INTERNASIONAL

Presiden Prabowo Akan Kunjungi Rusia, Singgah di Singapura

Diplomasi Aktif dan Arah Baru Indonesia di Panggung Global

 BritaBrita.com JAKARTA, 15 Juni 2025 — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke Rusia pada 18–20 Juni 2025, sebagai bagian dari langkah strategis diplomasi aktif Indonesia dalam memperkuat posisi global. Kunjungan ini merupakan undangan langsung dari Presiden Federasi Rusia, Vladimir Putin, yang akan menerima Prabowo dalam agenda resmi kenegaraan di Moskow.

Namun sebelum menuju Rusia, Presiden Prabowo akan terlebih dahulu melakukan kunjungan kerja ke Singapura pada 16 Juni 2025, guna menghadiri Singapore-Indonesia Leaders’ Retreat dan bertemu dengan Perdana Menteri Lawrence Wong serta Presiden Tharman Shanmugaratnam.

“Setelah menyelesaikan agenda di Singapura, Presiden akan melanjutkan perjalanan menuju Rusia untuk memenuhi undangan Presiden Putin,” ujar Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam keterangan resminya pada Minggu, 15 Juni 2025.

Dalam pertemuan di Singapura, sejumlah isu penting akan dibahas, termasuk kerja sama pertahanan, ekonomi hijau, teknologi digital, dan konektivitas antarnegara. Pertemuan bilateral ini menegaskan kedekatan diplomatik Indonesia-Singapura di tengah upaya penguatan kawasan ASEAN.

Diplomasi Strategis, Bukan Seremonial

Kunjungan ke Rusia menjadi sorotan karena terjadi bersamaan dengan pertemuan negara-negara G7 di Kanada, yang juga mengundang Presiden Prabowo. Namun, pemerintah Indonesia menyatakan bahwa agenda ke Singapura dan Rusia telah dijadwalkan jauh hari sebelum undangan G7 diterima.

“Kita menghormati undangan dari Kanada, tetapi Presiden sudah memiliki komitmen terlebih dahulu. Ini adalah bentuk diplomasi konsisten dan komitmen pada mitra strategis,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Rolliansyah Soemirat.

Baca Juga  Di India, Jumpa Fans Lionel Messi Ricuh! Stadion Dirusak

Bertemu Putin, Berpidato di Forum Ekonomi Dunia

Setibanya di Rusia, Presiden Prabowo akan mendapat sambutan resmi kenegaraan, dilanjutkan pertemuan bilateral dengan Presiden Putin pada 19 Juni 2025. Sejumlah nota kesepahaman (MoU) diperkirakan akan diteken, termasuk di sektor transportasi, teknologi, energi, pendidikan, dan pembangunan kapal.

Agenda penting lainnya adalah kehadiran Presiden Prabowo sebagai pembicara utama dalam St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2025 pada 20 Juni 2025, forum ekonomi kelas dunia yang mempertemukan para pemimpin global, CEO perusahaan besar, dan pakar ekonomi.

“Kehadiran Presiden dalam SPIEF menunjukkan bahwa Indonesia kini diperhitungkan dalam peta kekuatan ekonomi dan geopolitik global,” kata Teddy.

Memperkuat Poros Kerja Sama BRICS

Indonesia kini resmi bergabung dengan BRICS—kelompok ekonomi negara berkembang yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan. Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia intens memperluas kerja sama dengan anggota BRICS, termasuk membangun kemitraan pertahanan dengan Rusia.

Dalam kunjungan ini, penguatan kerja sama strategis, termasuk transfer teknologi dan rencana pembangunan stasiun pemantauan satelit di Biak yang bekerja sama dengan Roscosmos, menjadi isu utama. Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa kerja sama tersebut murni bersifat sipil dan untuk kepentingan eksplorasi antariksa, meskipun pengamat internasional menganggap proyek ini memiliki dimensi geopolitik.

Baca Juga  Presiden Prabowo Subianto Dinilai Berhasil Tingkatkan Swasembada Pangan

Pandangan Internasional dan Fokus Indonesia

Beberapa pihak dari negara Barat memandang kunjungan ini sebagai isyarat Indonesia lebih condong ke poros Timur. Namun, Presiden Prabowo sejak awal menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia tetap berpijak pada prinsip “bebas dan aktif”, dengan menjalin kerja sama secara seimbang baik dengan negara-negara Barat maupun Timur.

“Kami tidak memilih blok. Kami memilih kepentingan rakyat,” ujar Presiden Prabowo dalam wawancara terdahulu.

Menegaskan Komitmen Global Indonesia

Kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia bukan hanya bentuk respons terhadap undangan diplomatik, tetapi juga sinyal bahwa Indonesia siap memainkan peran lebih besar dalam percaturan dunia, baik dalam isu ekonomi, pertahanan, energi, hingga transformasi digital.

Sejumlah pengamat menyebut langkah ini sebagai bentuk nyata “diplomasi aktif dan berdaulat” yang mengedepankan kepentingan nasional tanpa larut dalam tarik-menarik kepentingan negara adidaya.

“Di tengah ketegangan global, Indonesia menunjukkan arah diplomasi yang mandiri. Kita membuka pintu ke semua negara, tapi tetap mengedepankan kepentingan bangsa dan kawasan,” ujar pengamat hubungan internasional dari UI, Dr. Ratna M. Soekmono.

Editor: Bangun Lubis/ Redaksi BritaBrita
Penulis: Tim Laporan Khusus Internasional
Tanggal: 16 Juni 2025

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button