HUKUM

Tetes Air Mata di Pelataran Raudhah

 

AKU berdiri di pelataran Raudhah, tempat suci nan penuh berkah, sepotong “surga” di Madinah nan mulia.

Di antara barisan manusia pencinta Rasulullah SAW, hatiku bagai remuk redam. Kesadaran akan kelemahan diri mendadak menyergap: aku hanyalah makhluk hina, penuh dosa, dan tak layak menghadiri tempat ini.

Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) dari Kloter 19 Embarkasi Palembang, KH Agus Jaya, Lc, M. Hum, Jumat 4 Juli 2025, merasakan bagaimana tetes demi tetes air mata mengalir deras, meminta ampunan. Setiap tetesan seolah membawa rekaman gelap masa lalu: maksiat-maksiat yang telah aku lakukan—yang kini terasa bagai beban yang menyesakkan dada.

Seolah kepedihan dosa-dosaku terolah jadi air mata, mencucuri titik-titik penyesalan dalam lubuk jiwa.

Dalam keramaian para pecinta Rasul, aku merasa asing. Bagaimana aku bisa menatapi tempat di mana jasad Rasulullah pernah berdiri, bila hati ini penuh noda? Seakan tidak mampu mendekati kesucian yang membersamai Beliau SAW. Rasa malu membuncah—tidak layak berada di dekat manusia agung yang penuh keutamaan nan mulia.

Baca Juga  Sidang PMH Eks Cineplex , Penggugat Hadirkan Dua Saksi Fakta 

Namun, keyakinan ini tidak hancur. Di balik rasa hina, hadir harapan: semoga Beliau SAW menerima hamba lemah ini sebagai umat yang mengharap rahmat. Semoga barisan doa ini, pelukan air mata dan rindu yang meluap, diterima menjadi penyejuk hati. Aku berharap, derap langkah menuju keikhlasan, peluh taubat, dan hela nafas penghambaan diri mengalir seperti sungai keabadian yang membersihkan jiwa.

Pelataran Raudhah tidaklah sekadar tempat—ia adalah cermin. Cermin tempat aku menyaksikan bayangan daku, betapa rapuh, betapa lapuk, dan betapa membutuhkan ampun-Mu ya Allah. Lalu kulihat harapan yang juga bersemayam: bahwa kasih sayang-Mu lebih luas dari luasnya ingkar dan maksiat yang pernah kulangkahkan.

Baca Juga  Demo Ojol Berkelanjutan, Tuntut Keadilan Tarif dan Potongan Biaya

Di sinilah tangisan itu berkata: “Ya Allah, berkahi aku dengan cinta Rasul-Mu. Ampuni aku, sucikan aku, dan jadikan aku saksi keagungan-Mu. Kirimkanlah rahmat-Mu, karena bukan aku yang layak—hanyalah kasih-Mu yang mengangkatku.”

Seraya mengangkat tangan di bawah pelataran suci ini, aku merapal doa paling tulus: “Ya Allah, di tempat tersuci ini aku yang rapuh mengakui segala kelalaianku. Kabulkan taubatku, dekatkan aku di bawah naungan rahmat-Mu, dan anugerahkanlah taufiq untuk terus berjalan di jalan Rasul-Mu SAW”

Air mataku berhenti, namun gema doa bergema abadi. Semoga setiap helai ketundukan, setiap kerendahan hati, membuka pintu ketenangan, pintu pengampunan, dan pintu cinta Ilahi—di pelataran Raudhah, dan di setiap sudut hidupku. (ica)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button