KALAM

Kematian Adalah Nasihat

Oleh: Bangun Lubis

“Kematian adalah nasihat.”
Demikian ungkapan yang sering disampaikan oleh Ustadz Umar Said. Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung makna yang sangat dalam. Sebab sesungguhnya, tidak ada nasihat yang lebih kuat bagi manusia selain mengingat kematian.

Ketika seseorang berdiri di depan sebuah kubur, tiba-tiba hatinya menjadi lebih lembut. Kesombongan terasa runtuh. Ambisi dunia terasa kecil. Segala yang selama ini diperebutkan terasa tidak berarti. Kubur itu seperti berkata tanpa suara: “Suatu hari, engkau pun akan datang ke sini.”

Itulah sebabnya mengapa dalam Islam, mengingat kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan sebuah cara untuk membersihkan hati.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”
(QS. Ali Imran: 185)

Ayat ini sangat singkat, tetapi tegas. Tidak ada manusia yang bisa menghindarinya. Tidak peduli seberapa kaya seseorang, seberapa kuat, atau seberapa tinggi jabatannya. Semua akan menuju satu titik yang sama: kematian.

Karena itu, kematian sebenarnya adalah guru kehidupan. Ia mengajarkan manusia untuk menata hati, memperbaiki diri, dan menyadari bahwa hidup di dunia ini hanyalah perjalanan singkat.

Rasulullah ﷺ bahkan pernah memberikan nasihat yang sangat kuat kepada para sahabatnya. Beliau bersabda:

Baca Juga  Peliharalah Etika dan Adabmu — Cermin Iman yang Sebenarnya

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.”
(HR. Tirmidzi)

Mengapa Rasulullah menganjurkan kita sering mengingat kematian?

Karena manusia mudah terlena oleh dunia. Harta membuat orang lupa diri. Jabatan membuat orang merasa tinggi. Popularitas membuat orang merasa penting. Padahal semua itu hanya sementara.

Begitu kematian datang, semua itu selesai.

Tidak ada lagi gelar.
Tidak ada lagi jabatan.
Tidak ada lagi kekayaan.

Yang tersisa hanyalah amal.

Dalam banyak kisah ulama, disebutkan bahwa orang-orang saleh justru menjadikan kematian sebagai pengingat yang menenangkan hati. Mereka tidak menunggu tua untuk memperbaiki diri. Mereka tidak menunggu sakit untuk bertobat.

Sebab mereka tahu, kematian tidak pernah memberi jadwal.

Hari ini seseorang masih sehat dan tertawa bersama keluarganya. Besok bisa saja ia telah terbujur kaku. Hari ini seseorang masih merencanakan banyak hal. Besok bisa saja namanya telah disebut dalam doa orang-orang yang melayat.

Karena itu, para ulama sering mengatakan:
Orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian.

Imam Hasan Al-Bashri pernah berkata, “Tidaklah seseorang banyak mengingat kematian kecuali dunia akan terasa kecil di matanya.”

Ketika kematian sering diingat, manusia akan lebih mudah memaafkan orang lain. Ia tidak ingin membawa dendam sampai ke dalam kubur. Ia juga akan lebih ringan bersedekah, karena sadar bahwa harta tidak akan ikut bersamanya ke liang lahat.

Baca Juga  Kepercayaan Diri yang Bertumpu pada Tauhid

Kematian juga mengajarkan kita untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan dunia. Sebab semua yang ada di dunia ini memang sementara. Yang kekal hanyalah kehidupan di akhirat.

Maka benar apa yang dikatakan oleh Ustadz Umar Said: kematian adalah nasihat. Ia tidak berbicara dengan kata-kata, tetapi pesannya sangat jelas bagi siapa saja yang mau merenung.

Ketika kita melihat orang lain meninggal dunia, sebenarnya itu bukan hanya berita duka. Itu juga pesan dari Allah kepada kita: bahwa suatu hari, giliran kita pun akan tiba.

Karena itu, sebelum kematian benar-benar datang, masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri.

Masih ada waktu untuk bertobat.
Masih ada waktu untuk memperbanyak amal.
Masih ada waktu untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Sebab jika kematian telah tiba, maka semua kesempatan itu akan tertutup selamanya.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu mengambil nasihat dari kematian, sehingga hidup yang singkat ini menjadi jalan menuju kebahagiaan yang abadi di sisi Allah.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button