Universitas Kader Bangsa Gelar Yudisium XXIII, Para Alumni Siap Melangkah Ke Dunia Profesional

BritaBrita.com,Palembang – Universitas Kader Bangsa (UKB) sukses menggelar upacara Yudisium XXIII di Aula Lantai 5 Kampus UKB, Sabtu, 29 November 2025. Suasana khidmat dan penuh sukacita mengisi prosesi yudisium 464 orang peserta Program Diploma, Sarjana, dan Pascasarjana. Hal ini menandai babak baru mereka sebagai alumni yang diharapkan mampu menjadi agen perubahan di tengah arus disrupsi teknologi dan kompetisi global.
Upacara yang dimulai pukul 09.00 WIB ini dihadiri oleh sejumlah pimpinan universitas, dipimpin langsung oleh Ketua Yayasan Pendidikan dan Kesehatan Kader Bangsa, Dr. Hj. Irzanita, SH, SE, SKM, MM, MKes. Tampak hadir mendampingi, Rektor UKB, Dr. dr. Fika Minata Wathan, MKes, Wakil Rektor I, Dr. Hendra Sudrajat, SH, MH, Wakil Rektor III, Dr. Ilham Jaya, MH, beserta para Dekan, Kepala Program Studi, dan segenap Civitas Akademika UKB. Kehadiran Prof. Dr. Iskhaq Iskandar, M.Sc., Kepala LLDikti Wilayah II, sebagai pembicara kunci, menambah kemeriahan dan makna acara tersebut.
Dalam pidato sambutannya yang visioner, Rektor UKB, Dr. dr. Fika Minata Wathan, MKes, mengajak seluruh alumni untuk merefleksikan makna kecerdasan yang sesungguhnya. Beliau mengutip teori Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk) dari Howard Gardner yang membagi kecerdasan menjadi sembilan jenis: linguistik, logis-matematis, spasial-visual, kinestetik-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal, naturalis, dan eksistensial.
“Teori ini mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kombinasi unik dari kecerdasan ini. Keberhasilan tidak lagi hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual (IQ) semata,” tegas Rektor Fika.
Namun, di luar kesembilan kecerdasan tersebut, Rektor Fika menekankan perlunya kecerdasan lain yang justru semakin krusial di zaman yang bergerak cepat dan penuh kompetisi ini, yaitu kemampuan manajemen diri dan pengendalian emosi. Beliau menggambarkan kehidupan kontemporer yang sarat dengan perubahan di segala aspek, dari dunia kerja, administrasi, hingga kreativitas dan teknologi.
“Teknologi, termasuk Kecerdasan Buatan (AI), telah memudahkan banyak hal. Namun, kita harus ingat, secanggih apa pun AI, ia tidak akan pernah bisa meniru secara autentik hal-hal yang menjadi esensi kemanusiaan,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Rektor Fika kemudian merinci hal-hal yang tak tergantikan oleh mesin: moral dan etika, kemampuan membangun hubungan emosional yang mendalam, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan yang kompleks, kekayaan pengalaman hidup, serta nuansa komunikasi antar sesama manusia.
“Intinya, manusia jangan dikendalikan oleh teknologi, namun kitalah yang mengendalikannya. Para alumni harus menjadi generasi yang adaptif tetapi tetap punya prinsip,” pesannya yang disambut tepuk tangan meriah.
Beralih kepada para alumni, Rektor mengingatkan bahwa kelulusan hari ini bukan sekadar perpindahan status dari mahasiswa menjadi alumni. Lebih dari itu, ini adalah pengembalian amanah dan tanggung jawab untuk memegang teguh nama besar UKB.
“Bapak Ibu saudara-saudari adik-adikku yang pada hari ini dinyatakan lulus, kalian bukan hanya lulus, kalian menjadi alumni Universitas Kader Bangsa. Menjadi alumni itu bukan hanya status, tetapi tanggung jawab memegang nama besar UKB,” serunya.
Ia menegaskan bahwa reputasi sebuah kampus tidak hanya dibangun dari gedung megah, fasilitas lengkap, atau akreditasi yang baik. Reputasi yang sesungguhnya justru diukir oleh bagaimana para alumninya mencerminkan nilai-nilai luhur Kader Bangsa di tengah masyarakat.
