NEWS

Ini Tantangan Jurnalis Dalam Menghadapi AI

BritaBrita.com, BATAM —Tantangan jurnalis dalam menghadapi Perkembangan artificial intelligence  (AI) kian kompleks. Hal ini memengaruhi perubahan besar dalam cara masyarakat, kreator konten, hingga pekerja media memproduksi dan menyebarkan informasi.

Kini, proses pembuatan konten video dapat dilakukan jauh lebih cepat. Mulai dari mencari ide, menyusun naskah, melakukan produksi, menyunting, hingga menghasilkan video yang siap dipublikasikan, berbagai tahapan tersebut dapat dibantu oleh teknologi AI.

Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan baru, terutama berkaitan dengan keamanan data, akurasi informasi, etika, serta tanggung jawab pengguna.

Hal tersebut mengemuka dalam rangkaian kegiatan Festival Media Selat Malaka 2026 melalui sesi Training Keamanan Digital dan Artificial Intelligence (AI) untuk Jurnalis dan Pembuat Konten Muda di Batam

Kegiatan yang mengangkat tema pemanfaatan AI yang bijak ini melibatkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) serta SIDA.

Materi tersebut disampaikan oleh Eva Danayanti, Country Programme Manager International Media Support (IMS) untuk Indonesia yang bergerak di bidang pengembangan media.

Eva merupakan spesialis jurnalisme dan humaniora digital lulusan University of Colorado Boulder, Amerika Serikat. Ia memimpin berbagai proyek yang mendorong produksi konten berkualitas untuk kepentingan publik.

Pengalamannya di bidang media juga mencakup pengembangan modul dan pengajaran jurnalisme data di Jurnalismedata.id, serta pengajaran mata kuliah Bisnis Media Digital di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Saat ini, Eva juga aktif mendorong penerapan jurnalisme konstruktif di berbagai ruang redaksi media di Indonesia.

Menurut Eva, perkembangan AI tidak seharusnya hanya dilihat dari sisi kecanggihannya.

“Pengguna juga perlu memahami apa yang terjadi di balik teknologi tersebut,” ungkap Eva, Sabtu (19/9/2026).

Kemudahan menggunakan AI, kata dia, tidak boleh membuat masyarakat lengah terhadap data dan informasi yang mereka berikan kepada berbagai platform digital.

“Data apa yang kita berikan? Apakah aktivitas kita sedang direkam atau dipantau? Siapa yang memiliki atau dapat mengakses data tersebut? Apa yang terjadi dengan informasi yang kita masukkan ke dalam sebuah platform?” tanyanya, menyebutkan sejumlah pertanyaan penting yang perlu diperhatikan pengguna.

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika teknologi AI semakin mudah diakses dan digunakan dalam berbagai aktivitas, termasuk produksi konten.

Eva juga mengingatkan bahwa artificial intelligence sebenarnya bukan teknologi yang baru muncul bersamaan dengan popularitas ChatGPT.

“Sebelum generative AI berkembang pesat, teknologi seperti machine learning dan berbagai bentuk AI lainnya telah digunakan dalam kehidupan sehari-hari,” sebut Eva.

Bahkan, menurut Eva, berbagai perangkat yang digunakan masyarakat saat ini telah memanfaatkan teknologi AI dalam sistemnya.

“Popularitas ChatGPT dan teknologi generative AI kemudian membuat istilah AI semakin dikenal masyarakat luas,” imbuhnya.

Baca Juga  Siapkah Indonesia Menghadapi Tantangan Besar Abad 21?

Perbedaan generative AI dengan teknologi machine learning sebelumnya antara lain terlihat dari kemampuannya berinteraksi menggunakan bahasa yang lebih dekat dengan cara manusia berkomunikasi.

Generative AI dirancang menggunakan pendekatan yang terinspirasi dari cara kerja jaringan saraf manusia. Hal tersebut memungkinkan pengguna memberikan instruksi menggunakan bahasa sehari-hari dan mendapatkan respons yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan,” pungkasnya.

Namun, kemudahan tersebut tidak berarti bahwa seluruh jawaban yang dihasilkan AI otomatis benar.

“Justru, semakin mudah teknologi digunakan, semakin besar pula kebutuhan pengguna untuk memahami cara kerja, keterbatasan, dan risikonya,” ungkap Eva.

Content Explainer, Bukan Sekadar Menyampaikan Informasi

Salah satu pendekatan produksi konten yang turut dibahas dalam pelatihan ini adalah content explainer.

Format ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Media telah lama menggunakan format penjelasan untuk membantu audiens memahami sebuah isu.

Namun, content explainer semakin relevan di tengah perubahan perilaku audiens, terutama generasi muda yang tidak lagi hanya membutuhkan informasi mengenai apa yang terjadi, tetapi juga ingin memahami konteks dan alasan di balik sebuah peristiwa.

Content explainer, dengan demikian, tidak berhenti pada penyampaian fakta, tetapi berusaha membantu audiens memahami sebuah persoalan secara lebih utuh,” ucap Eva.

