Warga Antre Berjam-jam, Pemerintah Diminta Segera Bertindak
BANYUASIN DARURAT AIR BERSIH

BANYUASIN DARURAT AIR BERSIH
*Warga Antre Berjam-jam, Pemerintah Diminta Segera Bertindak

BritaBrita.com, Banyuasin – Di tengah wilayah yang dikenal kaya sumber air, ribuan warga di Kabupaten Banyuasin justru menghadapi krisis air bersih yang kian mengkhawatirkan. Setiap hari, mereka harus berjuang mendapatkan air untuk kebutuhan paling mendasar—memasak, minum, hingga kebersihan keluarga.
Pemandangan antrean panjang warga membawa ember dan jeriken kini menjadi hal yang biasa. Mereka berdiri berjam-jam, menunggu giliran mendapatkan air dari sumber terbatas atau distribusi mobil tangki.
Kondisi ini tidak hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga menguras harapan masyarakat yang sudah lama menanti solusi nyata.
Ihsan, salah seorang warga, mengungkapkan bahwa kesulitan air bersih telah berlangsung cukup lama dan belum menunjukkan tanda-tanda akan segera teratasi.
“Air itu kebutuhan utama. Tapi sekarang untuk mendapatkannya kami harus antre panjang. Kadang dapat, kadang tidak. Ini sangat menyulitkan kami,” ujar Ihsan.
Hal serupa disampaikan Mahalisi, yang menggambarkan beratnya kehidupan sehari-hari tanpa akses air bersih yang memadai.
“Kami tidak minta lebih. Kami hanya ingin air bersih selalu ada. Untuk memasak saja kami harus sangat hemat. Ini sangat berat bagi kami,” kata Mahalisi.
Ironisnya, Banyuasin yang dikenal memiliki wilayah perairan luas, justru menghadapi persoalan ketersediaan air bersih. Kondisi geografis seperti air payau dan intrusi air laut di sejumlah wilayah disebut menjadi salah satu penyebab sulitnya mendapatkan air layak konsumsi.
Namun bagi warga, persoalan ini bukan sekadar soal teknis, melainkan soal kehadiran dan keseriusan pemerintah dalam memberikan solusi jangka panjang.
Bantuan air bersih yang bersifat sementara dinilai belum cukup. Warga menuntut adanya pembangunan infrastruktur air bersih yang memadai, termasuk jaringan distribusi yang merata dan pengelolaan sumber air yang berkelanjutan.
Dampak krisis ini juga mulai merambah sektor kesehatan. Penggunaan air yang tidak higienis meningkatkan risiko penyakit, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan. Di sisi lain, aktivitas ekonomi warga turut terganggu.
Sejumlah usaha kecil terpaksa mengurangi operasional karena keterbatasan air bersih, menambah beban kehidupan masyarakat yang sudah sulit.
Warga pun berharap Bupati Banyuasin dan jajaran pemerintah daerah segera turun tangan dengan langkah konkret.
“Kami sudah lama menunggu. Jangan hanya datang melihat, tapi tolong selesaikan. Ini kebutuhan dasar kami,” tegas Ihsan.
Bagi masyarakat, akses terhadap air bersih bukanlah kemewahan, melainkan hak dasar yang harus dipenuhi. Mereka berharap krisis ini tidak lagi menjadi rutinitas yang harus dijalani setiap hari.
“Ini bukan sekadar soal air, ini tentang kehidupan kami,” tutup Mahalisi.
Editor: Bang Lubis
–



