NEWS

Kesepakatan Selat Hormuz Belum Tuntas, Iran Tetapkan Syarat

BritaBrita.com-Upaya mencapai kesepakatan sementara terkait jalur pelayaran di Selat Hormuz masih belum tuntas. Iran menegaskan bahwa kesepakatan dengan Oman tidak serta-merta membuat jalur strategis tersebut langsung dibuka kembali. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan pada Sabtu (8/8/2026) bahwa kesepakatan mengenai jalur transit maritim sementara bagi kapal yang masuk dan keluar Teluk Persia sudah “sangat dekat”.

Namun, Teheran kembali menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kelonggaran bagi pasokan minyak dan gas belum tentu berlangsung dalam waktu lama.

“Pembukaan selat tersebut bergantung pada sejumlah kondisi lain, termasuk kompensasi atas pelanggaran AS terhadap Kesepakatan Islamabad,” kata Araghchi, dikutip dari Bloomberg. Kesepakatan Islamabad yang dimaksud merupakan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang ditandatangani pada Juni.

Kisah Perempuan Pesisir Jepara Memutar Roda Ekonomi Keluarga Artikel Kompas.id Kesepakatan tersebut hanya bertahan kurang dari sebulan sebelum runtuh akibat perselisihan mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Iran Tetapkan Sejumlah Syarat Status Selat Hormuz menjadi salah satu faktor penting dalam konflik yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari. Hingga kini, belum jelas bagaimana Washington akan merespons jika kesepakatan mengenai jalur pelayaran tersebut tercapai. Presiden AS Donald Trump selama berbulan-bulan telah menuntut agar pelayaran bebas melalui Selat Hormuz kembali dilakukan.

Trump juga berulang kali mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran jika jalur tersebut tidak dibuka kembali. Wakil Presiden AS JD Vance pada Sabtu mengatakan telah ada kemajuan dalam pembicaraan terbaru. Namun, belum jelas apakah hasil akhirnya akan memenuhi kepentingan Washington. “Pertanyaannya adalah apakah Iran akan mampu memberikan hal-hal yang kami perlukan agar kami merasa puas, agar kami merasa telah mendapatkan apa yang kami perlukan dari keterlibatan khusus ini,” kata Vance kepada Fox News.

Baca Juga  Ratusan Pelajar dan Guru Haru Menyaksikan Drama Musikal "Nyanyian Anak dari Desa," Kisah Hidup Wako Ratu Dewa

Washington berulang kali mengisyaratkan bahwa pembicaraan tersebut mencakup pengelolaan Selat Hormuz. Iran membantah bahwa pembicaraan itu berkaitan dengan pengelolaan selat tersebut. Selain kompensasi, Iran juga menyampaikan sejumlah tuntutan lain. Mohammad Bagher Zolghadr, tokoh garis keras yang memimpin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan tuntutan itu mencakup pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran. Iran juga menuntut penarikan pasukan militer AS dari sekitar wilayah Iran. Selain itu, Teheran meminta pencabutan sanksi serta pembebasan aset-aset Iran yang dibekukan.

Oman Sebut Pembicaraan Berjalan Positif Oman, yang sebagian wilayah perairannya juga mencakup Selat Hormuz, mengatakan pembicaraan berlangsung dalam suasana “positif dan konstruktif”. Dalam unggahan di X, pemerintah Oman menyerukan penghentian tindakan di sekitar selat tersebut. Langkah itu dinilai diperlukan untuk memberikan ruang bagi upaya diplomatik.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Jalur tersebut menjadi sangat penting bagi perdagangan energi karena menjadi lintasan utama pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia. Lalu lintas kapal melalui titik sempit tersebut sebagian besar terhenti sejak perang dimulai. Namun, sejumlah kapal masih mengangkut kargo melalui program pengiriman ulang-alik yang melibatkan bantuan militer AS. Seiring pembicaraan yang belum mencapai kesepakatan final, kapal-kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz masih menghadapi risiko keamanan.

Abu Dhabi National Oil Co. mengatakan salah satu kapalnya menjadi sasaran rudal ketika sedang melintas pada Sabtu pagi. Kantor berita pemerintah Uni Emirat Arab (UEA), WAM, melaporkan serangan tersebut tidak menimbulkan korban luka dan situasi telah berhasil dikendalikan. Tiga kapal lain milik perusahaan minyak terbesar UEA tersebut juga diserang pada pekan sebelumnya. Harga Minyak Berfluktuasi Ketidakpastian mengenai kesepakatan Selat Hormuz turut memengaruhi pasar minyak. Harga minyak bergerak naik dan turun sepanjang pekan lalu sebelum minyak Brent akhirnya ditutup di atas 83 dollar AS per barrel.

Baca Juga  Muhammadiyah Palembang Gelar Aksi Nyata di Milad ke-113: Launching LBH, MBS, dan Tebar 113 Karung Beras untuk Umat

Pelaku pasar mempertimbangkan kemungkinan tercapainya kesepakatan yang diperkirakan dapat membuka jalan bagi pemulihan pasokan jutaan barel minyak dari kawasan Teluk Persia. Pada saat yang sama, ketegangan kembali meningkat di wilayah selatan Laut Merah dalam beberapa pekan terakhir. Kelompok pemberontak Houthi di Yaman mengumumkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi yang merupakan jalur alternatif penting bagi ekspor minyak negara tersebut.

Usai Kesepakatan Selat Hormuz Tercapai Pada Minggu, seperti dilansir kompas.com, Houthi mengklaim telah menyerang kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco menggunakan drone. Kelompok tersebut mengatakan serangan dilakukan sebagai respons terhadap langkah Arab Saudi di wilayah udara Yaman. Sebelumnya, Kementerian Energi Arab Saudi mengatakan kebakaran di fasilitas tersebut telah berhasil dipadamkan dan tidak ada korban. Pemerintah Saudi tidak memberikan penjelasan mengenai penyebab kebakaran tersebut. Saudi Aramco juga belum memberikan komentar ketika dimintai tanggapan.  Kebakaran tersebut setidaknya menjadi insiden kebakaran kedua di fasilitas Aramco tersebut dalam satu bulan terakhir.

Citra satelit menunjukkan kebakaran terjadi di sebuah tangki di kompleks berkapasitas 400.000 barel per hari itu pada akhir Juli. Saat itu, Houthi mengklaim telah menyerang fasilitas tersebut.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button