NASIONALOPINIPENDIDIKAN
Trending

Kartini Zaman Now: Anak Muda, Media, dan Perubahan Sosial

OLEH : Muhamad Afdoli Ramadoni, S.Sos.,M.Sos.,CPS
(Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Palembang)
PERINGATAN Hari Kartini setiap 21 April tidak semestinya berhenti pada simbolisme busana adat atau seremonial tahunan. Lebih dari itu, Kartini harus dipahami sebagai gagasan, kesadaran kritis, dan gerakan intelektual yang melampaui zamannya. Dalam konteks masyarakat kontemporer, khususnya di era media digital, pertanyaan yang relevan bukan lagi siapa Kartini, melainkan bagaimana semangat Kartini diaktualisasikan oleh anak muda hari ini melalui media. Di sinilah diskursus tentang “Kartini Zaman Now” menemukan relevansinya: perjumpaan antara generasi muda, media, dan perubahan sosial.
Raden Ajeng Kartini hidup dalam keterbatasan struktural yang kuat budaya patriarki, akses pendidikan yang timpang, serta pembatasan ruang gerak perempuan Jawa bangsawan pada akhir abad ke-19. Namun, Kartini menjadikan tulisan dan korespondensi sebagai medium perlawanan intelektual. Surat-suratnya yang kemudian dibukukan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang mencerminkan kesadaran kritis tentang ketidakadilan sosial, pentingnya pendidikan, dan emansipasi perempuan sebagai fondasi kemajuan bangsa (Kartini, 1911/2005). Media pada masa Kartini bersifat elitis dan terbatas, tetapi ia berhasil memanfaatkannya secara strategis untuk menyuarakan kegelisahan zamannya.
Jika Kartini menggunakan surat sebagai medium perubahan, maka anak muda hari ini hidup dalam lanskap media yang jauh lebih kompleks dan masif. Media digital—mulai dari media sosial, platform video, hingga ruang-ruang diskusi daring—telah menciptakan apa yang oleh Manuel Castells disebut sebagai network society, yaitu masyarakat yang relasi sosial, ekonomi, dan politiknya dimediasi oleh jaringan informasi (Castells, 2010). Dalam konteks ini, anak muda memiliki peluang besar untuk menjadi subjek perubahan sosial, sebagaimana Kartini pada masanya, tetapi dengan alat dan tantangan yang berbeda.
Anak muda di era media bukan sekadar konsumen informasi, melainkan juga produsen makna (prosumers). Henry Jenkins (2006) menyebut fenomena ini sebagai participatory culture, di mana individu secara aktif memproduksi, membagikan, dan mengomentari konten. Spirit Kartini dapat dilihat dalam berbagai gerakan digital yang digagas anak muda: kampanye kesetaraan gender, advokasi pendidikan inklusif, literasi digital, hingga kritik terhadap ketimpangan sosial. Hashtag, video pendek, dan tulisan daring menjadi “surat-surat Kartini” versi kontemporer yang menjangkau audiens lebih luas dan lintas batas.
Namun demikian, optimisme terhadap media juga harus diiringi sikap kritis. Media bukan ruang netral. Algoritma, kepentingan ekonomi, dan polarisasi wacana sering kali justru melemahkan substansi perjuangan sosial. Marshall McLuhan (1964) mengingatkan bahwa the medium is the message media bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi membentuk cara manusia berpikir dan bertindak. Dalam konteks ini, semangat Kartini menuntut anak muda untuk tidak hanya aktif di media, tetapi juga reflektif dan etis dalam menggunakannya.
Tantangan lain adalah kecenderungan aktivisme simbolik (slacktivism), yakni partisipasi sosial yang dangkal dan berhenti pada ekspresi identitas semata (Morozov, 2011). Semangat Kartini tidak dapat direduksi menjadi konten viral tanpa keberlanjutan praksis sosial. Kartini bukan hanya berpikir dan menulis, tetapi juga bercita-cita membangun pendidikan bagi perempuan pribumi. Oleh karena itu, “Kartini Zaman Now” seharusnya dimaknai sebagai integrasi antara kesadaran digital dan aksi nyata di ruang sosial.
Dalam konteks Indonesia, posisi anak muda sangat strategis. Bonus demografi dan penetrasi internet yang tinggi menjadikan generasi muda sebagai aktor utama produksi wacana publik. Namun, tanpa literasi kritis, media justru dapat memperkuat hoaks, ujaran kebencian, dan reproduksi ketimpangan. Di sinilah pentingnya menanamkan nilai Kartini: keberanian berpikir mandiri, kepekaan sosial, dan komitmen pada pendidikan. Media harus dijadikan sarana pencerahan (enlightenment), bukan sekadar hiburan atau pengakuan sosial.
Sebagai figur historis, Kartini juga mengajarkan bahwa perubahan sosial tidak selalu bersifat revolusioner dalam arti fisik, tetapi sering kali dimulai dari perubahan cara berpikir. Paulo Freire (1970) menyebut proses ini sebagai conscientization, yakni kesadaran kritis terhadap realitas sosial yang tidak adil. Anak muda yang memanfaatkan media untuk edukasi publik, dakwah sosial, dan advokasi kebijakan sejatinya sedang melanjutkan tradisi intelektual Kartini dalam konteks zaman yang baru.
Dengan demikian, “Kartini Zaman Now” bukanlah metafora kosong, melainkan sebuah panggilan etis dan intelektual bagi anak muda. Media digital adalah medan juang baru, tetapi nilai yang diperjuangkan tetap sama: keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan. Peringatan Hari Kartini seharusnya menjadi momentum reflektif untuk menilai sejauh mana media telah digunakan sebagai alat perubahan sosial, bukan hanya sebagai panggung eksistensi. Di tangan anak muda yang kritis dan beretika, semangat Kartini akan terus menyala—melampaui zaman, medium, dan generasi. (***)
Daftar Referensi
Castells, M. (2010). The Rise of the Network Society (2nd ed.). Oxford: Wiley-Blackwell.
Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum.
Jenkins, H. (2006). Convergence Culture: Where Old and New Media Collide. New York: New  York University Press.
Kartini, R. A. (2005). Habis Gelap Terbitlah Terang (terj.). Jakarta: Balai Pustaka. (Karya asli  diterbitkan 1911).
McLuhan, M. (1964). Understanding Media: The Extensions of Man. New York: McGraw- Hill.
Morozov, E. (2011). The Net Delusion: The Dark Side of Internet Freedom. New York:  PublicAffairs.
Baca Juga  Jurnalisme di Tengah Riuh Zaman: Antara Kecepatan, Etika, Kekuasaan dan Nurani

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button