Dalam pengembangan konten semacam ini, Eva menekankan pentingnya metode dibandingkan ketergantungan pada satu perangkat atau platform AI tertentu. Pasalnya, teknologi dan perangkat AI akan terus berkembang dan berubah.

“Yang lebih penting adalah memahami bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan secara tepat,” katanya.

Menurutnya, AI dapat dimanfaatkan dalam berbagai peran, mulai dari membantu memahami informasi, memperjelas hal yang belum dipahami, menciptakan konten, hingga membantu pengguna menjadi konsumen informasi yang lebih kritis.

“Pembelajaran mengenai AI pun idealnya tidak berhenti pada teori. Pengguna perlu mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan langsung bagaimana teknologi tersebut digunakan dalam proses produksi konten,” tutur Eva.

Manusia Tetap Memegang Kendali

Dalam proses produksi konten, AI dapat digunakan hampir di setiap tahapan, mulai dari pencarian ide hingga publikasi.

Kendati demikian, Eva menekankan satu prinsip penting: manusia tetap harus menjadi pihak yang memegang kendali dan mengambil keputusan utama.

“AI dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi tidak seharusnya menggantikan pertimbangan manusia,” tegas Eva.

Pada tahap menentukan ide dan arah konten, misalnya, manusia tetap menentukan apa yang ingin disampaikan, siapa audiensnya, serta tujuan yang ingin dicapai.

“AI dapat memberikan alternatif ide maupun sudut pandang, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan pembuat konten,” pungkasnya.

AI, masih kata Eva, dapat membantu mengumpulkan informasi awal, merangkum bahan, maupun memberikan gambaran mengenai suatu topik. Namun, informasi yang dihasilkan AI tidak dapat langsung dianggap sebagai fakta.

Baca Juga  Kebiasaan Simpel yang Bisa Cegah Hipertensi, Perbanyak Konsumsi Ini

“Setiap informasi penting harus ditelusuri kembali kepada sumber yang kredibel,” katanya.

Ia berujar, salah satu tantangan terbesar dalam penggunaan AI adalah kemampuannya menghasilkan informasi yang terdengar meyakinkan meskipun tidak benar.

Dalam kondisi tertentu, AI dapat menghasilkan data, nama, kutipan, atau bahkan informasi yang seolah-olah berasal dari sebuah wawancara, padahal tidak memiliki sumber yang nyata.

“Karena itu, proses verifikasi menjadi bagian yang sangat penting dalam produksi konten berbasis AI,” sebut Eva.

Setiap fakta, data, kutipan, dan informasi penting harus diperiksa kembali oleh manusia sebelum digunakan dan dipublikasikan.

“Prinsip tersebut juga berlaku ketika AI digunakan untuk membuat naskah,” jelasnya.

AI dapat membantu membuat draf, menyusun struktur tulisan, memperbaiki bahasa, atau mengembangkan narasi. Namun, manusia tetap harus memeriksa isi, konteks, akurasi, serta kesesuaian naskah dengan tujuan konten.

Dalam tahap produksi dan penyuntingan, AI juga dapat membantu mengolah berbagai elemen, seperti gambar, suara, video, transkripsi, maupun penyuntingan teks.

“Tetapi sekali lagi, manusia tetap memiliki peran penting dalam melakukan pengawasan dan menentukan hasil akhir,” katanya.

Secara umum, proses produksi konten dapat dibagi menjadi beberapa tahapan praproduksi, seperti menentukan ide, membuat kerangka (outline), mengumpulkan informasi awal, menyusun konsep, melakukan riset, melakukan verifikasi, hingga membuat naskah.

“AI dapat digunakan sebagai alat bantu pada hampir seluruh tahapan tersebut. Namun, AI bukan sumber utama kebenaran,” ucap Eva.

Sebelum konten dipublikasikan, pembuat konten tetap perlu melakukan pemeriksaan dari berbagai sisi, mulai dari fakta, konteks, etika, hak cipta, hingga potensi dampaknya terhadap publik.

“Dengan pendekatan tersebut, teknologi AI dapat menjadi alat yang membantu manusia bekerja lebih cepat tanpa menghilangkan tanggung jawab editorial,” katanya.

Ia menekankan, tantangan terbesar bukan sekadar bagaimana menggunakan AI, tetapi bagaimana menggunakan teknologi tersebut dengan metode yang tepat dan bertanggung jawab.

“Gunakan AI untuk mempercepat proses, tetapi jangan menyerahkan keputusan editorial kepada AI,” imbuhnya.

Teknologi seharusnya membuat manusia semakin mampu menghasilkan informasi dan karya yang bermanfaat, bukan membuat manusia semakin lengah.

Oleh karena itu, melalui momentum Festival Media Selat Malaka 2026 ini, pemahaman terhadap teknologi dan risikonya, keamanan data, verifikasi yang ketat, serta pentingnya mempertahankan kendali manusia diharapkan menjadi bekal utama bagi para jurnalis dan kreator konten muda.

“Gunakan teknologi dengan bijak. Pahami risikonya. Jaga keamanan diri sendiri dan, yang tidak kalah penting, jaga keamanan orang lain,” tandasnya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button