Anis Matta: Gelora Harus Membangun Cerita Besar untuk Menangkan Pemilu 2029

Anis Matta: Gelora Harus Membangun Cerita Besar untuk Menangkan Pemilu 2029
Britabrita.com, JAKARTA — Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Anis Matta meminta seluruh jajaran partai memperkuat kemampuan membangun narasi dan cerita yang mampu menghubungkan kehidupan masyarakat dengan perjuangan politik Gelora.
Menurut Anis, kekuatan utama partai bukan semata-mata pada jumlah sumber daya, melainkan kemampuan membangun cerita yang membuat masyarakat merasa memiliki kepentingan langsung untuk bergabung dan bergerak bersama.
“Semua bermula dari cerita. Yang membuat orang bergabung dengan Partai Gelora kalau kita bisa menjawab dan membuat satu cerita bahwa ini tentang hidupnya dia, bukan tentang kita,” hal ini disampaikan Anis Matta dalam Rapat Koordinasi dan Bimbingan Teknis Nasional Desk Rekrutmen Anggota Partai Gelora Indonesia yang berlangsung di Hotel kawasan Jakarta Selatan.
Anis menilai narasi besar tentang ancaman krisis global yang selama ini disampaikan Gelora perlu diturunkan menjadi cerita yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Sebab, menurut dia, isu besar seperti krisis global dan perubahan geopolitik sering kali terasa abstrak bagi masyarakat yang setiap hari masih berhadapan dengan persoalan ekonomi dan kehidupan sehari-hari.
“Sekarang waktunya kita menurunkan narasi besar menjadi sebuah cerita,” ujarnya.
Gelora Harus Punya Cara Sendiri
Anis mengingatkan kader agar tidak minder hanya karena Gelora merupakan partai yang relatif baru dan memiliki sumber daya lebih kecil dibanding partai-partai besar.
Ia justru meminta kader mencari cara sendiri untuk memenangkan pertarungan politik.
“Bagi partai yang kecil seperti kita ini, kemampuan terbesar yang dibutuhkan adalah political engineering,” kata Anis.
Menurut dia, Gelora tidak perlu meniru strategi partai besar. Kader harus memahami cara partai lain bekerja, tetapi membangun strategi yang sesuai dengan karakter dan kekuatan Gelora.
Ia mengibaratkan strategi tersebut seperti kisah Nabi Daud menghadapi Jalut. Perbedaan kekuatan tidak menjadi alasan untuk menyerah, karena kemenangan dapat ditentukan oleh kemampuan membaca titik lemah dan menggunakan strategi yang tepat.
“Bacalah semua cara partai lain untuk menang, tapi jangan ikuti itu. Kita membuat cara kita sendiri sesuai dengan jalan yang kita tempuh,” tegasnya.
Tiga Langkah: Berimajinasi, Bergerak, dan Berdoa
Dalam menghadapi Pemilu 2029, Anis meminta kader di setiap wilayah membangun imajinasi politik tentang target yang ingin dicapai.
Menurutnya, setiap perubahan besar berawal dari imajinasi yang kemudian diterjemahkan menjadi energi, tekad, dan tindakan.
“Jangan merasa kecil hati kalau hayalannya besar. Sebab kalau sudah tancap di sini, itu akan turun ke hati kita. Waktu turun ke hati, dia jadi energi, jadi tekad. Kemudian turun ke badan, itu yang membuat kita bergerak,” ujarnya.
Selain membangun visi, Anis menekankan pentingnya mengatasi rasa tidak berdaya dan ketidakpercayaan diri yang dapat menghambat gerakan politik.
Ia juga mengingatkan kader untuk menjaga jarak secara psikologis dari masalah agar mampu berpikir jernih dalam mencari solusi.
Langkah ketiga, kata dia, adalah memperkuat hubungan spiritual melalui salat, doa, dan memohon petunjuk Allah dalam menentukan langkah politik.
“Bergabung, Bertumbuh, Berdampak”
Anis menegaskan, tantangan utama Gelora dalam agenda rekrutmen bukan sekadar membuat masyarakat menjadi anggota partai, tetapi menjawab pertanyaan mendasar: mengapa seseorang perlu bergabung dengan Gelora?
Jawaban atas pertanyaan tersebut, menurut Anis, harus menghubungkan masa depan masyarakat dengan masa depan Gelora.
“Kalau kita menjawab pertanyaan why, mengapa orang mesti bergabung, kita akan masuk ke dalam pikiran orang yang paling dalam, ke dalam psikologi pemilih,” katanya.
Ia menilai masyarakat tidak boleh ditempatkan hanya sebagai pengikut, tetapi sebagai pelaku perubahan.
Karena itu, Anis kembali menekankan gagasan “bergabung, bertumbuh, berdampak” sebagai bagian dari cerita besar Gelora.
“Yang kita ajak bukan sekadar menjadi follower, tapi menjadi pelaku,” ujarnya.
Anis menegaskan Gelora lahir dengan kesadaran bahwa Indonesia menghadapi tantangan besar di masa depan. Karena itu, partai tersebut ingin menempatkan rakyat sebagai pelaku sejarah, bukan sekadar objek dari perubahan.
“Kalau kita tidak menjadi pelaku sejarah, kita akan menjadi korban dalam sejarah itu,” tegas Anis.
Menurutnya, jika pertanyaan mendasar tentang alasan masyarakat bergabung dengan Gelora sudah terjawab, persoalan teknis seperti mekanisme keanggotaan dan tahapan setelah bergabung dapat diselesaikan kemudian.
Ia pun meminta seluruh jajaran Gelora menjadikan agenda rekrutmen sebagai momentum untuk membangun cerita baru yang mampu memperkuat keyakinan kader sekaligus menarik lebih banyak masyarakat menjelang Pemilu 2029.
Editor: Bangun Lubis



