Oleh: Lailatul Bhadriyah (NPM: 2401110014)
Mahasiswi Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang
KENAIKAN nilai dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah belakangan ini bukan sekadar angka yang bergerak dinamis di layar berita televisi atau portal ekonomi. Bagi para ekonom, ini mungkin masalah makro. Namun, bagi para pedagang kecil dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pelemahan rupiah adalah hantaman nyata yang mengancam dapur mereka tetap mengepul.
Ketika rupiah terdepresiasi, misalnya hingga menembus level psikologis baru, biaya produksi otomatis membengkak. Dampak ini tidak hanya mencekik pedagang yang menjual barang impor secara langsung. Usaha lokal murni pun ikut menjerit.
Mengapa? Karena rantai pasok kita masih sangat bergantung pada aspek global. Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, sektor industri nasional bahkan masih mengimpor sekitar 50% hingga 70% bahan baku dan penolong. Akibatnya, harga kemasan plastik, biaya transportasi akibat fluktuasi harga energi dunia, hingga bahan pendukung operasional lainnya ikut merangkak naik. Modal kerja yang tadinya cukup, kini mendadak menciut.
Kondisi ini menjebak pedagang kecil dalam dilema buah simalakama. Jika menaikkan harga jual, mereka dihantui risiko ditinggal pelanggan yang sensitif terhadap harga. Namun, jika bertahan dengan harga lama, margin keuntungan terkikis habis, membuat mereka bekerja dua kali lebih keras hanya untuk sekadar bertahan hidup.
Selain meningkatkan biaya usaha, pelemahan rupiah juga berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Ketika harga kebutuhan pokok meningkat, masyarakat akan lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Prioritas pengeluaran lebih difokuskan pada kebutuhan utama, sementara pembelian barang atau jasa di luar kebutuhan pokok mulai dikurangi. Kondisi ini menyebabkan jumlah transaksi yang diterima pedagang menurun dan berdampak pada omzet penjualan.
Bagi pelaku UMKM, situasi tersebut menjadi tantangan yang cukup berat. Mereka tidak hanya harus menghadapi kenaikan modal usaha, tetapi juga penurunan jumlah pembeli. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat perkembangan usaha, mengurangi kemampuan untuk menambah tenaga kerja, bahkan berpotensi menyebabkan sebagian usaha mengalami kesulitan untuk bertahan. Padahal, UMKM merupakan salah satu sektor yang memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia karena mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan menjadi penggerak ekonomi daerah.
Tidak dapat dipungkiri bahwa ketahanan UMKM sangat menentukan stabilitas ekonomi masyarakat. Ketika usaha kecil mengalami tekanan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pemilik usaha, tetapi juga oleh pekerja, pemasok, dan masyarakat yang bergantung pada aktivitas ekonomi tersebut. Oleh karena itu, perhatian terhadap kondisi UMKM menjadi hal yang sangat penting dalam menghadapi gejolak ekonomi global.
Menghadapi kondisi pelemahan rupiah, diperlukan upaya bersama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Pemerintah perlu menjaga stabilitas ekonomi melalui kebijakan yang mampu mengendalikan inflasi dan memperkuat nilai tukar rupiah. Selain itu, dukungan terhadap UMKM melalui akses permodalan, pelatihan usaha, serta kemudahan pembiayaan perlu terus ditingkatkan agar pelaku usaha memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi.
Di sisi lain, pelaku usaha juga perlu meningkatkan efisiensi dan kreativitas dalam menjalankan usahanya. Inovasi produk, pemanfaatan teknologi digital, serta strategi pemasaran yang tepat dapat menjadi langkah untuk mempertahankan daya saing di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Sementara itu, masyarakat juga dapat berkontribusi dengan mendukung produk dan usaha lokal sebagai bentuk dukungan terhadap perekonomian daerah.
Pada akhirnya, naiknya dolar dan melemahnya rupiah bukan hanya persoalan kurs mata uang, melainkan persoalan yang menyentuh kehidupan banyak orang. Di balik perubahan angka tersebut terdapat para pedagang kecil yang harus berjuang menghadapi kenaikan biaya usaha dan menurunnya daya beli masyarakat. Menjaga stabilitas ekonomi berarti juga menjaga keberlangsungan usaha kecil yang selama ini menjadi salah satu fondasi penting perekonomian Indonesia.
Menyelamatkan rupiah memang tugas Bank Indonesia, namun menjaga warung-warung kecil tetap bernapas adalah tugas kita bersama. Di tengah himpitan ekonomi global, setiap rupiah yang kita belanjakan di lapak pedagang lokal adalah jaring pengaman sosial yang nyata. Sebab, ketahanan ekonomi bangsa ini tidak diukur dari megahnya gedung pencakar langit di ibu kota, melainkan dari tetap menyalanya kompor di dapur-dapur usaha mikro. *



