Bagaimana Kita Bisa Mengharap Kebaikan Allah, Jika Enggan Memberi Kebaikan pada Sesama?

MANUSIA sering kali berharap limpahan rahmat, rezeki, dan kebaikan dari Allah Ta’ala. Kita berdoa agar urusan dimudahkan, hati ditenangkan, dan kehidupan diberkahi.
Namun pertanyaan besar yang perlu kita renungkan adalah: apakah pantas kita meminta kebaikan dari Allah, sementara kita sendiri begitu enggan menebar kebaikan kepada orang lain?
Kebaikan Allah Hanya Layak untuk Mereka yang Berbuat Baik
Allah Ta’ala berfirman: *هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).”(QS. Ar-Rahman: 60)
Ayat ini menegaskan hukum timbal balik. Orang yang berbuat baik akan merasakan balasan baik dari Allah, baik di dunia maupun akhirat. Maka mustahil seseorang menutup diri dari berbuat baik, lalu tetap berharap mendapat limpahan kebaikan dari Allah.
Allah Mencintai Orang yang Memberi
Dalam sebuah hadis qudsi, Rasulullah ﷺ meriwayatkan bahwa Allah berfirman:
“Wahai anak Adam, infakkanlah (hartamu), niscaya Aku akan menginfakkan (memberi) kepadamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa siapa yang memberi, Allah akan memberinya lebih banyak. Tetapi sebaliknya, siapa yang menahan, akan ditahan pula pintu-pintu kebaikan untuknya.
Tanda Iman adalah Menebar Kebaikan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjelaskan bahwa kebaikan bukan sekadar pilihan, melainkan syarat kesempurnaan iman. Bagaimana mungkin kita ingin Allah memberi ketenangan, rezeki, dan keberkahan, sementara kita tidak peduli dengan kebutuhan, rasa sakit, dan kesusahan orang lain?
Kebaikan adalah Jalan Balasan
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Balasan Allah kepada hamba-Nya itu sejenis dengan amalannya. Barang siapa yang berbuat baik, Allah akan berbuat baik kepadanya. Barang siapa yang memberi, Allah akan memberi kepadanya. Barang siapa yang menutup mata dari orang lain, Allah akan menutup darinya pintu kebaikan.”*
Begitu pula Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, menjelaskan bahwa *kebaikan yang dilakukan manusia akan kembali kepada dirinya sendiri, meski tampaknya ia sedang memberi kepada orang lain.* Artinya, ketika kita menebar kebaikan, sejatinya kita sedang menabur benih yang kelak akan Allah tumbuhkan untuk diri kita sendiri. Refleksi Kehidupan: Jangan Menunggu, Mulailah Memberi
Banyak orang berdoa minta rezeki lapang, tetapi ia menutup mata dari tetangga yang lapar. Banyak orang berdoa agar keluarganya diberi ketenangan, tetapi ia membiarkan orang lain hidup dalam keresahan tanpa ada secuil uluran tangan.
Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Thabrani)
Kebaikan Allah tidak datang begitu saja tanpa syarat. Ia datang ketika kita belajar menebar kebaikan pada sesama. Sebab Allah Maha Adil; bagaimana mungkin kita hanya ingin menerima, tapi tak mau memberi?
Maka, mari kita mulai dari yang kecil: sebuah senyuman, sebuah uluran tangan, sebait doa, atau sepotong rezeki yang kita sisihkan. Sebab siapa yang menanam kebaikan, ia pasti akan menuai kebaikan dari Allah.
“Barang siapa yang memberi kemudahan kepada orang lain, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)
Penulis : Bangun Lubis



