ARTIKELOPINI

Menolak Kalah dari Algoritma: Menggugat Hilangnya Budaya Membaca di Balik Kilau Layar

Sekolah dan keluarga harus menjadi benteng utama. Anak-anak yang tumbuh dengan melihat orang tuanya membaca buku, bukan sekadar menggenggam ponsel, memiliki peluang jauh lebih besar untuk mencintai literasi.

Oleh: Syakinah Khairunnisa (​NPM: 2301110075).

Mahasiswi Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang.

DI tengah arus informasi yang mengalir tanpa henti lewat layar ponsel, ada sesuatu yang perlahan menguap dari keseharian kita, kemampuan membaca yang mendalam, pelan, dan penuh perenungan. Kita hari ini adalah masyarakat yang sibuk menatap, namun abai memahami.

​Data UNESCO menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 dari 61 negara terkait tingkat literasi, dengan indeks minat baca yang hanya menyentuh angka 0,001%. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang memiliki minat baca serius. Survei lain mencatat rata-rata orang Indonesia hanya mengonsumsi satu hingga dua buku per tahun, salah satu angka terendah di Asia Tenggara.

Ironisnya, fakta tersebut kontras dengan durasi layar (screen time) kita. Berdasarkan laporan We Are Social, netizen Indonesia menghabiskan rata-rata 7 hingga 8 jam sehari berselancar di dunia maya. Kita tidak benar-benar berhenti membaca kita membaca caption Instagram, judul berita sensasional, utas X (Twitter), dan pesan singkat tanpa henti. Namun, ada perbedaan mendasar antara membaca sekilas (skimming) dan membaca sungguh-sungguh. Yang pertama hanya memberi potongan informasi mentah. Kedua membentuk struktur cara kita berpikir.

​“Membaca buku bukan sekadar menyerap informasi. Ia melatih otak untuk berpikir panjang, mengasah empati, dan bertahan dalam ketidakpastian sesuatu yang mustahil diajarkan oleh algoritma.”

Menyalahkan teknologi secara membabi buta tentu sebuah kekeliruan. Digitalisasi adalah pisau bermata dua. Ia membuka gerbang akses pada jutaan teks, jurnal ilmiah, dan karya sastra dunia yang dulu tak terjangkau. Seorang anak di pelosok Nusantara kini bisa mengakses novel pemenang Booker Prize lewat gawai dalam hitungan detik. Masalah utamanya bukan pada ketersediaan bahan bacaan, melainkan pada ekosistem perhatian (attention economy) yang telah bergeser. Platform digital dirancang secara neurosains untuk memenangkan detik demi detik perhatian kita, dan buku, dengan segala kedalamannya, sering kali kalah bertarung.

Baca Juga  Jemaah Haji "Kursi Roda" Simbol Perjuangan Tiada Tara

Neurosains memberikan penjelasan yang menghentak: otak manusia memiliki sifat plastisitas (neuroplasticity). Otak yang terus-menerus dicekoki konten singkat, video berdurasi beberapa detik, dan stimulasi instan akan mengalami adaptasi biologis. Akibatnya, ia akan semakin sulit berkonsentrasi pada teks yang panjang dan kompleks.

​Sama seperti otot yang melemah akibat jarang dilatih, kemampuan membaca mendalam (deep reading) butuh latihan konsisten agar tetap tajam. Dampak dari penurunan kemampuan ini sangat mahal melemahnya daya berpikir kritis, runtuhnya empati yang biasa dibangun lewat narasi fiksi, dan menyempitnya rentang perhatian (attention span) secara kolektif.

​Yang lebih mengkhawatirkan, krisis literasi ini memperlebar jurang ketimpangan sosial. Penelitian global menunjukkan bahwa anak-anak dari keluarga dengan akses buku terbatas jauh lebih rentan terhadap dampak negatif paparan gawai yang berlebihan. Ketimpangan literasi bukan lagi sekadar soal kemampuan baca-tulis dasar, melainkan pembatas tebal antara mereka yang mampu memproses informasi kompleks secara mandiri dan mereka yang hanya menjadi konsumen pasif.

​Dalam konteks kebangsaan, ini adalah alarm bahaya. Ketidakmampuan mencerna bacaan secara kritis membuat masyarakat menjadi bahan bakar yang mudah tersulut oleh disinformasi, hoaks, dan propaganda politik murah.

​“Masyarakat yang membaca adalah masyarakat yang sulit dimanipulasi. Itu sebabnya literasi selalu menjadi urusan kelangsungan demokrasi, bukan sekadar urusan hobi individu.”

​Di era ketika sebuah narasi bisa menjadi viral dalam hitungan menit dan kebenaran objektif bisa dikubur di bawah gelombang konten emosional, kemampuan menimbang argumen, mengenali bias, serta membedakan opini dan fakta adalah benteng pertahanan sipil yang paling krusial.

Baca Juga  PM Thailand Dipecat, Situasi Politik Makin Memanas

​Membuka Buku sebagai Bentuk Perlawanan

​Solusi dari krisis ini bukanlah jalan mundur penuh nostalgia ke masa pra-internet. Yang kita butuhkan adalah keputusan sadar dan radikal: menyisihkan waktu tanpa notifikasi, memilih buku fisik atau e-reader tanpa fitur media sosial, dan menjadikan membaca sebagai latihan harian yang wajib, layaknya berolahraga.

​Langkah ini harus diinstitusikan. Beberapa negara Nordik, seperti Finlandia yang konsisten memuncaki skor PISA (Programme for International Student Assessment), telah lama menerapkan sesi membaca diam terpandu (sustained silent reading) di sekolah. Hasilnya berbanding lurus dengan kemampuan pemahaman teks siswa mereka yang sangat tinggi.

​Sekolah dan keluarga harus menjadi benteng utama. Anak-anak yang tumbuh dengan melihat orang tuanya membaca buku, bukan sekadar menggenggam ponsel, memiliki peluang jauh lebih besar untuk mencintai literasi. Kebijakan publik pun tidak boleh absen pemerintah harus menghidupkan perpustakaan daerah yang estetis dan nyaman, menggenjot program donasi buku ke wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), serta merombak kurikulum agar menempatkan membaca kritis sebagai kompetensi inti, bukan sekadar pelengkap halaman belakang.

​Kita tidak perlu memilih menjadi manusia modern atau manusia literat. Keduanya bisa berjalan beriringan, asalkan kita mau mengambil kendali aktif atas perhatian kita sendiri, bukan pasrah pada kendali algoritma. Membuka dan meresapi lembaran buku di tengah dunia yang bergerak serba cepat ini bukanlah sebuah tindakan kuno yang ketinggalan zaman. Itu adalah sebuah tindakan perlawanan, dan lebih dari itu, sebuah tindakan merawat harapan.  *

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button