Dari Madinah ke Tanah Air, Operasi Kepulangan yang Lebih Ruwet dari Acara Nikahan Sepupu di Kampung!

“Kalau haji adalah perjalanan suci, maka fase pulangnya itu seperti drama kolosal, penuh haru, logistik, dan kadang-kadang rebutan koper mirip rebutan jodoh di acara reuni SMA.”
Sahabat pembaca yang budiman dan budimanah, Haji 2025 ini ibarat warung pecel di hari Lebaran ramai, padat, panas, tapi tetap penuh rasa syukur. Setelah jemaah jungkir balik di Masya’ir, bertarung spiritual di Arafah, Muzdalifah, hingga Mina, kini kita masuk ke babak baru, yakni fase kepulangan. Bagian ini biasanya lebih banyak dramanya dari sinetron jam tujuh malam.
Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Pak Hilman Latief yang kini bisa kita panggil juga sebagai “Komandan Armada Kepulangan Jemaah” baru-baru ini ketemu dengan Deputy Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, Hasan Munakirah.
Mereka berdua ngobrol serius, tapi kalau dibayangkan bisa juga seperti dua manajer logistik yang lagi review acara hajatan skala galaksi.
Seperti biasanya, orang Arab Saudi kalau ngasih jadwal itu ibarat mantan ngasih deadline balikan, jelas, tegas, dan nggak bisa ditawar.
Timeline haji 2026 sudah dikasih dari sekarang, lengkap dengan checklist-nya, kuota, lokasi Masya’ir, kontrak, sampai pelunasan. Ini bukan main-main, seperti disuruh nyiapin kawinan anak bungsu dari sekarang padahal baru lamaran minggu lalu.
Hilman bilang semua stakeholders di Indonesia harus siap sedari awal. Kalau perlu, mulai dari sekarang sudah belajar logistik, minimal bisa bedain antara koper jemaah dan koper mantu.
Sementara itu, di Madinah, situasinya mendekati suasana stasiun saat Lebaran, penuh haru, pelukan, dan tentu saja… koper-koper segede kulkas dua pintu.
Petugas haji kita di Daker Madinah sekarang lagi kerja ekstra keras. Soalnya bukan cuma nerima jemaah pindahan dari Makkah, tapi juga harus memberangkatkan mereka pulang. Serius, ini seperti ngurus anak kos yang baru datang, sambil nganterin anak kos lama pindahan.
Pak Hilman pun sudah mewanti-wanti agar semua jemaah mengikuti prosedur, baik saat naik bus dari Makkah, saat di hotel Markaziyah (yang letaknya strategis, dekat Masjid Nabawi dan tukang kebab), maupun saat berziarah. Jangan sampai ada yang nyasar ke toko kurma dan lupa balik ke hotel.
Data terakhir mencatat, dari 525 kloter jemaah, 280 kloter alias 108.857 orang sudah pulang kampung dengan selamat, artinya sekitar 53,33% jemaah sudah bisa ngeluarin oleh-oleh dan pamer gelang haji.
Sisanya, sekitar 245 kloter masih bertahan di Makkah dan Madinah, entah karena masih menikmati suasana Nabawi atau masih cari kurma Ajwa diskon.
Tapi, tak semua berjalan mulus lantaran masih ada 92 jemaah yang dirawat di Rumah Sakit Arab Saudi dan 26 orang dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI).
Semoga mereka cepat pulih, bisa ngopi, dan kembali bercerita bahwa “Masya Allah… rumah sakit di Saudi tempatnya adem, perawatnya ramah, tapi nasi mandinya tetap bikin kangen nasi uduk”.
Kalau kata pepatah “Pergi haji itu mulia, tapi pulangnya yang bikin kelimpungan keluarga”
Karena begitu koper mendarat, yang ditanya bukan “gimana Arafah?”, tapi “mana oleh-oleh buat mak/pak/wak, mang,te, om…?” [he..he..he]
Namun dibalik itu, ada pelajaran penting untuk kita semua menyelenggarakan ibadah haji itu tidak hanya soal kuota dan bus AC. Tapi juga soal sabar, koordinasi, dan kemampuan mencari sandal yang hilang di masjid. Oleh sebab itu, seperti kata tetangga saya “Kalau belum siap ribet, jangan ngurusin haji, urus dulu cucian baju yang belum kelar dari lebaran kemarin”
Kita doakan seluruh jemaah yang masih di tanah suci agar diberikan kesehatan dan kemudahan dalam perjalanan pulang.
Juga untuk seluruh petugas yang kadang harus jadi tour guide, perawat, motivator, dan penenang jemaah yang kehilangan sendal, semoga diberi kekuatan dan sabar setebal sajadah di Masjidil Haram.
Dan ingat, haji bukan hanya ibadah individual, ia adalah festival kolosal yang butuh koordinasi tingkat langit ketujuh. Oleh karena itu, wajar jika para pejabat haji dari dua negara ini harus meeting dulu, biar tahun depan tidak lagi ada drama rebutan tenda atau bus nyasar sampai ke padang pasir, karena haji itu bukan hanya urusan spiritual, namun juga urusan sandal, koper, dan rindu pulang.[***]/one/foto : Kemenag



