SEJARAH-BUDAYA

Palembang Darussalam: Masjid-Masjid Tua Palembang — Jejak Peradaban dan Pusat Dakwah Islam (Bagian X)

Oleh: Bangun Lubis – Wartawan Muslim

 

Tak ada yang lebih kuat menandai kehadiran Islam dalam sebuah peradaban selain masjid. Di Palembang, masjid bukan hanya tempat sujud, tapi **jantung kehidupan umat**, tempat ilmu, dakwah, dan musyawarah berpadu dalam harmoni. Dari sinilah denyut peradaban Islam di Tanah Musi berawal — sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam.

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin — Simbol Keagungan Darussalam

Berdiri megah di pusat kota, Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo bukan sekadar bangunan tua, tapi saksi bisu perjalanan iman dan sejarah. Dibangun pada abad ke-18 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I (1724–1758), masjid ini memadukan arsitektur Melayu, Cina, dan Eropa, mencerminkan keterbukaan dan kematangan budaya Islam Palembang kala itu.

Atap limasnya menjulang seperti tangan yang berdoa, sementara menaranya dahulu digunakan sebagai menara pengintai dan tempat azan menggema ke seluruh penjuru kota. Di halaman masjid inilah, para ulama dan muridnya berdiskusi tentang tafsir, fiqih, dan tasawuf.

Masjid ini menjadi poros ruhani dan intelektual bagi masyarakat Palembang selama berabad-abad.

Masjid Ki Muara Ogan — Simbol Dakwah di Tepian Sungai

Baca Juga  Rumah Limas Terluas dan Tertua di Jalan Temon Palembang, Jejak Kemegahan Wong Kayo Lamo

Tidak jauh dari pusat kota, berdiri Masjid Ki Muara Ogan, masjid tua yang menjadi saksi dakwah Islam di tepi Sungai Musi. Masjid ini dibangun oleh seorang ulama sekaligus pejuang, Ki Muara Ogan, yang dikenal bijaksana dan kharismatik.

Masjid itu menjadi tempat masyarakat belajar mengaji, bermusyawarah, dan berzikir.

Dari tempat sederhana itu, Islam tumbuh bukan dengan paksaan, tapi dengan keteladanan.

Hingga kini, suasana damai di sekitar masjid masih terasa — seolah bayangan masa lalu masih menetes di setiap kayu tua yang berlumut.

Masjid Lawang Kidul — Saksi Zaman dan Arus Perdagangan

Di sisi lain Sungai Musi, berdiri Masjid Lawang Kidul, yang dulu ramai dikunjungi para pedagang Arab, Gujarat, dan Melayu. Masjid ini mencerminkan semangat perdagangan yang disinari iman — sebab di Palembang, ekonomi dan dakwah berjalan beriringan.

Di halaman masjid itu pula, para ulama berdialog dengan pedagang asing, menanamkan prinsip kejujuran dalam berdagang, sesuai sabda Rasulullah SAW:

>“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang shiddiq, dan para syuhada.”(HR. Tirmidzi)

Masjid Sebagai Pusat Kebudayaan

Di masa Kesultanan, masjid berfungsi lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia adalah **madrasah, balai musyawarah, dan tempat pengadilan syariat.** Dari masjid lahir kebijakan, ilmu, dan adab.

Baca Juga  Pembuktian " Formil " dan Pembuktian " Materil".

Masjid menjadi titik temu antara dunia ruhani dan dunia sosial.

Dalam sunyi malam, di masjid-masjid tua itu, para ulama bermunajat, sementara di siang hari mereka mendidik masyarakat agar berilmu dan berakhlak.

Masjid dalam pandangan Palembang lama adalah tanda hadirnya Allah dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, setiap kampung memiliki surau kecil — tempat anak-anak belajar mengaji, dan orang tua menata hati.

Menyambung Ruh Masjid

Kini, ketika banyak masjid megah berdiri, kita perlu bertanya: apakah ruhnya masih sama dengan masjid-masjid tua Palembang dahulu?

Apakah ia masih menjadi tempat ilmu, kasih sayang, dan zikir — atau hanya bangunan megah tanpa kehidupan ruhani?

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, menegakkan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut kepada siapa pun selain Allah.” (QS. At-Taubah [9]: 18)

Masjid-masjid tua Palembang mengajarkan kita bahwa kemegahan sejati bukan pada kubah dan marmernya, tetapi pada dzikir yang menggema di dalamnya.

Dari sanalah, cahaya Darussalam menyala — menembus masa, menembus hati.

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button