NASIONALOPINI

Dari Makkah ke Bumi Sriwijaya, Meniti Jalan Pengabdian Dr. H. Muhammad Zainuddin Nawi

Ilmu tidak berhenti pada teori, tetapi berhadapan dengan manusia dan persoalan nyata.

Dari Makkah ke Bumi Sriwijaya, Meniti Jalan Pengabdian Dr. H. Muhammad Zainuddin Nawi

Oleh: Bang Bangun Lubis – Pemimpin Redaksi Britabrita.com

Tidak semua perjalanan hidup dimulai dari sebuah kota, lalu berakhir di tempat yang sama. Ada perjalanan yang justru membawa seseorang melintasi ruang, tradisi keilmuan, pengalaman, dan lingkungan sosial yang berbeda, sebelum akhirnya menemukan tempat pengabdian.

Perjalanan itu pula yang mewarnai kiprah Dr. H. Muhammad Zainuddin Nawi, Lc., M.A. Lahir di Makkah Al-Mukarramah, 1 April 1989, ia tumbuh di tengah lingkungan yang lekat dengan tradisi keislaman. Kota suci itu menjadi titik awal kehidupannya sekaligus pintu pertama mengenal dunia pendidikan Islam. Namun, perjalanan intelektual dan pengabdiannya tidak berhenti di Tanah Suci.

Dari Makkah, langkahnya berlanjut ke Madinah. Dari pusat pendidikan Islam di Arab Saudi, perjalanan itu kemudian membawanya ke Palembang. Di Bumi Sriwijaya inilah ilmu, pengalaman dan wawasan yang diperolehnya menemukan ruang baru: berhadapan langsung dengan masyarakat, dunia pendidikan, dakwah, organisasi dan berbagai persoalan keumatan.

Kini, Zainuddin Nawi dipercaya sebagai Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Selatan periode 2026–2031. Pada saat yang sama, ia juga mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Selatan periode 2022–2027.

Dua amanah tersebut melengkapi perjalanan panjangnya sebagai pendidik, pembina umat, pembimbing jamaah dan aktivis dakwah.

Dibentuk Tradisi Keilmuan Makkah dan Madinah

Masa awal pendidikannya dijalani di lingkungan pendidikan Islam. Ia menempuh pendidikan dasar di SD Daarul Faizin, kemudian melanjutkan ke SMP dan SMA Daarul Hadits Al-Makkiah.

Lingkungan pendidikan tersebut menjadi fondasi bagi perjalanan berikutnya. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia melanjutkan studi ke Islamic University of Madinah.

Pada 2011, ia menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Dakwah dan Usuluddin. Tidak berhenti pada jenjang sarjana, ia melanjutkan pendidikan Magister Tarbiah Islamiah dan menyelesaikannya pada 2015.

Makkah memberikan pengalaman awal tentang kehidupan keislaman, sementara Madinah memperluas cakrawala akademiknya. Dari sana, ia memperoleh bekal untuk memahami Islam tidak hanya sebagai pengetahuan, tetapi juga sebagai nilai yang harus hadir dalam kehidupan manusia.

Tetapi ilmu yang diperoleh dari pusat-pusat pendidikan Islam pada akhirnya membutuhkan ruang pengujian di tengah realitas masyarakat. Ruang itu kemudian ditemukan di Indonesia.

Palembang Menjadi Ruang Pengabdian

Baca Juga  Mega Wisata: Pelayanan Profesional Hingga Detail Barang Bawaan Jamaah Umrah

Palembang tidak sekadar menjadi tempat tinggal. Kota ini berkembang menjadi ruang pengabdian yang mempertemukan pengalaman keilmuan Timur Tengah dengan dinamika masyarakat Indonesia.

Di kota inilah Zainuddin melanjutkan pendidikan doktoral pada Program Pendidikan Agama Islam UIN Raden Fatah Palembang. Pendidikan doktoralnya diselesaikan pada 2022.

Perjalanan akademik tersebut membentuk satu garis yang menarik: pendidikan Islam yang ditempuh sejak Makkah dan Madinah kemudian diperdalam melalui pengalaman akademik di Indonesia.

Sejak 2016, ia mengabdi sebagai dosen pengajar Bahasa Arab dan Studi Islam di Ma’had Sa’ad bin Abi Waqqash Universitas Muhammadiyah Palembang. Dua tahun kemudian, ia dipercaya menjadi Direktur Ma’had.

Di lingkungan pendidikan, tantangannya bukan hanya menyampaikan materi. Seorang pendidik juga dituntut membentuk karakter, membangun tradisi keilmuan dan mempersiapkan generasi agar mampu menghadapi perubahan zaman. Zainuddin juga tercatat sebagai Dosen Tetap Komunikasi dan Penyiaran Islam pada Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Palembang.

Pilihan bidang tersebut memperlihatkan pentingnya komunikasi dalam kehidupan dakwah. Ilmu agama membutuhkan cara penyampaian yang tepat agar dapat dipahami masyarakat, khususnya generasi muda yang hidup di tengah perubahan teknologi dan budaya komunikasi.

