Zikir, Hati Jadi Tentram

Oleh: Albar Sentosa Subari
Siapa yang lebih memahami sebuah lukisan selain sang pelukisnya?
Siapa yang paling mengerti sebuah lagu selain penggubahnya?
Siapa yang mengenal baik sebuah mobil atau motor jika bukan pabrik pembuatnya?
Siapa yang lebih memahami keindahan sebuah bangunan jika bukan sang arsitekturnya?
Dan… siapa yang lebih mengerti tentang diri kita, jika bukan Allah yang telah menciptakan kita?
Untuk menenangkan jiwa dan menentramkan hati, Allah SWT telah memberikan obat yang sangat mujarab kepada kita sebagai hamba-Nya. Allah berfirman: *”Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Hati yang tenteram adalah:
* hati yang bebas dari rasa takut, selalu tawakal dalam kejujuran,
* hati yang terhibur dari duka cita, sehingga bebas dari kesedihan,
* hati yang bahagia, diridhai Allah dan ridha kepada-Nya,
* hati yang terbebas dari bimbang dan ragu, teduh dan kokoh,
* hati yang utuh, tidak terpecah-pecah, menyatukan kembali kekuatan dan arah,
* hati yang terjaga dari godaan setan, dominasi hawa nafsu, dan tipu daya musuh,
*hati yang senantiasa dekat kepada Sang Pencipta, di manapun ia berada.
Tidak ada amal yang lebih melegakan hati dan lebih agung pahalanya selain berzikir kepada Allah SWT.
Wahai…engkau yang sulit tidur,..yang menangis karena sakit,..yang bersedih karena tragedi,.. yang pikirannya diliputi mendung,…yang dihantui kemalasan,…yang hatinya hancur, dan yang berduka karena musibah sebutlah nama Allah yang suci, perbanyaklah zikir.
Maka hatimu akan tenang.
Allah berfirman: “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring.” (QS. An-Nisa: 103)
Semoga kita semua termasuk hamba-hamba Allah yang bertakwa.
Ladang Masalah dan Ujian
Hidup ini memang ladang masalah dan ujian. Tanpa diundang pun, masalah akan tetap menghampiri. Setelah satu masalah selesai, masalah lain datang menggantikan. Semuanya ibarat ujian di sekolah: setiap tingkat harus dilalui dengan soal-soal untuk bisa naik kelas.
Ujian-ujian itu adalah tantangan yang membentuk keberanian dan kekuatan pribadi. Bila kita gagal hari ini, tetaplah yakin bahwa kita akan berhasil esok. Insyaallah.
Kegagalan bukanlah akhir segalanya. Sikapilah dengan *positive thinking* kepada Allah. Anggaplah kegagalan sebagai kesuksesan yang tertunda, bahkan tanda akan datangnya keberhasilan. Inilah iman: keyakinan penuh pada janji Allah.
Walaupun ustadz dan ulama telah menasihati kita untuk tetap sabar, sering kali kita lupa. Saat masalah datang, hati kita resah dan gelisah, bahkan mungkin menyalahkan kehidupan itu sendiri.
Maka jika hati terasa gundah, resah, dan gelisah—
ingatlah… Allah telah memberikan jalan penenang hati: **zikir**.



