Palembang Darussalam: Jejak Ulama dan Budaya Islam di Tanah Musi (Bagian IX)
Ulama, Sekolah Islam, dan Dakwah Lintas Etnis di Tanah Musi

Penulis: Bangun Lubis – Wartawan Muslim
Melanjutkan bagian sebelumnya yang menelusuri perjalanan dakwah Islam di Palembang, bagian ini mengajak kita menyelami peran ulama dalam membangun sistem pendidikan Islam, serta jejak penyebaran Islam lintas etnis yang damai dan penuh kearifan.
Dari surau di tepian Musi hingga masjid bergaya Tionghoa, semua menyimpan kisah tentang kedalaman iman dan keluhuran budaya.
Palembang tidak hanya dikenal sebagai kota tua di tepi Sungai Musi, tetapi juga sebagai pusat peradaban Islam di Sumatera bagian selatan.
Julukan Darussalam bukanlah sekadar kebanggaan sejarah, melainkan cermin dari kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai ilmu dan dakwah. Dari tepi sungai hingga lorong-lorong pasar, dari istana kesultanan hingga surau kecil di kampung, cahaya Islam menembus segala lapisan kehidupan.

Peran Ulama dalam Pendidikan Islam Awal
Ketika Kesultanan Palembang Darussalam berdiri pada abad ke-17, para ulama menjadi penopang utama sistem pendidikan dan dakwah Islam. Nama-nama seperti Syekh Abdus Samad al-Palimbani, Kiai Masagus Ahmad Syakur, dan Syekh Muhammad Azhari mewarnai sejarah panjang keilmuan di tanah Musi.
Syekh Abdus Samad, misalnya, tidak hanya dikenal di Palembang, tapi juga di dunia Melayu dan Timur Tengah. Ia menulis karya monumental Hidayatus Salikin dan Siyarus Salikin, yang menjadi pedoman tasawuf bagi umat Islam di Nusantara. Melalui tulisan dan dakwahnya, lahirlah tradisi keilmuan yang menggabungkan ilmu syariah, akhlak, dan kebijaksanaan lokal.
Sistem pendidikan Islam di masa itu tumbuh dari **masjid, langgar, dan rumah para ulama**. Murid-murid belajar membaca Al-Qur’an, menghafal hadis, memahami fikih, hingga mendalami tauhid. Lambat laun, sistem ini berkembang menjadi pondok dan madrasah tradisional, yang kemudian melahirkan generasi cendekiawan muslim di Palembang dan sekitarnya.
Madrasah dan Sekolah Islam: Lembaga Penjaga Akidah
Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, sistem pendidikan Islam di Palembang mulai mengalami pembaruan. Lahir berbagai madrasah seperti Madrasah Islamiyah, Al-Islamiyah, dan Diniyah, yang menjadi tonggak awal pendidikan formal berbasis Islam.

Para ulama tidak hanya mengajar ilmu agama, tetapi juga ilmu umum, dengan semangat “memadukan iman dan pengetahuan.”
Dari sinilah muncul generasi muda yang cerdas, berjiwa dakwah, dan berpengaruh di masyarakat. Mereka menjadi guru, pedagang, bahkan pemimpin rakyat — yang tetap berpijak pada nilai Islam.
Dakwah Lintas Etnis: Islam dan Komunitas Tionghoa Palembang
Salah satu keindahan sejarah Islam di Palembang adalah kemampuannya merangkul berbagai etnis.
Di antara yang menarik adalah masuknya **komunitas Tionghoa ke dalam Islam** sejak masa kesultanan. Proses ini berlangsung secara damai dan persuasif — melalui interaksi dagang, pernikahan, dan keteladanan moral para ulama.
Sebagian warga Tionghoa Palembang yang memeluk Islam dikenal hidup sederhana, bersahaja, dan aktif berdakwah. Di antara simbol keharmonisan itu kini berdiri Masjid Cheng Ho Palembang, yang bukan hanya bangunan megah, tetapi juga lambang persaudaraan lintas budaya.
Masjid bergaya arsitektur Tionghoa ini mengingatkan kita bahwa Islam datang untuk menyatukan, bukan memisahkan. Firman Allah SWT:
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal…” (QS. Al-Hujurāt [49]: 13)
Ayat ini bukan sekadar slogan, melainkan realitas yang telah lama hidup di Palembang. Di kota ini, Islam tumbuh dalam suasana damai — di tengah keragaman etnis Arab, Melayu, Jawa, dan Tionghoa.

Warisan yang Tak Boleh Pudar
Kini, setelah berabad-abad berlalu, jejak para ulama dan semangat dakwah mereka masih terasa.
Masjid, madrasah, dan pesantren di Palembang bukan hanya tempat belajar, tetapi juga rumah nilai dan akhlak.
Mereka yang menimba ilmu di sana sedang melanjutkan rantai panjang perjuangan ulama terdahulu.
Palembang Darussalam mengajarkan bahwa ilmu, iman, dan persaudaraan lintas etnis adalah fondasi peradaban Islam yang sejati.
Di tengah arus modernisasi, semangat itu harus dijaga — agar cahaya Islam tetap menyala di tanah Musi, menyinari hati setiap insan yang haus akan kebenaran.



