POLITIK

Membedakan Politik Kini dengan Makna Sejatinya

 

Oleh: Bangun Lubis

POLITIK seringkali menjadi kata yang membuat sebagian orang bergidik, seakan ia hanya berisi perebutan kekuasaan, intrik, dan permainan kepentingan.

Namun sejatinya, politik adalah sesuatu yang jauh lebih luhur: ia adalah seni mengelola kehidupan bersama, agar manusia dapat hidup dalam keadilan, kesejahteraan, dan harmoni.

Sayangnya, yang kita saksikan hari ini seringkali tidak seindah makna sejatinya. Politik kerap diturunkan derajatnya menjadi ajang transaksional, penuh dengan kepentingan sesaat, dan miskin nilai moral. Padahal, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

“Dan Kami jadikan mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Kami.”(QS. As-Sajdah: 24)

Ayat ini menegaskan bahwa kepemimpinan—yang merupakan inti dari politik—seharusnya berlandaskan petunjuk Allah, kesabaran, dan keyakinan, bukan semata ambisi pribadi.

Politik Masa Kini yang Tampak di Permukaan

Pertama, politik kini sering terjebak dalam transaksi kepentingan. Dukungan, kebijakan, bahkan arah partai sering ditentukan oleh hitung-hitungan keuntungan sesaat, bukan kepentingan rakyat jangka panjang.

Kedua, politik sering menjadi panggung pencitraan. Media dan teknologi komunikasi menjadikan politik sekadar permainan simbol, slogan, dan popularitas. Substansi pemikiran kalah oleh kemasan.

Ketiga, muncul wajah politik pragmatis. Orientasi mudah berubah demi posisi, demi kursi, bahkan demi kelanggengan diri. Prinsip mudah dikorbankan, nilai gampang diperdagangkan.

Baca Juga  Dinamika Politik Global: Perspektif Sejarah dan Geografi

Keempat, yang menyedihkan, politik sering dipertontonkan sebagai arena konflik, bukan musyawarah. Seolah politik adalah pertarungan yang hanya melahirkan pemenang dan pecundang, bukan jalan mencari solusi bersama.

Politik dalam Pemahaman Sejati

Jika kembali pada makna dasarnya, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan. Ia adalah amanah. Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”*(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam pengertian ini, politik sejati adalah tanggung jawab moral dan spiritual. Bukan hanya sekadar mencari posisi, melainkan melayani kepentingan rakyat, menjaga martabat bangsa, serta mewariskan keadilan bagi generasi mendatang.

Politik juga merupakan ibadah sosial. Mengurus kepentingan masyarakat adalah bagian dari amal jariyah. Seorang pemimpin yang adil, kata Nabi ﷺ, lebih dicintai Allah daripada ibadah pribadi yang terputus dari urusan umat.

Lebih jauh lagi, politik dalam Islam adalah jalan musyawarah. Al-Qur’an memuji orang-orang beriman yang mengatur urusan mereka dengan syura (QS. Asy-Syura: 38). Artinya, politik adalah ruang mencari titik temu, bukan memperuncing perbedaan.

Mengembalikan Politik ke Jalan Lurus

Baca Juga  Mengembangkan Partisipasi Politik Masyarakat: Jalan Menuju Demokrasi yang Bermartabat

Seorang filsuf politik, Aristoteles, pernah berkata: “Manusia adalah zoon politicon—makhluk yang berpolitik.” Tanpa politik, kehidupan bersama takkan tertata. Tetapi, tanpa etika dan nilai, politik hanya menjadi hutan belantara yang penuh persaingan buas.

Oleh karena itu, politik sejati harus ditopang oleh etika kebangsaan. Ia tidak boleh sekadar menjadi ajang perebutan kuasa, melainkan wadah untuk mengangkat harkat rakyat. Seorang pemimpin yang benar akan menjadikan politik sebagai sarana melahirkan kebahagiaan publik, bukan kemewahan pribadi.

Mahatma Gandhi pernah mengingatkan bahwa salah satu dosa besar manusia adalah *politik tanpa prinsip*. Jika prinsip hilang, maka politik berubah menjadi permainan yang menghancurkan. Tetapi jika prinsip dihidupkan, politik bisa menjadi jalan menuju kemakmuran dan kedamaian.

Hari ini, kita ditantang untuk membedakan politik yang kita lihat dengan politik dalam makna sejati, Politik yang ada sering membelenggu hati dengan kekecewaan, tetapi politik sejati justru mendamaikan hati, karena di dalamnya ada harapan untuk lahirnya keadilan.

Tugas kita bersama adalah mengembalikan politik pada akarnya: sebagai amanah, ibadah, musyawarah, dan jalan menuju kesejahteraan umat. Sebab hanya dengan politik yang benar, bangsa ini bisa mencapai cita-citanya: adil, makmur, dan bermartabat di hadapan dunia.

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button