SEJARAH-BUDAYA

Misteri Bukit Seguntang: Dari Penyebutan Lisan hingga Jejak Spiritual Melayu Palembang

*Oleh: Bangun Lubis – Wartawan Muslim

Di antara hamparan dataran Palembang bagian barat, berdiri sebuah bukit rendah yang namanya telah melintas ratusan tahun ke belakang: Bukit Seguntang—yang oleh sebagian orang juga menyebutnya Bukit Siguntang.

Perbedaan penulisan dan penyebutan itu bukanlah hal baru. Dalam tradisi lisan masyarakat Melayu lama, perubahan fonetik adalah hal biasa: *e* dalam tulisan sering terdengar sebagai *i* dalam pengucapan. Maka, Seguntang yang baku dalam naskah Melayu kuno, berubah di lidah rakyat menjadi Siguntang.

Sebutan Seguntang sendiri diyakini merujuk pada arti “tinggi, menonjol, atau menjulang”, sesuai sifatnya sebagai bukit kecil yang dahulu terlihat jelas dari kejauhan sebelum Palembang menjadi kota padat seperti hari ini.

Kapan Bukit Seguntang Ditemukan Kembali?

Secara geografis, Bukit Seguntang bukanlah “ditemukan” pada tahun tertentu, sebab lokasi itu selalu dikenal oleh penduduk Palembang sejak masa kesultanan.

Namun penelitian arkeologis dan perhatian ilmiah padanya dimulai sekitar awal abad ke-20, terutama pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Penelitian penting dilakukan pada tahun 1920-an hingga 1930-an, ketika ditemukan:

  •  Fragmen arca Buddha setinggi ±2,77 meter,
  • Lingga–yoni,
  • Serta sejumlah pecahan batu dan struktur yang menandakan tempat itu pernah menjadi pusat kegiatan keagamaan Hindu-Buddha pada masa Sriwijaya.

Bukit Seguntang dalam Kisah Keagamaan Melayu

Baca Juga  Profesionalisme Pejabat Publik Dipertanyakan

Yang menarik, Bukit Seguntang tidak hanya hidup dalam sejarah arkeologi. Ia juga hadir sebagai narasi spiritual dalam naskah-naskah Melayu.

Dalam Sejarah Melayu atau Sulalatus Salatin, diceritakan bahwa:

* Dari Bukit Seguntang muncul tokoh-tokoh besar, seperti Sang Sapurba.

* Yang diyakini sebagai leluhur raja-raja Melayu, termasuk dari Palembang, Johor, Pahang, hingga Minangkabau.

Meski kisah ini bercampur antara legenda dan sejarah, ia menunjukkan bahwa daerah ini menjadi pusat identitas dan kebanggaan bangsa Melayu.

Lebih dalam, sebagian ulama Melayu menyebut bahwa munculnya para pemimpin dari bukit tersebut tidak terlepas dari keberkahan wilayah.

Dalam tradisi Nusantara-Islam, tempat-tempat tinggi kerap dikaitkan dengan **meditasi ( suluk dalam Islam), kontemplasi, dan pusat kekuasaan spiritual**—meski tetap harus dipahami sebagai bagian budaya, bukan akidah.

Jejak Sriwijaya dan Sentuhan Islam

Pada masa Sriwijaya (abad ke-7 hingga 13), Bukit Seguntang menjadi titik penting karena:  menjadi simbol kejayaan kerajaan maritim yang menguasai jalur perdagangan Asia Tenggara.

Namun menariknya, setelah Islam datang dan menyebar ke Palembang—terutama sejak abad ke-15—nama Bukit Seguntang tidak pernah hilang. Bahkan, masyarakat Muslim Palembang justru melihatnya sebagai pelajaran sejarah tentang kebesaran suatu negeri sebelum Islam, sebagaimana Al-Qur’an memerintahkan kita untuk mengambil ibrah dari peninggalan masa lalu.

Baca Juga  Palembang Darussalam: Jejak Ulama dan Budaya Islam di Tanah Musi (Bagian IX)

Allah SWT berfirman:

“Berjalanlah di bumi, lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang sebelum kamu..”(QS. Ar-Rum: 42)*

Ayat ini mengajarkan bahwa menelusuri jejak sejarah adalah bagian dari tadabbur—membaca tanda-tanda kekuasaan Allah dalam perjalanan suatu bsnsa.

Seguntang dalam Perspektif Muslim Hari Ini

Bagi umat Islam Palembang dan nusantara, Bukit Seguntang adalah:

  • 1. Situs sejarah yang mengingatkan kita pada kebesaran masa lalu,
  • 2. Saksi lahirnya peradaban Melayu,
  • 3. Tempat untuk merenung tentang perjalanan dakwah Islam,  yang akhirnya menggantikan sistem religius kerajaan sebelumnya.

Kita pun memahami bahwa Islam datang bukan untuk menghapus budaya, tetapi mensucikan dan menguatkannya. Dari peradaban Buddha Sriwijaya menuju Kesultanan Palembang Darussalam, semua adalah bagian dari alur takdir Allah dalam membentuk masyarakat Muslim hari ini.

Seguntang, Cermin Identitas Kita

Bukit Seguntang bukan sekadar bukit kecil di tengah kota. Ia adalah:

* Tonggak sejarah,

* Pangkal silsilah budaya,

* Dan cermin bagaimana Allah menakdirkan sebuah negeri melalui perjalanan panjang spiritual dan peradaban.

Dari penyebutan Seguntang hingga Siguntang, dari  dakwah Islam masa kesultanan, dari legenda Sang Sapurba hingga masyarakat Palembang modern—semuanya bersatu dalam satu nama yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Bukit Seguntang adalah ingatan.. Dan ingatan adalah bagian dari jatidiri.

*Dikutip: Berbagai Sumbet

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button