Raih Prestasi Dalam Penelitian Kanker, Dosen UKB Ali Zainal Abidin Juara 3 Oral Presentation pada Forum Internasional
BritaBrita.com,PALEMBANG— Ali Zainal Abidin, S.Si., M.Biomed, Dosen Universitas Kader Bangsa (UKB) berhasil meraih 3rd Winner – Oral Presentation pada The 5th World Immunology Day International Conference (WIDIC V) yang diselenggarakan, Sabtu, 15 Agustus 2026, secara hybrid di Postgraduate School, Universitas Airlangga, Surabaya. Pencapaian ini menjadi bentuk apresiasi terhadap kualitas penelitian sekaligus kemampuan dalam mengomunikasikan temuan ilmiah pada forum internasional, terutama dalam perkembangan penelitian kanker.
Seperti diketahui, WIDIC V mengangkat tema “Orchestrating The Immune System in Defense Against Infection and Autoimmune Diseases”, dengan mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai bidang untuk mendiskusikan perkembangan ilmu imunologi serta aplikasinya dalam berbagai kondisi penyakit.
Pada konferensi internasional tersebut, Ali mempresentasikan hasil penelitian berjudul:
“Plasma microRNA Signatures as Candidate Biomarkers Associated with Endocrine Resistance-Related FOXO and TGF-β Signaling in Bone-Metastatic HR+/HER2- Breast Cancer Patients.”

Penelitian ini mengeksplorasi profil plasma microRNA sebagai kandidat biomarker yang berkaitan dengan endocrine resistance pada pasien kanker payudara HR+/HER2- dengan metastasis tulang. Penelitian tersebut juga menyoroti keterlibatan jalur molekuler FOXO dan TGF-β, yang memiliki peran penting dalam berbagai proses biologis kanker, termasuk cell survival, respons terhadap terapi, progresivitas tumor, metastasis, serta interaksi antara sel tumor dan sistem imun.
Menariknya, jalur FOXO dan TGF-β tidak hanya relevan dalam konteks molecular oncology, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan immuno-oncology. TGF-β, misalnya, dikenal sebagai salah satu regulator penting dalam pembentukan lingkungan mikro tumor yang imunosupresif, sedangkan jalur FOXO berperan dalam regulasi cellular stress response, cell survival, dan fungsi berbagai komponen sistem imun. Interaksi kompleks antara sel kanker, jalur molekuler, dan sistem imun tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam memahami heterogenitas serta resistensi terapi pada kanker.
Melalui pendekatan microRNA profiling, penelitian ini berupaya melihat bagaimana perubahan regulasi molekuler dapat memberikan informasi mengenai karakteristik biologis penyakit. Pendekatan tersebut sejalan dengan perkembangan precision oncology, yaitu upaya memahami karakteristik biologis setiap pasien secara lebih spesifik untuk mendukung pengembangan biomarker dan strategi terapi yang lebih personal.
Dalam keterangan tertulisnya, Minggu (16/8/2026), Ali menyebut penghargaan tersebut bukan sekadar pencapaian kompetitif, tetapi menjadi motivasi untuk terus mengembangkan penelitian di bidang precision oncology, molecular oncology, dan immuno-oncology, khususnya dalam konteks kanker payudara.
“Bagi saya, penghargaan ini bukanlah tujuan akhir, tetapi menjadi motivasi untuk terus belajar dan mengembangkan penelitian. Kanker bukan hanya mengenai sel tumor, tetapi juga bagaimana sel kanker berinteraksi dengan lingkungan mikro di sekitarnya, termasuk sistem imun. Karena itu, memahami hubungan antara microRNA, jalur FOXO dan TGF-β, resistensi terapi, serta lingkungan mikro tumor dapat memberikan perspektif baru dalam memahami perjalanan penyakit dan respons pasien terhadap terapi,” ujar alumnus S1 Biologi UNSRI dan S2 Ilmu Biomedik UGM ini.
Ia berharap penelitian yang dilakukan tidak berhenti pada penemuan biomarker secara molekuler, tetapi dapat dikembangkan lebih lanjut menuju aplikasi klinis.
“Saya berharap penelitian ini dapat menjadi bagian kecil dari perjalanan menuju precision oncology yang lebih terintegrasi—bukan hanya memahami karakteristik sel kanker, tetapi juga memahami bagaimana kanker berinteraksi dengan sistem imun. Pada akhirnya, biomarker yang dikembangkan diharapkan dapat membantu kita memahami karakteristik biologis pasien secara lebih spesifik sehingga pendekatan diagnosis, prognosis, maupun terapi dapat semakin personal dan tepat sasaran.” katanya.
Selain menjadi ajang untuk mempresentasikan hasil penelitian, keikutsertaan dalam WIDIC V juga menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan dan jejaring ilmiah. Berbagai diskusi dengan peneliti dari bidang imunologi dan biomedis memberikan perspektif baru mengenai bagaimana ilmu imunologi dapat terintegrasi dengan penelitian kanker dan pengembangan precision medicine.
Ali juga memandang konferensi ilmiah bukan semata-mata sebagai tempat untuk berkompetisi, tetapi sebagai ruang untuk belajar, bertukar gagasan, membangun kolaborasi, dan menemukan pertanyaan-pertanyaan penelitian baru.
“Setiap konferensi memberikan pengalaman yang berbeda. Bukan hanya tentang apakah kita mendapatkan penghargaan atau tidak, tetapi tentang bagaimana kita mendapatkan perspektif baru dari peneliti lain dan membawa pulang ide yang dapat dikembangkan menjadi penelitian berikutnya. Saya berharap langkah kecil ini dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk menghasilkan penelitian yang tidak hanya baik secara akademik, tetapi juga memiliki manfaat nyata bagi pasien.”
Pencapaian sebagai 3rd Winner – Oral Presentation pada WIDIC V menjadi salah satu langkah dalam perjalanan pengembangan riset Ali di bidang precision oncology, khususnya untuk memahami kompleksitas kanker payudara melalui pendekatan biomarker molekuler dan interaksi tumor dengan sistem imun.
Ke depan, penelitian semacam ini diharapkan dapat terus dikembangkan melalui kolaborasi multidisiplin sehingga temuan di tingkat molekuler dapat semakin mendekati kebutuhan klinis dan pada akhirnya berkontribusi terhadap pengembangan precision medicine yang lebih personal, prediktif, dan berorientasi pada pasien. (res)


