KALAM

Hindari Berpikir Negatif: Belajar dari Kebingungan Mulla

Hindari Berpikir Negatif: Belajar dari Kebingungan Mulla

Oleh: Albar Santosa Subari – Pengamat Ilmu Hukum dan Sosial

Berpikir negatif merupakan salah satu penghalang utama dalam meraih impian, baik kesuksesan, kebahagiaan, maupun kesejahteraan hidup. Pola pikir semacam ini sering kali tidak lahir dari diri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh komentar, penilaian, dan bisikan lingkungan sekitar.

Ketika seseorang telah meyakini suatu jalan sebagai kebenaran, maka seharusnya ia melangkah dengan penuh keyakinan. Terus berjalan ke depan tanpa harus menoleh ke belakang. Fokus, konsistensi, dan keteguhan hati menjadi kunci agar tujuan hidup tidak terganggu oleh suara-suara yang melemahkan.

Fenomena mudahnya seseorang terpengaruh oleh pikiran negatif dapat dianalogikan melalui kisah klasik tentang Mulla dan keledainya.

Suatu hari, Mulla mengantar anaknya ke sekolah yang jaraknya cukup jauh. Ia membawa seekor keledai sebagai alat transportasi. Anak Mulla dinaikkan ke punggung keledai, sementara Mulla berjalan di sampingnya. Namun, belum jauh berjalan, seorang tetangga melontarkan kritik, menuduh Mulla tidak mengajarkan sopan santun karena membiarkan anaknya menunggang keledai sementara ia berjalan kaki.

Merasa bersalah, Mulla segera menurunkan anaknya dan gantian menaiki keledai. Akan tetapi, tidak lama kemudian, tetangga lain kembali mengkritik dengan tudingan berbeda: Mulla dianggap tidak bermoral karena membiarkan anaknya berjalan kaki seperti pembantu.

Dalam kebingungan, Mulla mengambil keputusan kompromi: ia dan anaknya menaiki keledai bersama-sama. Lagi-lagi, keputusan itu memancing kecaman warga lain yang menilai tindakan tersebut tidak berperikemanusiaan karena menyiksa hewan.

Tidak ingin disalahkan, Mulla akhirnya memutuskan untuk tidak menaiki keledai sama sekali. Ia dan anaknya berjalan kaki sambil menuntun keledai. Namun ejekan tetap datang. Kali ini, ia dianggap tidak menggunakan akal sehat karena menyia-nyiakan fungsi keledai.

Puncak kebingungan pun terjadi. Dalam kondisi tertekan, Mulla melakukan tindakan paling absurd: menggendong keledai di punggungnya, sementara anaknya menuntun dari depan. Alih-alih mendapat apresiasi, ia justru dicemooh dan dianggap gila. Akibat tekanan mental yang berat, Mulla akhirnya tersungkur jatuh bersama anak dan keledainya. Perjalanan menuju tujuan pun terhenti sebelum impian tercapai.

Kisah ini sejatinya adalah cermin bagi kehidupan sosial kita hari ini. Tanpa disadari, banyak orang terjebak seperti Mulla—terlalu sibuk mendengarkan komentar orang lain hingga kehilangan fokus pada tujuan hidupnya sendiri. Kesalahan utama Mulla bukan pada pilihannya, melainkan karena ia kehilangan prinsip dan arah akibat terlalu mudah dipengaruhi.

Baca Juga  Bukan Sekadar Angka, Saatnya Mahasiswa Pakai Data untuk Bangun Perubahan

Islam secara tegas mengingatkan umatnya agar tidak larut dalam prasangka dan pikiran negatif. Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.”(QS. Al-Hujurat: 12)

Untuk keluar dari jerat pikiran negatif, dibutuhkan perubahan cara pandang—dari curiga menjadi optimis, dari reaktif menjadi reflektif, serta disertai doa dan keimanan. Allah SWT berfirman:

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi orang-orang yang tidak beriman. Ampunilah kami. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS. Al-Mumtahanah: 5)

Di tengah realitas sosial akhir zaman, tidak sedikit orang yang lebih senang melihat orang lain jatuh daripada bangkit. Pikiran negatif sering kali bersumber dari penyakit hati seperti iri dan dengki terhadap keberhasilan yang tidak mampu diraih sendiri.

Oleh karena itu, membangun ketahanan mental dan spiritual menjadi keharusan. Dengan pikiran positif, prinsip yang kuat, dan iman yang kokoh, seseorang akan mampu melangkah mantap—tanpa tergoyahkan oleh hiruk-pikuk komentar yang melemahkan.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button