline), Matchakitou sejak awal juga tanggap terhadap perubahan perilaku konsumen dengan mengintegrasikan bisnisnya ke ekosistem digital. Melalui platform pengantaran seperti GoFood dan ShopeeFood, Matchakitou berhasil memperluas jangkauan pasarnya langsung ke meja-meja kantor dan rumah pelanggan tanpa menurunkan kualitas produk saat tiba di tujuan.

​“Pak Evan selalu berpesan kepada kami, tempat ini bukan cuma mau jual minuman, tapi mau jual rasa nyaman. Warna hijau ini dipilih beliau supaya siapa saja yang melangkah masuk langsung merasa lebih tenang, pikiran segar, dan rasa lelah setelah beraktivitas bisa berkurang,” tutur karyawan bernama Rakin, di sela kesibukannya.

“Beliau selalu berpesan, tempat ini bukan cuma mau jual minuman, tapi mau jual rasa nyaman,” timpal Steven dan Dhea saat berbincang akrab dengan para mahasiswa, di sela‑sela waktu luang melayani pesanan.

Menjadi Inspirasi Dunia Pendidikan

M Ridwan, mahasiswa Universitas IBA mengatakan, selama tiga jam mengamati langsung, mereka melihat Matchakitou sebagai potret ideal bagaimana sebuah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mampu tumbuh dewasa dalam waktu singkat. Pola kerja tim yang saling menjaga kepercayaan dan disiplin internal menjadi fondasi utama yang membuat bisnis ini terus menggelinding positif.

“Kami sengaja memilih cara belajar seperti ini. Teori di kelas sudah banyak didapat, tapi rasanya belum lengkap kalau belum merasakan sendiri suasananya, belum mencicipi produknya, dan belum mendengar cerita dari orang‑orang yang benar‑benar menjalankan usaha ini dari pagi sampai malam. Selama tiga jam itu rasanya seperti membuka buku cerita yang isinya pengalaman nyata, bukan sekadar angka di atas kertas,” ungkap Ridwan.

Nuzully Ramadani mengatakan, mereka mengamati banyak hal sekaligus. Mulai dari bagaimana bahan baku disimpan dan diolah dengan standar kebersihan yang ketat, takaran rasa yang selalu dijaga sama persis setiap kali ada pesanan baru, kecepatan pelayanan, keramahan seluruh staf, hingga bagaimana sistem pemesanan yang masuk dari aplikasi daring dikelola agar tidak menumpuk dan kualitas rasa tetap terjaga sempurna.

“Kami sempat berbincang dengan
pengunjung tetap, yang rata‑rata mengaku kembali lagi karena konsistensi rasa dan suasana tempat yang benar‑benar bikin betah berlama‑lama,” katanya.

Alya Sanda menambahkan, ada kesan mendalam yang didapat tim dari hasil ngobrol panjang bersama para karyawan. Di balik tampilan yang terlihat simpel, tenang dan estetik, ternyata ada kesepakatan, disiplin dan kerja sama tim yang sangat kuat yang dijalankan setiap harinya.

Baca Juga  Kebangkitan Nasional Awal Abad ke-20, Awal Gerakan Nasional

“Banyak orang melihat kafe ini cuma sebagai tempat enak buat berfoto atau sekadar nongkrong saja. Padahal kalau diamati lebih dalam, di usianya yang baru 8 bulan, sistem kerjanya sudah jauh lebih tertata dibandingkan banyak usaha kuliner yang sudah berjalan bertahun‑tahun. Mendengar cerita langsung dari para karyawan justru membuat kami paham betul, fondasi kuat yang dibangun Pak Evan itu diteruskan dengan sangat baik oleh seluruh tim di sini. Itulah alasan utama kenapa kami makin tertarik mengupas usaha ini sampai tuntas,” ujar Alya.

Sementara itu, Dinie Dewantari mengatakan, dari seluruh hasil pengamatan, wawancara dan diskusi, tim melihat fondasi dasar Matchakitou sudah sangat kokoh. Meski begitu, masih ada ruang‑ruang peluang yang bisa dikembangkan lagi ke depannya, antara lain memperbanyak variasi menu musiman, memperkuat narasi cerita usaha lewat konten‑konten menarik di media sosial.

“Selain itu, menjaga keseimbangan antara jumlah pesanan daring dengan kapasitas produksi, agar mutu rasa tidak pernah berkurang,” katanya.

Menanggapi kegiatan tersebut, Ria Astri Yani, selaku dosen pengampu mata kuliah Kewirausahaan mengaku sangat mengapresiasi cara mahasiswa menyerap ilmu. Menurutnya, duduk santai sambil menikmati produk, mengamati perilaku nyata di lapangan, dan mendengarkan cerita langsung dari mereka yang menjalankan operasional harian, adalah metode pembelajaran paling jujur untuk memahami dunia kewirausahaan yang sesungguhnya.

“Banyak orang beranggapan belajar berwirausaha itu harus selalu rumit, penuh hitungan rumit atau duduk berjam‑jam terkunci di ruang kelas. Padahal tidak. Datang, merasakan sendiri, mengamati, dan mendengarkan cerita dari orang yang terlibat langsung, termasuk dari sisi karyawan, itulah sebagian besar ilmu yang sebenarnya tidak tertulis di buku teks,” katanya.

Ia menambahkan bahwa Matchakitou adalah contoh sukses UMKM yang mampu memadukan tiga pilar utama. Tim yang solid, adaptasi ekosistem digital, dan branding visual yang kuat.

“Baru 8 bulan berjalan, mereka sudah punya tim yang solid, masuk sepenuhnya ke ekosistem digital, dan memiliki identity branding yang kuat. Ini adalah bahan pembelajaran yang sangat kaya nilainya bagi calon-calon wirausahawan muda,” katanya.

Perjalanan delapan bulan Matchakitou telah memberikan standar baru bagi pelaku usaha kreatif di Palembang. Matchakitou bukan sekadar tempat melepas dahaga, melainkan sebuah simbol optimisme UMKM lokal yang mampu bertumbuh profesional, mandiri, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

(Ditulis Oleh: M Ridwan, Alya Sanda, Dinie Dewantari dan Nuzully Ramadani/Mahasiswa Mata Kuliah Kewirausahaan, Fakultas Ekonomi, Universitas IBA Palembang).

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button