Menguak Jejak Kesultanan Lewat Naskah Kuno:
Peluncuran Buku Leni Mastuti dan Suara Sultan Palembang Meluruskan Sejarah

Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam, Minggu (16/11/2025) —
Di tengah dinding-dinding megah yang menyimpan gema peradaban tua, aula Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam tampak lebih hangat dari biasanya. Kursi-kursi tertata rapi, suara gamat lembut mengisi ruang, dan para tokoh budaya, akademisi, sejarawan, hingga pewaris adat tampak bercengkerama.
Semua hadir untuk satu peristiwa istimewa: Launching buku “Warisan Budaya Palembang: Sejarah Kesultanan Palembang dalam Naskah Kuno” karya Leni Mastuti, M.Hum, yang dibarengi workshop dan diskusi sejarah.
Acara ini menjadi semacam ruang kembali pulang—kepada identitas, kepada jejak peradaban, dan kepada sejarah yang selama ini sering diceritakan oleh pihak luar.
Jejak yang Hendak Diluruskan
Dalam suasana teduh itu, suara Sultan Palembang Darussalam, SMB IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja SH M.Kn, mengalun tegas namun penuh kelembutan budaya Melayu. Ia membuka mata hadirin pada satu persoalan besar: sejarah Palembang yang selama ini lebih banyak ditulis melalui kacamata kolonial.
“Catatan sejarah kita 70–80 persen masih bersumber dari tulisan kolonial. Karena itu, kita perlu mengembalikan identitas nasional dengan meluruskan narasi sejarah berdasarkan sudut pandang kita sendiri,” ujar Sultan.
Baginya, sejarah bukan sekadar rangkaian fakta, melainkan narasi. Dan narasi sering dimenangkan oleh pihak yang berkuasa. Dari panggung sejarah internasional hingga kisah-kisah lokal, Palembang kerap diletakkan dalam posisi inferior oleh catatan kolonial yang tidak netral.
Sultan menegaskan ulang fondasi sejarah Palembang:
prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuo, hingga catatan I-Tsing — semua mengarah pada Palembang sebagai pusat Sriwijaya.
“Penemuan prasasti-prasasti awal terjadi di Palembang. Itu harus menjadi dasar yang memperkuat narasi sejarah kita,” ujarnya.
Ia bahkan mengungkap tumbuhnya narasi-narasi keliru, seperti kisah penyerangan Banten atau konflik dengan Inggris yang digambarkan secara negatif oleh catatan kolonial.
“Sering kali narasi dibuat agar publik percaya bahwa Palembang yang bersalah. Padahal faktanya berbeda,” tegasnya.
Manuskrip Kuno: Kunci Identitas yang Tersembunyi
Di sisi lain, sejarawan Dr. Kemas Ar Panji SPd M.Si mengajak masyarakat kembali menghargai manuskrip kuno. Naskah-naskah itu, katanya, bukan hanya arsip, melainkan sumber primer yang bisa menuntun sejarah kembali ke jalur yang benar.
Ia mengapresiasi kerja keras Leni Mastuti dan menyerukan hal yang sama:
“Semakin banyak buku sejarah ditulis oleh kita sendiri, semakin sulit narasi sejarah Palembang dibelokkan.”
Perjalanan Menyusun Sejarah: Cerita dari Sang Penulis
Bagi Leni Mastuti, M.Hum, proses penyusunan buku ini bukan sekadar kerja ilmiah. Ia melewati perjalanan batin, sejarah, dan ketekunan luar biasa selama tiga bulan, dari Agustus hingga Oktober 2025.
Ia harus bergelut dengan aksara Jawi, aksara Melayu, hingga naskah yang robek dan memudar.
“Tantangan terberat adalah alih aksara. Banyak naskah rusak dan ditulis dengan aksara lama. Perlu ketelitian tinggi dan kemampuan membaca manuskrip,” ujarnya.
Tiga naskah utama menjadi fondasi bukunya. Tiap naskah punya cara bercerita sendiri, kadang berbeda, kadang berseberangan.
Kepada hadirin, Leni mengibaratkan pekerjaannya seperti menyatukan potongan puzzle sejarah.
“Tiap naskah punya detail berbeda. Tantangannya adalah menyatukan potongan-potongan itu menjadi alur sejarah yang akurat,” kata alumni Pascasarjana UIN Raden Fatah ini.
Namun bagi dirinya, manuskrip bukan sekadar teks.
“Naskah kuno adalah jendela memahami masa lalu. Di dalamnya ada nilai budaya, ilmu, dan identitas. Kalau kita tidak mempelajarinya, siapa lagi?”
Memanggil Generasi Baru Penjaga Sejarah
Lewat bukunya, Leni berharap generasi muda Palembang—yang kini hidup di tengah derasnya arus digital—tak melupakan akar sejarahnya.
“Pelestarian sejarah bukan hanya tugas akademisi, tetapi tugas bersama.”
Satu per satu peserta menerima buku yang dibagikan di penghujung acara. Beberapa membuka halaman pertama sambil tersenyum, seolah menemukan potongan sejarah yang selama ini tersembunyi. Di luar aula, bayang-bayang Istana Adat berdiri kokoh — mengawal perjalanan baru narasi sejarah Palembang.
Reportase: Dudy Oskandar
Editor: Bangun Lubis



