Ibu… Ibu di Mana?” — Ratapan dan Luka dari Banjir-Longsor Sumatra 2025

“Ibu… Ibu di Mana?” — Ratapan dan Luka dari Banjir-Longsor Sumatra 2025
Oleh: Bangun Lubis – Wartawan Muslim
Saat hujan reda dan air mulai surut, yang tertinggal bukan hanya genangan.
Yang tertinggal adalah tangisan — panggilan manusia yang kini hanya bisa menunggu doa.
> “Ibu… Ibu di mana…?”
> “Anakku… Nak…!”,
> “Bang… pulanglah…”
Panggilan-panggilan itu melayang di antara puing, lumpur, rumah roboh, jalan rusak — dan harapan yang terkubur.
Data Terakhir: Angka—Tapi Juga Nyawa & Kehidupan
Menurut rilis terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga 4 Desember 2025:
* Total 836 orang meninggal dunia akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi — Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).
* Ribuan lainnya hilang, luka, atau menjadi korban kerusakan: rumah hancur, desa lenyap, infrastruktur musnah — menjadikan bencana ini salah satu tragedi kemanusiaan terbesar di Sumatra tahun ini. ([Monitor Indonesia][1])
Korban bukan sekadar angka.
Mereka: ibu, ayah, anak, pasangan — manusia dengan mimpi dan masa depan yang tak pernah sempat tumbuh.
Kisah-kisah di Antara Puing: Tangisan yang Tak Tergantikan
Di antara reruntuhan rumah dan sisa perabot, hidup kisah nyata yang tak bisa dilupakan:
* Seorang anak kecil, mungkin belum genap 8 tahun, berdiri terpaku di tepi tanah longsor. Sendalnya di jalan. Tangannya menggenggam kain — sendal ibunya. Matanya kosong. Ia hanya bisa berkata:
“Ibu… aku di sini, Bu…”
Ibunya terkubur di bawah tanah. Tak ada pelukan. Tak ada jawaban. Hanya harapan yang terkubur bersama lumpur.
* Seorang ayah tua menggali dengan tangan berdarah — harap menemukan anaknya, meski peluang nyawa sudah tipis.
Ia tak berhenti, karena cinta ayah tak mengenal logika. Hingga ketika tubuh kecil itu ditemukan tanpa nyawa, ia memeluknya terlalu lama. Seolah berharap sebagian dari dirinya bisa mengembalikan kehidupan.
* Di posko pengungsian, seorang istri muda berdiri tiap petugas membuka kantong jenazah. Ia menatap lemas, bertanya:
> “Bang… itu kamu…?”
Wajah-wajah berbeda muncul, tapi tak ada yang miliknya. Foto pernikahan basah oleh hujan dan air mata. Cinta itu lenyap dalam sekejap — bersama gemuruh air dan tanah yang runtuh.
* Dan seorang ibu, menggendong kain gendongan kosong. Tangannya mengayun pelan, seperti membisik:
“Bobo, Nak… bobo…”
Padahal di dalam gendongan itu tak ada siapa-siapa. Hanya kekosongan. Doa yang terus dipanjat, berharap keajaiban — walau hanya debu dan sunyi yang kembali menjawab.
Bencana Bukan Sekadar Alam — Tapi Dampak dari Perusakan Lingkungan
Para pengamat lingkungan menyebut: bencana ini bukan semata hujan deras.
Ini buah dari kerusakan alam — deforestasi, izin tambang dan konversi lahan atas nama keuntungan.
Penebangan hutan, perusakan wilayah tangkapan air, hilangnya penyangga alami — membuat Sumatra makin rentan saat hujan datang.
Ketika hujan ekstrem turun, hutan yang sudah “miskin akar”, tanah yang kehilangan daya serap, sungai yang meluap — semuanya berubah jadi bom waktu.
Banjir dan longsor kali ini bukan kebetulan. Ini peringatan — keras, pedih, dan mematikan.
Ketika Tangisan Lebih Jujur daripada Statistik & Rapor Kebijakan
Di ruang konferensi pers, pejabat memaparkan statistik: korban, jumlah bantuan, alokasi dana, janji pemulihan.
Tapi di desa-desa yang hancur — tangisan itu lebih jujur:
Anak yang memanggil ibu.
Ibu yang mendekap gendongan kosong.
Ayah yang menggali tanah putus asa.
Istri yang terus mencari suami.
Statistik itu bisa memberi angka.
Tapi tangisan — mereka memberi rasa.
Dan rasa ini harus diingat. Karena manusia bukan cuma data. Mereka punya nama, wajah, dan cerita.
Seruan: Rekam Nama Mereka — Abadikan Luka & Suara Mereka
Kita tidak boleh biarkan nama-nama mereka hilang dalam puing.
Tulis. Dokumentasikan. Sebarkan.
Supaya ingatan kolektif ini tidak memudar — dan agar kemanusiaan kita tetap terjaga.
Setiap korban adalah:
* Seorang ibu yang tak bisa menimang bayinya lagi,
* Seorang ayah yang kehilangan anaknya,
* Seorang pasangan yang berpisah selamanya,
* Seorang warga yang kehilangan rumah, tanah, dan akar.
Luka mereka adalah cermin kita — pengingat agar manusia, lingkungan, dan keadilan hidup bersama.
Penutup: 836 Jiwa — Tapi Janji & Kebijakan yang Harus Segera Ditepati
Bencana ini tidak boleh berhenti di angka kematian dan nama di koran.
Tidak cukup dengan tenda, sembako, dan janji pemulihan.
Yang dibutuhkan adalah:
* Pembenahan lingkungan — penghentian perusakan alam, konservasi hutan, pencegahan eksploitasi
* Tanggung jawab nyata — restitusi, rumah layak, fasilitas publik, dukungan psikologis, masa depan bagi korban
* Kesadaran kolektif — bahwa alam adalah rumah kita bersama, bukan monumen eksploitasi
Kalau tidak, maka 836 jiwa hanyalah awal. Jeritan itu bisa terulang — dengan nama berbeda, wajah berbeda, tapi kesedihan yang sama.
Semoga kita tidak membiarkan suara mereka hilang di antara debu dan air yang surut.
Semoga kita belajar — dan menjaga.



