KALAM

Mereka yang Memilih Jalan Sunyi — Kisah-Kisah Zuhud dari Masa Lalu

 

Mereka yang Memilih Jalan Sunyi — Kisah-Kisah Zuhud dari Masa Lalu

Dalam gemerlap dunia yang menipu, ada jiwa-jiwa yang memilih untuk tidak larut. Mereka tidak membenci dunia, tapi menempatkannya di tempat yang semestinya: di tangan, bukan di hati. Mereka adalah para pecinta Allah, para ahli zuhud. Jalan yang sunyi, tapi penuh cahaya.*

Ibrahim bin Adham: Dari Singgasana ke Kesunyian

Ia dilahirkan dalam kemewahan, dibesarkan di istana Balkh. Tapi suatu malam, Ibrahim bin Adham mendengar suara dari atap istananya:

“Wahai Ibrahim, apakah engkau mengira akan menemukan Allah di atas ranjang empuk dan tirai sutra?”

Hatinya terguncang. Keesokan harinya, ia tinggalkan istana, tahta, dan segala yang dicintai manusia. Ia menyusuri jalanan, hidup dari hasil kerja keras, dan memaknai hidup dalam sepi yang damai.

Ketika ditanya kenapa ia tinggalkan segalanya, ia menjawab:

“Karena aku mencium bau surga dari luar istana.”

Di padang-padang sunyi ia bersujud, bukan untuk dunia, tapi untuk Dzat yang menciptakan dunia.

Rabi’ah Al-Adawiyah: Cinta yang Tak Membutuhkan Imbalan

Ia tidak memiliki apa-apa, kecuali sehelai pakaian dan tikar lusuh. Tapi hatinya penuh cinta kepada Allah. Ia pernah berjalan di kota Basrah dengan membawa obor di satu tangan dan air di tangan lain. Orang-orang bertanya, “Untuk apa ini, wahai Rabi’ah?”

Baca Juga  Demi Cintaku Pada-Mu, Ke Mana Pun Engkau Kubawa: Makna Cinta Sejati dalam Islam

Ia menjawab:

“Akan kubakar surga dan kupadamkan neraka, agar manusia mencintai Allah bukan karena balasan, tapi karena cinta sejati.”

Dalam malam-malam sunyi, ia bermunajat:

“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di neraka. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, jauhkan aku darinya. Tapi jika aku menyembah-Mu karena cinta kepada-Mu, maka jangan Kau palingkan wajah-Mu dariku.”*

Al-Hasan Al-Bashri: Ulama yang Menangisi Dunia

Ia bisa hidup mewah, dihormati penguasa, diundang ke istana. Tapi ia memilih rumah kecil, pakaian kasar, dan makanan sederhana. Ia menangis jika melihat orang tertawa berlebihan, lalu berkata:

“Wahai manusia, dunia ini seperti ular: halus kulitnya, mematikan racunnya. Jangan kalian tertipu olehnya.”

Ketika seseorang memujinya karena kezuhudannya, ia menjawab:

“Aku tidak meninggalkan dunia, tapi dunia yang lari dariku. Aku hanya mengejar apa yang kekal.”

Malik bin Dinar: Dari Maksiat ke Mahabbatullah

Ia adalah pecandu dunia. Minuman keras dan kelalaian pernah menguasai hidupnya. Hingga anaknya yang kecil meninggal dunia. Dalam tangis dan keputusasaan, ia bermimpi anaknya mencegahnya jatuh ke dalam neraka.

Anaknya berkata dalam mimpi:

“Wahai Ayahku, sampai kapan engkau jauh dari Allah? Kami menunggumu di surga…”

Sejak itu ia berubah. Ia menjadi ahli ibadah, pengingat umat, dan ahli zuhud yang khusyuk. Ia pernah berkata:

Baca Juga  Jalankan Sunah Nabi Muhammad, Warga Gemar Santuni Anak Yatim Tiap Bulan di Masjid Istighfar

*“Hati yang terpaut pada dunia akan kering dari zikir. Tapi hati yang terpaut pada akhirat, akan basah oleh cinta.”*

Sufyan Ats-Tsauri: Ilmu dan Zuhud yang Berjalan Bersama

Ia adalah lautan ilmu, ditakuti penguasa karena ketegasannya. Tapi rumahnya tak lebih dari gubuk biasa. Ketika khalifah menawarkan jabatan dan harta, ia menolak dengan tegas.

“Aku takut lebih mencintai dunia daripada takut kepada Allah,” ujarnya.

Ia menasihati muridnya:

” Dunia ini seperti bayangan. Jika engkau kejar, ia menjauh. Tapi jika engkau berpaling darinya, ia akan mengikutimu.”

Akhirnya, Zuhud Bukan Meninggalkan Dunia — Tapi Mengosongkan Hati dari Dunia

Zuhud bukan hidup miskin, bukan pula menjauh dari manusia. Ia adalah posisi hati. Hati yang tidak terpikat dunia walau tangan menggenggamnya. Mereka tetap bekerja, tetap menolong sesama, tapi hati mereka hanya satu: untuk Allah.

“Bukanlah kekayaan itu banyaknya harta, tapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan mereka — orang-orang zuhud masa lalu — telah membuktikan bahwa ketenangan bukan terletak pada apa yang dimiliki, tapi pada siapa yang dicintai. Dan mereka mencintai Allah… sepenuhnya.

Ditulis oleh: Bangun Lubis

( Dari Berbagai Sumber )

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button