“Salah satunya dapat mewujudkan etika kerja yang baik, menginspirasi di tempat kerja kita bersama. Para alumni dapat membantu adik-adik angkatan dan membawa nilai-nilai UKB ke ruang-ruang profesional yang kalian masuki,” jelas Rektor.
Pesan senada tentang pentingnya adaptasi dan peningkatan kompetensi juga disampaikan oleh Kepala LLDikti Wilayah II, Prof. Dr. Iskhaq Iskandar, M.Sc., dalam sambutannya Prof Iskhaq membawa para alumni membayangkan pergeseran paradigma tentang nilai sebuah ijazah.
“Dulu di jaman saya, sekitar 30 tahunan lalu, ijazah itu seakan-akan tiket emas. Seseorang yang memegang ijazah sarjana dijamin akan mendapatkan pekerjaan yang baik. Akan tetapi, sekarang, nilainya semakin menurun. Makin banyak lulusan perguruan tinggi. Dan sekarang kita dituntut juga untuk terus menambah kompetensi atau keahlian,” ujarnya.
Pernyataan ini menjadi tamparan halus sekaligus penyadaran bagi seluruh lulusan bahwa perjalanan belajar mereka tidak berhenti di sini. Dunia yang berubah dengan cepat menuntut pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning).
Disamping itu, menyoroti fakta bahwa sebagian besar lulusan UKB berasal dari rumpun ilmu kesehatan, Prof. Iskhaq kemudian menyampaikan pesan yang sangat mendalam dan penuh makna. Beliau mengajak para calon tenaga kesehatan ini untuk melihat peluang pengabdian yang lebih luas, tidak hanya terpaku di kota-kota besar.
Beliau mengutip konferensi kesehatan global yang baru-baru ini diselenggarakan di Bali, di mana salah satu topik utamanya adalah memperkuat arsitektur kesehatan global, khususnya di kawasan ASEAN. Dalam konteks itu, tiga pilar kesehatan, sumber daya manusia, kualitas layanan, dan infrastruktur menjadi fokus utama.
“Pak Presiden Prabowo memberikan instruksi untuk percepatan dan penguatan program studi kesehatan. Ini adalah momentum bagi kita semua,” jelasnya.
Namun, Prof. Iskhaq mengingatkan sebuah realita berbeda bahwa kesehatan itu, banyak di antara mereka yang membutuhkan, ada di desa-desa kecil yang belum tersentuh oleh pelayanan kesehatan yang memadai. “Jadi, Anda harus melihat bahwa ruang Anda untuk berbakti, untuk mengabdi, tidak hanya ada di kota besar. Bahkan, Anda sangat dinantikan oleh mereka yang ada di daerah-daerah yang belum memiliki layanan masyarakat yang memadai.” Ujarnya.
Pesan ini adalah seruan luhur untuk mengedepankan jiwa pengabdian. Di tengah minimnya infrastruktur dan alat-alat canggih di daerah terpencil, justru kualitas manusiawilah yang paling dibutuhkan.
“Kadang-kadang obat yang paling mujarab itu bukan dari obat atau laporan ini, tapi dari bentuk kepedulian, bagaimana kita melayani dengan hati pasien yang Anda datangi. Bukan hanya saja dengan ilmu yang baik, tapi dengan ketulusan Anda untuk mempersamai pasien keluar dari masalah yang dihadapi,” tutur Prof. Iskhaq.
Setelah rangkaian pidato selesai, acara dilanjutkan dengan momen-momen simbolis. Pertukaran cenderamata antara pimpinan UKB dan Kepala LLDikti II, Prof. Dr. Iskhaq Iskandar dilakukan sebagai bentuk penghargaan dan kerjasama yang erat antara universitas dan lembaga pemerintah.
Kemudian, suasana pun penuh kegembiraan ketika para lulusan, dosen, dan pimpinan universitas berfoto bersama, mengabadikan momen bersejarah ini. Sorak-sorai dan tawa riang menggema di aula, menandai berakhirnya satu fase dan dimulainya petualangan baru sebagai alumni Universitas Kader Bangsa.
Dengan diyudisiumnya 464 kader bangsa ini, UKB kembali menebar harapan untuk lahirnya generasi pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual, siap mengabdi dengan hati di mana pun mereka berada, khususnya bagi mereka yang paling membutuhkan sentuhan pelayanan kesehatan yang manusiawi.