Dari Ruang Kelas ke Tanah Suci

Pengalaman Zainuddin Nawi tidak hanya terbentuk di ruang akademik. Ia juga memiliki pengalaman panjang dalam pelayanan dan pembinaan jamaah haji dan umrah. Sejak 2006 di Arab Saudi, ia telah terlibat dalam berbagai aktivitas yang berkaitan dengan pelayanan jamaah.

Ia kemudian dipercaya sebagai Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi sektor Makkah. Pengalaman itu semakin diperkuat dengan keterlibatannya sebagai Pembimbing Ibadah KBIHU Muhammadiyah. Ia juga memiliki sertifikasi Pembimbing Manasik Haji Profesional dari Kementerian Agama Republik Indonesia.

Mendampingi jamaah bukan pekerjaan sederhana. Jamaah datang dengan latar belakang usia, pendidikan, pengalaman beribadah dan kondisi sosial yang beragam. Mereka membutuhkan pengetahuan manasik, tetapi juga membutuhkan pendamping yang memahami kondisi psikologis dan sosial selama berada di Tanah Suci.

Pengalaman lapangan semacam itu memberikan perspektif berbeda bagi seorang akademisi dan dai. Ilmu tidak berhenti pada teori, tetapi berhadapan dengan manusia dan persoalan nyata.

Dakwah yang Bersentuhan dengan Masyarakat. Kiprah keumatan Zainuddin juga terlihat dari keterlibatannya dalam berbagai organisasi dan kegiatan sosial-keagamaan.

Di DPW Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sumatera Selatan, ia dipercaya dalam bidang pendidikan dan pembinaan mualaf.

Baca Juga  Biografi Sahilin Dibedah di Palembang: Dari Pengakuan Maestro hingga Jejak Musik ke Dunia Internasional

Pembinaan mualaf membutuhkan pendekatan yang tidak hanya bersifat ceramah. Ada proses pendampingan, pembelajaran, penguatan keyakinan, hingga membantu seseorang menemukan lingkungan sosial yang mendukung perjalanan keislamannya. Ia juga terlibat dalam pembinaan Yayasan Muslim Asia (AMCF), kegiatan kepemudaan, takmir masjid serta Jalinan Alumni Timur Tengah (JATTI) Sumatera Selatan.

Berbagai aktivitas tersebut mempertemukan dirinya dengan kelompok masyarakat yang beragam. Dari dunia pendidikan hingga masjid, dari jamaah haji hingga pembinaan mualaf, seluruhnya memberikan pengalaman tentang wajah umat yang sesungguhnya.

Amanah Baru di MUI Sumatera Selatan

Kini, perjalanan itu memasuki babak baru melalui amanah di MUI Sumatera Selatan. MUI memiliki posisi penting sebagai wadah musyawarah para ulama, zuama dan cendekiawan Muslim. Perannya bukan hanya dalam persoalan fatwa keagamaan, tetapi juga membimbing, membina, mengayomi dan melayani umat.

Tantangan yang dihadapi umat hari ini pun semakin kompleks. Persoalan agama berkelindan dengan pendidikan, ekonomi, keluarga, perkembangan teknologi, perubahan sosial dan kehidupan generasi muda.

Karena itu, kehadiran ulama dan cendekiawan dituntut tidak hanya mampu berbicara mengenai norma, tetapi juga memahami persoalan yang dihadapi masyarakat. Pengalaman Zainuddin Nawi di bidang pendidikan, dakwah, pelayanan jamaah dan organisasi menjadi bagian dari bekal untuk menjalankan amanah tersebut.

Membawa Ilmu Menjadi Manfaat

Ada benang merah dari perjalanan panjangnya: pendidikan, dakwah dan pelayanan umat.

Makkah menjadi tempat kelahiran. Madinah menjadi salah satu ruang pembentukan tradisi keilmuan. Palembang kemudian menjadi tempat ilmu itu diterjemahkan dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Kini, ketika amanah di MUI Sumatera Selatan berada di pundaknya, ruang pengabdian tersebut semakin terbuka. Di tengah perubahan zaman, umat membutuhkan ilmu yang mencerahkan, dakwah yang menyejukkan, pendidikan yang mencerdaskan dan pelayanan yang menyentuh persoalan nyata masyarakat.

Pada akhirnya, perjalanan seseorang tidak hanya diukur dari gelar akademik atau jabatan yang pernah dipercayakan kepadanya. Yang lebih penting adalah bagaimana ilmu dan pengalaman tersebut memberi manfaat.

Begitulah jejak perjalanan Dr. H. Muhammad Zainuddin Nawi: dari Makkah, menimba ilmu di Madinah, kemudian berlabuh di Bumi Sriwijaya.

Sebuah perjalanan yang belum selesai. Sebab amanah keumatan tidak mengenal garis akhir. Selama masyarakat masih membutuhkan ilmu, bimbingan dan pelayanan, selama itu pula pengabdian menemukan jalannya.

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button